Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Unik Desa di Gunungkidul, Matahari Terbit Jam 8 Pagi, Tenggelam Jam 3 Sore

Kompas.com, 26 Februari 2026, 08:55 WIB
Ella Triana,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ingin berwisata ke tempat asri yang menenangkan? Yuk, coba nikmati wisata Yogyakarta yang menawarkan suasana desa unik. Ada sebuah dusun yang memiliki keunikan dengan pemandangan yang indah. Sebuah desa terpencil yang terletak di kelurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul.

Desa itu bernama Wotawati. Berjarak 74 kilometer dari pusat Yogyakarta, kawasan ini menjadi viral karena keistimewaannya. Dusun Wotawati ini terletak di sebuah lembah yang merupakan jejak dari aliran Sungai Bengawan Solo dengan fenomena matahari terbit yang lebih lambat dari daerah lainnya.

Sinar matahari baru benar-benar terbit dan menyinari dusun sekitar pukul 08.00 WIB dan tenggelam lebih awal yakni pukul 15.00 WIB. Menariknya, desa Wotawati ini juga memiliki gaya kolosal ala kerajaan Majapahit dan Mataram.

Menggabungkan pemandangan landscape tata desa di kawasan lembah yang asri dengan budaya masyarakatnya yang bermata pencaharian petani, membuat desa wisata Wotawati memiliki daya tarik pariwisata tersendiri.

Baca juga:

Letak geografis di Dusun Wotawati
Padukuhan Wotawati di Dasar Lembah Bengawan Solo Purba.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Padukuhan Wotawati di Dasar Lembah Bengawan Solo Purba.

Memiliki letak geografis yang tidak biasa, desa ini merupakan salah satu desa dari 10 pedukuhan yang ada di Kelurahan Pucung yang lokasinya ada di lembah Bengawan Solo Purba.

Lurah Pucung, Estu Dwiyono menyampaikan mengenai keunikan lokasi desa wisata Wotawati.

"Dari sudut pandang yang lain kami melihat potensi pariwisata yang berbeda dari pada tempat lain. Karena padukuhan ini menjadi satu-satunya padukuhan yang ada di Lembah Bengawan Solo Purba. Secara bentang alam dan geografis ini menarik karena diapit perbukitan sehingga paparan sinar matahari cukup minim, bisa jadi hanya terpapar sinar matahari selama 8 jam setiap harinya," tutur Estu yang dikutip kompas dari Portal Pemerintahan DIY, Rabu (25/2/2026)

Terletak di antara perbukitan karst dan hanya menerima sekitar tujuh jam sehari, Dusun Wotawati memiliki potensi desa wisata yang potensial. Fenomena yang terjadi di Dusun tersebut terjadi akibat posisi dusun yang berada dalam cekungan sempit dan dikelilingi perbukitan kapur.

Baca juga: 7 Festival Cap Go Meh 2026 di Indonesia, Bogor Street Festival hingga Grebeg Sudiro Solo

Rumah unik di desa wisata Wotawati

Di desa ini, pengunjung akan disuguhi nuansa pedesaan ala jaman kerajaan. Rumah-rumah hunian khas kulturasi kerajaan Mataram dan Majapahit menjadi keunggulan dari desa wisata ini. Menggunakan bata merah sebagai material utama, rumah warga Wotawati mempunyai ciri khas Gunungkidul berupa Gapura Lar Badak.

Fasadnya juga disesuaikan dengan pagar terakota dan bata merah. Menariknya, dapur yang ada di rumah warga menghadap ke arah timur.

Selain itu, jalan-jalan yang ada di pemukiman Padukuhan Wotawati ini seperti labirin. Setiap dua hingga empat rumah kanan, kiri, depan, belakang memiliki akses penghubung berupa gang-gang yang ada di pemukiman modern saat ini.

Baca juga: KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Kegiatan wisata di Desa wisata Wotawati

desa wisata wotawati tangkapan layar/@hafizazani_id desa wisata wotawati

Bagi yang tertarik untuk berlibur kesini, ada berbagai kegiatan menarik yang bisa dilakukan. Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani dan peternak menjadi daya tarik wisata edukasi dan budaya sebagai media belajar bercocok tanam, beternak hingga memasak bersama.

Saat berkunjung, kita bisa menikmati sejumlah kuliner khas Gunungkidul yang dijual atau sering ditemui di sekitar jalur menuju dusun. Mulai dari olahan nasi tiwul hingga makanan tradisional gaplek dan getuk.

Apabila ada rencana berlibur dalam beberapa hari, desa wisata Wotawati juga memberikan Anda pengalaman menginap dan makan bersama dengan warga lokal.

Selain itu, wisatawan juga bisa menyusuri jejak Bengawan Solo Purba dengan melihat kampung hingga ke lokasi wisata terdekat seperti Pantai Ngungap atau lembah Ngungap.

Letaknya yang cukup terpencil, membuat suasana desa wisata Wotawati ini cocok sebagai destinasi healing yang tenang dan jauh dari kebisingan.

Keunikan geografis yang dimiliki desa wisata Wotawati ini menjadi peluang wisata yang wajib Anda kunjungi saat berwisata ke Yogyakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Travel Ideas
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Travel News
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Travel News
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Travel Ideas
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Travel Ideas
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Travel News
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
Travel News
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Travel News
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Travel News
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Travel News
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Travel News
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Travelpedia
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Travel News
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Travel News
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau