Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lebaran Ketupat Juga Ada di Bolaang Mongondow, Tradisi Unik di Sulawesi Utara

Kompas.com, 28 Maret 2026, 12:31 WIB
Devi Ramadhany,
Anggara Wikan Prasetya

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tradisi Lebaran Ketupat tidak hanya dikenal di Pulau Jawa, tetapi juga dirayakan oleh masyarakat Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Dilansir dari Marinews, setiap daerah memiliki keunikan tradisi dalam menyambut bulan suci Ramadhan hingga perayaan Idul Fitri.

Salah satunya adalah tradisi Lebaran Ketupat yang telah menjadi warisan budaya masyarakat Bolaang Mongondow.

Perayaan ini biasanya digelar sekitar satu minggu setelah Idul Fitri, sebagai penutup rangkaian hari raya dengan nuansa khas lokal.

Baca juga: Ada Lebaran Ketupat di Masyarakat Jawa, Ini Sejarah dan Maknanya

Dalam momen tersebut, warga menyiapkan berbagai hidangan, mulai dari ketupat, lauk-pauk, hingga kue tradisional untuk disajikan kepada tamu.

Suasana kebersamaan terasa kental saat tradisi ini berlangsung.

Rumah-rumah warga terbuka bagi siapa saja yang datang, termasuk para pemudik yang melintasi jalan trans Sulawesi.

Mereka dipersilakan untuk singgah, makan bersama, bahkan dibekali makanan untuk melanjutkan perjalanan.

Lebaran Ketupat juga menjadi ajang silaturahmi, khususnya bagi warga yang merantau dan pulang ke kampung halaman.

Momen ini dimanfaatkan untuk mempererat hubungan sosial yang mungkin renggang karena jarak dan kesibukan.

Selain itu, tradisi ini turut menjadi sarana memperkuat koordinasi antarperangkat desa dan masyarakat, sekaligus menjaga nilai gotong royong yang telah lama menjadi identitas masyarakat setempat.

Baca juga: 5 Tips Menyimpan Ketupat agar Tidak Mudah Basi dan Tahan Lama

Sejarah Lebaran Ketupat di Jawa

Sejarah lebaran ketupat di Jawa tidak bisa dilepaskan dari proses penyebaran Islam sejak abad ke-15 hingga ke-16.

Dilansir dari Kompas.com Sabtu (27/3/2026), para ulama seperti Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.

Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai bagian dari tradisi Idul Fitri dan membagi perayaan menjadi dua tahap, yakni Lebaran pada 1 Syawal dan Bakda Kupat yang dirayakan sekitar sepekan setelahnya.

Tradisi ini juga memberi ruang bagi umat Muslim untuk melanjutkan ibadah, seperti puasa Syawal. 

Baca juga: 7 Rekomendasi Ketupat dari Berbagai Daerah di Indonesia, Cocok untuk Lebaran Ketupat 28 Maret 2026

Filosofi dan Makna Ketupat

Ketupat sendiri memiliki makna filosofis yang mendalam dalam budaya Jawa.

Istilah “kupat” berasal dari ungkapan “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan.

Sejarah lebaran ketupat, tradisi masyarakat Jawa.Ilustrasi dibuat AI Sejarah lebaran ketupat, tradisi masyarakat Jawa.

Makna ini mengajarkan pentingnya introspeksi dan saling memaafkan setelah Ramadhan.

Selain itu, ketupat juga mengandung konsep “laku papat” yang mencerminkan empat tindakan spiritual, yakni lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Baca juga: Jangan Buang Ketupat Sisa Lebaran, Sajikan dengan Sayur Padang Ini

Keempatnya berkaitan dengan pengampunan, berbagi, dan penyucian diri.

Anyaman daun kelapa pada ketupat melambangkan kompleksitas kesalahan manusia, sementara isi ketupat yang berwarna putih mencerminkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.

Dengan berbagai makna tersebut, Lebaran Ketupat tidak hanya menjadi tradisi kuliner, tetapi juga simbol kebersamaan dan nilai spiritual yang terus dijaga di berbagai daerah di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Travel Ideas
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Travel News
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Travel News
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Travel Ideas
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Travel Ideas
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Travel News
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
Travel News
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Travel News
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Travel News
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Travel News
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Travel News
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Travelpedia
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Travel News
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Travel News
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau