Penulis
KOMPAS.com - Beberapa daerah di Jawa Tengah, seperti Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo, ternyata dulunya dilalui kereta api.
Jalur kereta api ini membentang dari Purwokerto. Namun, jalur ini dinonaktifkan pada tahun 1978.
Rencana reaktivasi jalur kereta api (KA) Purwokerto–Wonosobo pun kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Warganet di platform X ramai menyoroti potensi besar dari jalur sepanjang 92 kilometer itu, terutama untuk mendukung distribusi hasil pertanian, perkebunan, dan peternakan di wilayah Jawa Tengah bagian selatan.
Baca juga: 3 Karya Budaya Wonosobo Masuk Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025
Perbincangan ini mencuat setelah ramai pemberitaan tentang pembangunan jaringan KRL baru di Jawa Tengah yang akan melayani rute Semarang, Demak, hingga Pekalongan.
Salah satu pengguna akun X dengan nama @r*******n menulis, “Reaktivasi rel Purwokerto–Wonosobo penting juga, karena potensi gede untuk kiriman hasil pertanian, perkebunan, peternakan.”
Unggahan tersebut pun memicu banyak tanggapan dari pengguna lain yang menilai jalur-jalur lama di Jawa Tengah perlu dihidupkan kembali untuk memperkuat konektivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Menanggapi isu tersebut, Vice President Public Relations PT Kereta Api Indonesia (KAI) Anne Purba menjelaskan bahwa reaktivasi jalur Purwokerto–Wonosobo memang merupakan bagian dari program pengembangan perkeretaapian nasional yang saat ini tengah dikaji bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
“Dalam pengembangan perkeretaapian, baik perkotaan maupun antarkota, prosesnya selalu melalui kajian dan koordinasi dengan regulator, yaitu Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub,” ujar Anne saat dikonfirmasi, Jumat (31/10/2025).
Baca juga: Wonosobo Siap Pukau Jakarta Lewat Panggung Harmoni Budaya di TMII
Ia menambahkan, rencana tersebut sudah tercantum dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) 2030, yang mencakup berbagai kegiatan pengembangan seperti reaktivasi jalur nonaktif dan elektrifikasi jaringan di masa mendatang.
“Dalam rencana induk perkeretaapian yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan sampai 2030, memang ada kegiatan pengembangan, termasuk reaktivasi dan elektrifikasi. Beberapa jalur bisa dibuka terlebih dahulu dengan kereta nonlistrik, sambil menunggu kesiapan elektrifikasi,” jelas Anne.
Rencana reaktivasi jalur ini mendapat banyak dukungan dari berbagai kalangan. Pengamat transportasi Theresia Tarigan menilai proyek tersebut akan membawa manfaat besar, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga keselamatan transportasi.
“Dengan reaktivasi jalur kereta, akses logistik akan lebih mudah, dan penggunaan truk besar yang sering menyebabkan kecelakaan bisa ditekan,” ujar Theresia.
Ilustrasi Festival Balon WonosoboData Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Jawa Tengah mencatat, sepanjang 2023 terdapat lebih dari 9.400 pelanggaran truk ODOL (Over Dimension Over Load) di tujuh titik penimbangan kendaraan di provinsi tersebut.
Kehadiran jalur kereta diharapkan dapat mengalihkan sebagian beban distribusi barang dari jalur darat ke jalur rel, sekaligus mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas.