SEMARANG, KOMPAS.com - PT Bandeng Juwana meningkatkan produksi sebanyak dua kali lipat dan menambah 20 karyawan harian untuk menghadapi lonjakan permintaan menjelang Lebaran 2026.
Persiapan sempat terkendala pasokan bandeng mentah akibat cuaca buruk yang memicu gagal panen di sejumlah tambak.
Direktur PT Bandeng Juwana, Jason Nathaniel Kusmadi, mengatakan perusahaan sudah mulai menyiapkan stok sejak dua hingga tiga bulan terakhir untuk menyambut pemudik dan wisatawan saat Lebaran.
Baca juga: Stok Beras di Madura Aman Jelang Lebaran, Capai 4.000 Ton
Suasana pembeli di pusat toko oleh-oleh di Jalan Pandanaran Kota Semarang, Kamis (3/4/2025).“Kalau peningkatan produksi pasti ada. Kami sudah mulai menyetok dari dua sampai tiga bulan terakhir. Tapi musim Lebaran kali ini stok bandeng cukup sulit karena cuaca sering hujan, banyak tambak kebanjiran, jadi panennya tidak maksimal,” kata Jason ditemui di tokonya di Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Selasa (17/3/2026).
Dia menyebut kondisi banjir menyebabkan ikan lepas atau gagal panen sehingga pasokan bandeng mentah tidak sesuai target.
Biasanya, perusahaan bisa menerima 12 hingga 15 ton bandeng mentah per minggu, namun menjelang Lebaran tahun ini pasokan hanya sekitar setengahnya.
Padahal setelah proses pengolahan, berat bandeng masih menyusut sekitar 30 sampai 40 persen.
Baca juga: Tips Atur Keuangan Jelang Lebaran agar Tidak Boros ala Ekonom Unair
“Idealnya kami bisa terima 12 sampai 15 ton seminggu, tapi sekarang kadang hanya sekitar tujuh ton. Dan stok itu harus disiapkan untuk Lebaran, karena saat hari raya biasanya pemasok (bandeng mentah) juga libur,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi kekurangan stok saat Lebaran, perusahaan menyisihkan stok pengiriman beberapa minggu sebelumnya dan mengolah sebagian bandeng menjadi produk vakum yang bertahan hingga tiga sampai empat bulan.
Ilustrasi ikan bandeng. Selain meningkatkan produksi, PT Bandeng Juwana juga menambah sekitar 20 pekerja harian yang direkrut sementara selama dua minggu menjelang Lebaran.
“Karyawan harian biasanya kami rekrut lagi dari tahun-tahun sebelumnya, banyak juga mahasiswa yang sedang libur. Mereka membantu di produksi, packing, gudang, sampai di toko,” ujarnya.
Baca juga: Jaga Stabilitas Rupiah, BI Pantau Pasar Keuangan 24 Jam Selama Libur Nyepi dan Lebaran 2026
Jason menyebut lonjakan pembeli biasanya terjadi setelah Lebaran, tepatnya saat arus balik ketika pemudik membeli oleh-oleh sebelum kembali ke kota perantauan.
“Ramainya biasanya setelah Lebaran, mulai H+2 atau H+3. Orang yang pulang kampung datang ke sini beli oleh-oleh sebelum balik,” katanya.
Di samping bandeng, tokonya juga menjual berbagai produk konsinyasi seperti mochi, jenang, wingko, lumpia, tahu bakso, bakpia, dan camilan khas lainnya.
Meski stok tahun ini tidak sesuai target, pihaknya berharap pasokan masih cukup untuk memenuhi permintaan saat puncak Lebaran.
Baca juga: Tinggi Peminat, Kereta Ekonomi Kerakyatan Layani 7.951 Pelanggan di Awal Angkutan Lebaran
“Harapan kami stok tetap ada saat ramai nanti. Memang tahun ini agak mepet, tapi kami berusaha semaksimal mungkin supaya kebutuhan Lebaran tetap terpenuhi,” kata Jason.
Salah satu karyawan swasta asal Surabaya, Elisa, mengaku sengaja memborong oleh-oleh berupa bandeng dan wingko babat untuk mudik Lebaran ke kampung halaman.
“Mau mudik ke Surabaya jadi beli bandeng sama wingko babat buat oleh-oleh, karena keluarga suka bandeng juwana ini, jadi banyak titipan,” kata Elisa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang