KOMPAS.com - Hotel-hotel di Thailand mulai memangkas harga kamar secara signifikan di tengah menurunnya jumlah turis asing.
Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap gangguan perjalanan global yang berdampak pada sektor pariwisata.
Dilansir dari The Economic Times, hotel mewah di Thailand menawarkan diskon besar untuk menarik wisatawan domestik, seiring turunnya kunjungan internasional akibat konflik di Timur Tengah yang mengganggu perjalanan udara.
Baca juga: Thailand Siapkan Tiket Pesawat Gratis untuk Turis, Tekan Dampak Konflik Timur Tengah
Sejumlah hotel bintang lima di Thailand dilaporkan memangkas tarif kamar hingga 70 persen.
Kamar yang biasanya dibanderol hampir 1.000 dollar AS per malam kini bisa didapatkan dengan harga di bawah 300 dollar AS.
Beberapa hotel bahkan menawarkan paket tambahan seperti layanan butler dan sarapan untuk meningkatkan daya tarik bagi wisatawan domestik. Di kawasan wisata seperti Railay Beach, tarif kamar juga turun hampir setengah dari harga normal.
Baca juga: Thailand Siapkan Tiket Pesawat Gratis untuk Turis, Tekan Dampak Konflik Timur Tengah
Penurunan wisatawan asing dipicu oleh gangguan perjalanan global, terutama akibat konflik di Timur Tengah.
Penutupan wilayah udara dan pembatalan penerbangan membuat perjalanan antara Eropa dan Asia menjadi lebih sulit dan mahal.
Padahal, rute tersebut merupakan salah satu jalur utama bagi wisatawan yang datang ke Thailand.
Dalam beberapa pekan sejak konflik terjadi, jumlah wisatawan dari Eropa dan Timur Tengah tercatat turun sekitar 16 persen dari kondisi normal.
Baca juga: Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Thailand Berencana Berikan Tiket Pesawat PP Gratis
Pariwisata memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Thailand, yakni sekitar 20 persen dari total ekonomi. Penurunan jumlah wisatawan dikhawatirkan dapat menghambat pemulihan sektor ini pascapandemi.
Ilustrasi Banana Beach di Phuket, Thailand.Pemerintah Thailand menargetkan sekitar 37 juta kunjungan wisatawan asing tahun ini, meningkat lebih dari 11 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, target tersebut kini berada dalam tekanan akibat situasi global.
Jika jumlah kunjungan turun di bawah 33 juta, Thailand berisiko mengalami penurunan wisatawan selama dua tahun berturut-turut.
Hingga pertengahan Maret, jumlah kunjungan tercatat sekitar 7,9 juta wisatawan, sebagian besar berasal dari China, Malaysia, dan Rusia.
Untuk menekan dampak penurunan wisatawan asing, pelaku industri perhotelan mulai mengalihkan fokus ke pasar domestik.
Diskon besar dan paket menarik menjadi strategi utama untuk menjaga tingkat hunian kamar. Namun, pelaku industri menilai situasi ini tetap mengkhawatirkan.
Baca juga: Thailand Mulai Terdampak Perang Iran, Antrean SPBU Mengular
Kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global berpotensi semakin menekan minat perjalanan internasional dalam waktu dekat. Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya sektor pariwisata terhadap dinamika global.
Meski strategi diskon dapat menjadi solusi jangka pendek, pemulihan penuh tetap bergantung pada stabilitas perjalanan internasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang