KOMPAS.com - Jika Anda mengikuti berita teknologi belakangan ini, narasinya hampir selalu sama dan mudah ditebak. Amerika Serikat sibuk menjegal ekspor chip, lalu China membalas dengan merilis model AI tandingan.
Banyak pengamat sibuk menebak siapa yang sedang "menang" dalam perlombaan kecerdasan buatan ini.
Isu paling krusial di era AI bukanlah siapa yang berhasil membuat model paling pintar. Pertanyaan sesungguhnya adalah apa yang ingin dicapai oleh sebuah masyarakat dengan kecerdasan tersebut.
Dalam hal ini, China tidak sekadar ikut-ikutan di lintasan yang dibuat oleh Barat. Mereka sedang membangun garis finisnya sendiri, seperti dirangkum KompasTekno dari Asia Times.
Di Silicon Valley, AI diperlakukan layaknya eksplorasi perbatasan baru (frontier). Ambisi terbesarnya adalah menciptakan General Intelligence yang bisa menyaingi atau bahkan melampaui kognitif manusia.
Pemerintah AS cenderung lepas tangan, membiarkan raksasa swasta memimpin inovasi dan berasumsi bahwa sektor ekonomi lain kelak akan beradaptasi dengan sendirinya.
Pertanyaan utama bagi China bukanlah seberapa pintar mesin bisa berpikir, melainkan bagaimana kecerdasan itu bisa dilebur dan ditanamkan ke dalam infrastruktur nasional.
Alih-alih berlomba menyuntikkan dana ke riset-riset "gila", China membalik logikanya. Sebelum AI bisa mengubah masyarakat, fondasinya harus dibangun lebih dulu.
Tidak heran jika uang triliunan rupiah digelontorkan untuk membangun pusat data super besar, membangun internet super cepat, hingga memperkuat jaringan listrik.
Ongkos membangun infrastruktur tersebut memang tak murah. Namun bayangkan keuntungannya nanti. Ketika fondasi kasar ini sudah mapan, langkah untuk menyuntikkan otak pintar AI ke sektor logistik, rumah sakit, bank, sampai tata kota jadi jauh lebih gampang dan murah.
Baca juga: 6 Teknologi AI China yang Tantang Dominasi AS
Untuk memahami jalan pikiran Beijing, kita mesti sedikit menengok ke belakang, tepatnya ke akar budaya mereka.
Ada dua filosofi kuno yang kental mewarnai cara mereka memandang teknologi masa depan, Konfusianisme dan Legalisme.
Ajaran Konfusius pada dasarnya mendambakan satu hal, yakni harmoni sosial. Semua orang punya porsi dan peran masing-masing.
Jadi, kehebatan AI di sana tidak diukur dari kemampuannya membebaskan berekspresi penggunanya. AI justru dinilai berharga kalau ia bisa meredam kekacauan dan menjaga tatanan masyarakat tetap rapi.
Nah, peran penegak aturannya diserahkan pada Legalisme. Prinsipnya simpel, tanpa aturan dan "tangan besi", sistem pasti bobrok.