Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Traffic Cone di Jalan Tol Bisa Bikin Highway Hypnosis, Apa Itu?

Kompas.com, 11 Maret 2026, 07:12 WIB
Gilang Satria,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Saat arus mudik Lebaran, pemerintah bersama kepolisian kerap menerapkan rekayasa lalu lintas berupa contraflow.

Pada jalur contraflow, biasanya dipasang traffic cone atau kerucut lalu lintas sebagai pembatas antara kendaraan dari dua arah yang berbeda.

Meski berfungsi sebagai pemisah jalur, deretan kun atau kerucut berwarna oranye tersebut ternyata bisa memicu risiko lain bagi pengemudi, terutama saat perjalanan jauh.

Baca juga: Mudik Jauh dengan Mobil Tua, Apa Saja yang Harus Dicek?

Founder Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, mengatakan pola visual yang berulang dari deretan traffic cone bisa menimbulkan ilusi bagi pengemudi yang sudah lelah.

Contra flow di ruas jalan tol Jakarta - Cikampek Km 57, Kamis (25/12/2025).KOMPAS.COM/FARIDA Contra flow di ruas jalan tol Jakarta - Cikampek Km 57, Kamis (25/12/2025).

Safety cone yang dipasang sebagai pemisah jalur itu sifatnya statis. Dalam kondisi pengemudi yang sudah lelah, deretan kun tersebut justru bisa menimbulkan ilusi," kata Jusri kepada Kompas.com, Jumat pekan lalu.

"Ilusi ini bisa menyebabkan apa yang disebut highway hypnosis. Kondisi tersebut membuat pengemudi seperti terhipnotis atau terpaku saat melihat pola yang berulang di jalan," ujar Jusri.

Saat pengemudi melihat pola berulang terus-menerus, maka jika tidak siap akan kehilangan fokus.

Baca juga: Daftar 10 Merek Mobil Terlaris di Indonesia Februari 2026

"Akibatnya, pengemudi bisa kehilangan fokus tanpa disadari. Kondisi seperti ini tentu berbahaya karena dapat memengaruhi konsentrasi saat berkendara,” katanya.

Highway hypnosis?

Highway hypnosis  juga sering disebut white line fever, merupakan kondisi ketika pengemudi tetap mengendalikan kendaraan tetapi kesadarannya menurun karena otak bekerja secara otomatis.

Ilustrasi mengemudi.kompas.com Ilustrasi mengemudi.

Dalam kondisi ini, pengemudi masih memegang setir dan menjalankan kendaraan seperti biasa, tetapi tidak sepenuhnya sadar terhadap lingkungan di sekitarnya.

Baca juga: Blade Battery Gen 2 BYD: Isi Daya EV 10-70 Persen Hanya 5 Menit

 Beberapa tanda seseorang mengalami highway hypnosis antara lain tatapan yang kosong, respons yang lebih lambat terhadap situasi di jalan, hingga pikiran yang melayang saat berkendara.

Kondisi ini biasanya dipicu oleh perjalanan jarak jauh di jalan yang lurus dan monoton, seperti jalan tol.

Selain itu, kelelahan, kurang tidur, serta pola visual yang berulang misalnya garis marka jalan atau deretan pembatas juga dapat meningkatkan risiko terjadinya highway hypnosis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau