KOMPAS.com - CEO Meta Mark Zuckerberg dilaporkan sedang mengembangkan agen AI (AI Agent) pribadi yang akan membantunya menjalankan perusahaan.
Alih-alih sekadar asisten digital biasa, AI ini disebut dirancang untuk mengambil peran layaknya “chief of staff”. Tugasnya membantu Zuckerberg mengakses informasi, menganalisis data, hingga mempercepat pengambilan keputusan.
Menurut laporan The Wall Street Journal, AI tersebut masih dalam tahap pengembangan, tetapi sudah mulai digunakan secara internal untuk mempercepat pencarian informasi.
Dengan sistem ini, bos Meta tidak lagi harus melalui banyak lapisan manajemen atau birokrasi untuk mendapatkan data yang dibutuhkan. Agen AI akan langsung mengambil dan menyajikan informasi secara instan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi induk Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Threads ini untuk meningkatkan efisiensi kerja di tengah organisasi yang besar, dengan jumlah karyawan diperkirakan mencapai hampir 79.000 orang secara global.
Meta sendiri memang sedang mendorong penggunaan teknologi AI berbasis agen di internal perusahaan.
Karyawan disebut sudah menggunakan berbagai tools, seperti MyClaw dan Second Brain untuk membantu pekerjaan sehari-hari, mulai dari mengakses dokumen hingga berkolaborasi dengan rekan kerja.
Harga saham perusahaan teknologi Meta Platforms dilaporkan anjlok sekitar 23 persen sejak mencapai puncaknya pada Agustus tahun lalu.Salah satu arah yang ditempuh adalah membuat struktur perusahaan lebih ramping, dengan mengurangi lapisan manajemen dan memberi lebih banyak peran pada individu, dibantu oleh sistem AI.
Baca juga: 10 Profesi Paling Rawan dan Aman dari Jajahan AI, Versi Anthropic
Dalam konteks ini, kehadiran AI “CEO” bisa dilihat sebagai upaya untuk memangkas birokrasi dan mempercepat alur kerja, terutama di level pengambilan keputusan.
Namun di sisi lain, langkah ini juga memunculkan pertanyaan baru soal masa depan pekerjaan, termasuk di level manajemen. Beberapa pengamat menilai AI kini tidak hanya mengancam pekerjaan entry-level, tetapi mulai merambah peran strategis seperti eksekutif.
Meski begitu, untuk saat ini AI tersebut masih berfungsi sebagai pendamping, bukan pengganti. Keputusan akhir tetap berada di tangan manusia, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Coin Telegraph dan Financial Express.
Langkah ini juga berjalan beriringan dengan efisiensi besar-besaran. Meta dilaporkan sedang mempertimbangkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga 20 persen atau lebih, seiring meningkatnya pengeluaran untuk infrastruktur AI.
Baca juga: Ini Bukti Video PM Israel Benjamin Netanyahu di Kedai Kopi adalah AI
Ilustrasi Moltbook.Langkah Zuck bukan suatu yang tiba-tiba. Dalam beberapa waktu terakhir, Meta memang gencar mengakuisisi perusahaan AI, salah satunya yang berkaitan langsung dengan AI Agent, yakni Moltbook.