Mengapa China Tak Terobsesi Bikin AI Paling Pintar?

Kompas.com, Diperbarui 31/03/2026, 08:44 WIB
Bill Clinten,
Reza Wahyudi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Jika Anda mengikuti berita teknologi belakangan ini, narasinya hampir selalu sama dan mudah ditebak. Amerika Serikat sibuk menjegal ekspor chip, lalu China membalas dengan merilis model AI tandingan.

Banyak pengamat sibuk menebak siapa yang sedang "menang" dalam perlombaan kecerdasan buatan ini.

Isu paling krusial di era AI bukanlah siapa yang berhasil membuat model paling pintar. Pertanyaan sesungguhnya adalah apa yang ingin dicapai oleh sebuah masyarakat dengan kecerdasan tersebut.

Dalam hal ini, China tidak sekadar ikut-ikutan di lintasan yang dibuat oleh Barat. Mereka sedang membangun garis finisnya sendiri, seperti dirangkum KompasTekno dari Asia Times.

Di Silicon Valley, AI diperlakukan layaknya eksplorasi perbatasan baru (frontier). Ambisi terbesarnya adalah menciptakan General Intelligence yang bisa menyaingi atau bahkan melampaui kognitif manusia.

Pemerintah AS cenderung lepas tangan, membiarkan raksasa swasta memimpin inovasi dan berasumsi bahwa sektor ekonomi lain kelak akan beradaptasi dengan sendirinya.

Pertanyaan utama bagi China bukanlah seberapa pintar mesin bisa berpikir, melainkan bagaimana kecerdasan itu bisa dilebur dan ditanamkan ke dalam infrastruktur nasional.

Alih-alih berlomba menyuntikkan dana ke riset-riset "gila", China membalik logikanya. Sebelum AI bisa mengubah masyarakat, fondasinya harus dibangun lebih dulu.

Tidak heran jika uang triliunan rupiah digelontorkan untuk membangun pusat data super besar, membangun internet super cepat, hingga memperkuat jaringan listrik.

Ongkos membangun infrastruktur tersebut memang tak murah. Namun bayangkan keuntungannya nanti. Ketika fondasi kasar ini sudah mapan, langkah untuk menyuntikkan otak pintar AI ke sektor logistik, rumah sakit, bank, sampai tata kota jadi jauh lebih gampang dan murah.

Baca juga: 6 Teknologi AI China yang Tantang Dominasi AS

Akar filosofi

Untuk memahami jalan pikiran Beijing, kita mesti sedikit menengok ke belakang, tepatnya ke akar budaya mereka.

Ada dua filosofi kuno yang kental mewarnai cara mereka memandang teknologi masa depan, Konfusianisme dan Legalisme.

Ajaran Konfusius pada dasarnya mendambakan satu hal, yakni harmoni sosial. Semua orang punya porsi dan peran masing-masing.

Jadi, kehebatan AI di sana tidak diukur dari kemampuannya membebaskan berekspresi penggunanya. AI justru dinilai berharga kalau ia bisa meredam kekacauan dan menjaga tatanan masyarakat tetap rapi.

Nah, peran penegak aturannya diserahkan pada Legalisme. Prinsipnya simpel, tanpa aturan dan "tangan besi", sistem pasti bobrok.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau