12 Tahun Kebal Hacker, Xbox One Dibobol dengan Teknik Baru

Kompas.com, Diperbarui 18/03/2026, 06:52 WIB
Bill Clinten,
Yudha Pratomo

Tim Redaksi

Sumber Kotaku

KOMPAS.com - Konsol game lawas Microsoft Xbox One dikenal sebagai perangkat yang kebal hacker. Perangkat keluaran tahun 2013 ini sulit diretas atau di-jailbreak.

Bahkan ketika kompetitornya yaitu PlayStation 4 (keluaran 2013) di-jailbreak oleh peretas, Xbox One tetap “aman” terhadap upaya serupa.

Nah, setelah 12 tahun sejak dirilis pertama kali, Xbox One kini dibobol. Aksi ini dipamerkan oleh peneliti keamanan bernama Markus “Doom” Gaasedelen dalam konferensi keamanan RE//verse 2026 di Florida, Amerika Serikat (AS) pekan lalu.

Supaya bisa membobol sistem Xbox One, Markus menggunakan teknik eksploitasi baru yang ia beri nama “Bliss”.

Baca juga: Microsoft Berhenti Bikin Game Baru untuk Xbox One

Secara sederhana, eksploitasi ini menggunakan modifikasi pada komponen hardware Xbox One agar sistem keamanannya dapat ditembus.

Metode ini tergolong lebih rumit dibanding peretasan konsol game PS4 yang biasanya hanya mengandalkan celah software.

Adapun modifikasi yang dilakukan Markus mencakup:

  • Menambahkan komponen pengendali (mikrokontroler) tambahan ke konsol
  • Menyolder perangkat tersebut ke motherboard Xbox One
  • Melepas beberapa komponen seperti kapasitor untuk mencapai tegangan tertentu

Setelah dimodifikasi, Markus kemudian dapat memperoleh akses ke sistem Xbox One dengan level rendah (low-level access).

Selain itu, ia juga dapat mendekripsi game Xbox One yang sebelumnya dilindungi oleh sistem enkripsi, sehingga game yang dibeli bisa disimpan atau diabadikan (preserve) dalam waktu lama.

Mengapa baru diretas sekarang?

XBox One 1 TB bakal hadir dalam waktu dekat iniMicrosoft XBox One 1 TB bakal hadir dalam waktu dekat ini

Salah satu alasan mengapa Xbox One baru berhasil diretas setelah 12 tahun diduga karena adanya fitur Developer Mode yang diperkenalkan Microsoft pada 2016.

Mode ini memungkinkan pengguna memasang aplikasi dan emulator secara resmi di konsol dengan berlangganan akses pengembang.

Karena sebagian besar pengguna yang melakukan jailbreak biasanya hanya ingin menjalankan emulator atau aplikasi tambahan, keberadaan Developer Mode diduga membuat minat untuk meretas Xbox One menjadi jauh berkurang.

Terlebih, proses jailbreak menggunakan metode Bliss ini melibatkan modifikasi hardware yang memerlukan upaya lebih.

Baca juga: Microsoft Akui Penjualan Xbox One Jauh di Bawah PlayStation 4

Eksploitasi lewat metode Bliss ini memungkinkan pengguna mendapatkan akses yang jauh lebih luas dibanding Developer Mode, termasuk kemampuan membuka enkripsi penuh pada game tadi.

Penting untuk dicatat, eksploit Bliss ini hanya bekerja pada model Xbox One generasi pertama.

Model yang lebih baru seperti Xbox One S dan Xbox One X tidak bisa diretas dengan metode tersebut.

Adapun Xbox One yang diretas menggunakan metode Bliss tidak dapat diperbaiki secara online karena melibatkan modifikasi hardware.

Artinya, celah tersebut tidak dapat diperbaiki oleh Microsoft melalui pembaruan firmware atau software sistem, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Kotaku.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau