Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ada Tupai “Mengisap Vape” di Berbagai Kota di Dunia, Kok Bisa?

Kompas.com, 28 Maret 2026, 13:25 WIB
Devi Ramadhany,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi


KOMPAS.com - Seekor tupai terlihat menggigit hingga tampak seperti “mengisap” rokok elektrik (vape) yang dibuang sembarangan oleh manusia. Pemandangan tersebut terjadi di sejumlah kota di berbagai belahan dunia.

Dilansir dari New York Post, kejadian ini terekam dalam video viral di beberapa lokasi seperti London, Inggris, hingga Philadelphia, Amerika Serikat.

Dalam video tersebut, tupai terlihat memegang dan mengunyah perangkat vape layaknya makanan.

Temuan serupa juga dilaporkan NDTV.

Baca juga: Kereta Wisata Gunung Fuji Khusus Turis Mulai Beroperasi, Tertarik Coba?

Dalam sebuah video di London Selatan, seekor tupai abu-abu terlihat memegang rokok elektrik dan menggigit bagian ujungnya, memicu kekhawatiran soal dampak limbah terhadap satwa liar.

Para ahli menjelaskan bahwa perilaku ini bukan karena hewan tertarik pada nikotin, melainkan aroma manis dari vape yang menyerupai buah.

Baca juga: Pariwisata Tertekan Konflik Timur Tengah, Ini Akademisi Sebut Indonesia Harus Cepat Beradaptasi

“Masuk akal jika vape lebih menarik dibanding rokok biasa karena aromanya yang seperti buah,” ujar pakar tupai dari Bangor University, Craig Shuttleworth.

Ia menambahkan bahwa hewan tersebut kemungkinan besar salah mengira bau manis sebagai sumber makanan.

Dalam laporan NDTV, ahli juga menegaskan bahwa tupai tidak secara alami terpapar zat seperti nikotin di alam liar.

Baca juga: 10 Bandara Terbersih Dunia 2026, Asia Mendominasi

Pihak Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals (RSPCA) juga memperingatkan bahwa limbah vape akan menjadi ancaman nyata bagi kesehatan hewan.

Mereka menyebut video tersebut sebagai pengingat akan bahaya sampah yang dibuang sembarangan.

Meski terlihat unik dan viral di media sosial, fenomena ini menyimpan risiko serius.

Vape mengandung zat berbahaya seperti nikotin, mikroplastik, hingga bahan kimia lain yang tidak ditemukan dalam makanan alami hewan.

Baca juga: Sejarah Grand Hotel De Djokja, Hotel Sejak 1911 yang Kini Bakal Buka Lagi

Jika tertelan, zat-zat tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan bahkan kematian pada satwa liar.

Fenomena ini sekaligus menyoroti dampak limbah rokok elektrik yang semakin meningkat di lingkungan.

Para ahli pun mengimbau masyarakat untuk tidak membuang vape sembarangan demi mencegah risiko bagi ekosistem.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Travel Ideas
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Travel News
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Travel News
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Travel Ideas
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Travel Ideas
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Travel News
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
Travel News
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Travel News
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Travel News
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Travel News
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Travel News
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Travelpedia
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Travel News
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Travel News
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau