
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Yogyakarta bagi saya bukanlah sekadar titik koordinat di atas peta, melainkan sebuah ruang emosional yang selalu berhasil menarik saya untuk mengunjunginya.
Ada semacam gravitasi tak kasatmata, yang menarik langkah kaki untuk kembali menyusuri aspalnya yang panas dan trotoarnya yang padat.
Papan Petunjuk Spot Wisata Jogja | Sumber Image : Dokumentasi PribadiKota ini sering dibicarakan sebagai kota budaya, kota pelajar, atau kota wisata. Banyak orang datang ke Jogja untuk menikmati suasana santai, mencicipi kuliner, atau berbelanja oleh-oleh. Sebagian lagi datang untuk mengenang masa kuliah, dan sebagian lainnya datang sekedar ingin berjalan tanpa tujuan.
Sama seperti sebagian wisatawan, bayangan perjalanan saya ke Jogja pun dimulai dengan tujuan yang sangat umum. Saya membayangkan trotoar panjang di Malioboro, pedagang yang memanggil pembeli, aroma makanan dari gerobak kaki lima, dan wisatawan yang sibuk mengabadikan momen.
Turun dari kereta dan berjalan keluar Stasiun Tugu, hawa gerah langsung menyergap membawa serta aroma khas aspal dan asap knalpot yang saling berkaitan.
Baca juga: Promo Tiket Kereta Api Lebaran 2026, Jakarta-Yogyakarta Mulai Rp 500.000
Di satu sisi, Jogja bergerak cepat menuju modernitas dengan hotel-hotel beton yang menjulang, namun di sisi lain denyut nadinya tetap setia pada ritme yang tenang, hampir-macam meditasi di tengah pasar.
Dan entah kenapa dalam perjalanan itu, saya justru merasa ingin melihat Jogja dari sisi yang berbeda dari bayangan yang awalnya saya pikirkan. Bukan hanya tempat yang selalu muncul di foto wisata, tetapi juga ruang-ruang yang memperlihatkan bagaimana sebuah kota membentuk cara berpikir orang-orang yang hidup di dalamnya.
Hingga akhirnya saya datang bukan hanya untuk menjadi wisatawan yang sekadar lewat, melainkan sebagai seorang peziarah makna yang ingin membaca kota ini dari sudut yang tidak selalu tersorot.
Saya ingin melacak detak jantung kota ini, dari permukaan yang paling riuh hingga ke dalam ruang-ruang yang menjungkirbalikkan logika materialistik yang selama ini menekan pikiran.
Saya ingin melihat bagaimana sebuah kota mengelola egonya, mulai dari pusat ekonomi yang paling bising, hingga sudut-sudut tempat spiritualitas dipraktikkan dengan cara yang sangat membumi.
Saya ingin tahu, di mana letak kekuatan yang membuat kota ini tetap memiliki "ruh" di tengah gempuran zaman yang semakin serba cepat dan artifisial.
Baca juga: 7 Jajanan Khas Yogyakarta di Pasar Ngasem, Ada Cenil dan Lupis
Saya, merasa ada yang ganjil setiap kali kaki saya ini memijak trotoar jalan Malioboro. Bukan karena ubinnya yang licin atau deretan bangku besi yang begitu rapi, melainkan karena perasaan bahwa saya hanyalah butiran kecil dari arus manusia yang tak pernah putus.
Malioboro Street | Sumber Image : Dokumentasi PribadiDi situ saya tidak hanya sedang berjalan, tetapi saya sedang diserap oleh sebuah ekosistem. Suara gitar pengamen di sudut jalan beradu dengan teriakan tawar-menawar di lapak daster batik. Rasanya, seperti ada semacam harmoni dalam kebisingan itu.
Saya, mencoba memperhatikan wajah-wajah di sekitar. Ada wisatawan yang tampak bingung mencari arah, namun ada juga warga lokal yang melangkah dengan tenang seolah sudah hafal di mana letak setiap titik terbaik di jalanan ini.
Malioboro bagi saya adalah sebuah panggung sandiwara besar, yang semua orang didalamnya punya peran. Pedagang menawarkan harapan dalam bentuk buah tangan, sementara saya sebagai pendatang, mencoba mencari sesuatu yang lebih dari sekadar kaos oblong atau bakpia. Saya mencari alasan, mengapa tempat ini tetap punya magnet yang kuat meski panas menyengat kulit.
Baca juga: 5 Tempat Makan Keluarga Bernuansa Alam di Yogyakarta
Langkah saya melambat saat melewati deretan delman, aroma khas kotoran kuda yang bercampur dengan asap kendaraan bermotor menciptakan bau aneh yang justru dapat dirindukan.
Saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya membuat orang-orang terus kembali ke sini? Apakah karena kerinduannya pada barang-barang kerajinan kulit, atau karena atmosfer manusiawi yang seolah memanusiakan siapa saja yang menapakkan kaki di atasnya?.
Dan di balik kegemerlapan itu, saya juga menangkap wajah-wajah lelah yang tersembunyi di balik bayang-bayang pilar toko. Ada perjuangan yang tak terlihat dalam setiap senyum pedagang asongan, kusir delman, dan penjaga toko.
Saya menyadari, bahwa Malioboro adalah ruang di mana harapan dan realitas beradu setiap detiknya. Langkah saya terus terserap, membawa saya pada kesadaran bahwa keindahan kota ini tidak terletak pada benda-benda yang dipajang di etalase, melainkan pada ketangguhan manusia-manusia yang menghidupinya.
Serapan itu membawa saya terus melangkah, meninggalkan lampu-lampu neon yang mulai menyala, menuju sisi lain yang menjanjikan ketenangan yang berbeda.
Meninggalkan keriuhan pusat kota, saya mengarahkan perjalanan saya menuju ke arah selatan. Memasuki sebuah kampung yang atmosfernya berubah menjadi lebih tenang namun penuh daya hidup, yaitu kampung Jogokariyan.
Memasuki kawasan ini terasa seperti memasuki ruang tamu yang luas dan terbuka, serta tidak ada kesan eksklusif. Di tengahnya berdiri sebuah bangunan masjid yang namanya telah lama berdenging di telinga saya, yang menjadi salah satu jantung aktivitas warga, yaitu Masjid Jogokariyan.
Mengunjungi Masjid Jogokariyan | Sumber Image : Dokumentasi PribadiSaya mengarahkan badan untuk melangkah masuk ke pelataran masjid, bukan sebagai turis yang ingin mengaudit, melainkan sebagai pendatang yang merasa haus akan logika yang tidak lazim.
Konsep "Saldo Nol Rupiah" adalah hal yang paling mengusik logika ekonomi saya. Di dunia luar, kita diajarkan untuk menimbun, membangun benteng finansial setinggi mungkin agar merasa aman. Namun di dalam jargon masjid itu yang terkenal, saya justru menemukan sebuah keberanian untuk menghabiskan.
Masjid tersebut, seakan-akan tidak membiarkan uang umat mengendap dan berdebu di dalam buku bank. Setiap rupiah yang masuk, segera dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan selaras dengan motto Masjid Jogokariyan, "Dari Masjid Membangun Umat".
Jujur, ini adalah bentuk filantropi yang paling radikal yang pernah saya temui. Dimana masjid bukan lagi sekadar tempat ritual ibadah formal, melainkan jantung ekonomi dan sosial bagi lingkungannya.
Baca juga: Sepiring Rawon Tessy dan Cerita yang Tak Pernah Usang Sejak 1942
Saya merenungi betapa seringnya kita sebagai individu merasa cemas akan masa depan, lalu menimbun harta sebanyak mungkin sebagai benteng keamanan. Namun di Jogokariyan, keamanan justru lahir dari kerelaan untuk memberi.
Logika "saldo nol" ini mengajarkan saya bahwa keberkahan tidak datang dari jumlah yang kita simpan, melainkan dari seberapa banyak manfaat yang berhasil kita alirkan.
Pengelolaan "nol rupiah" itu ternyata bukan sekadar strategi akuntansi, melainkan sebuah pernyataan iman bahwa rezeki akan selalu datang selama kita tidak menggenggamnya terlalu erat.
Perjalanan saya mencapai puncaknya, saat saya memasuki kawasan Karangkajen. Saya berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit, di mana dinding-dinding rumah penduduk seolah berbisik tentang sejarah panjang kampung ini.
Tujuan saya, adalah sebuah area pemakaman yang tidak mencolok. Saya datang untuk menziarahi makam KH. Ahmad Dahlan, sosok yang ijtihadnya telah mengubah wajah keagamaan, Pendidikan, dan sosial di negeri ini melalui organisasi islam besar yang beliau rintis.
Makam KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) | Sumber Image : Dokumentasi PribadiMenemukan makam beliau, bukanlah perkara mudah jika kita membayangkan sebuah monumen megah dengan penjagaan ketat. Makam sang pendiri Muhammadiyah ini, bahkan berada di dalam kompleks pemakaman warga biasa.
Saat saya berada di depan makam sang pencerah itu, saya sempat terdiam cukup lama. Tidak ada bangunan yang megah, tidak ada hiasan yang berlebihan, bahkan nisannya pun tampak sangat biasa saja.
Di depan pusara itu, saya merasa ego saya runtuh seketika. Kita hidup di zaman di mana orang-orang sangat terobsesi untuk meninggalkan "warisan" berupa nama besar, gedung pencakar langit, atau monumen yang bisa dilihat dari kejauhan.
Namun, di sini seorang pria yang telah mencerahkan jutaan pikiran manusia justru memilih untuk "tiada" secara visual. Seolah beliau ingin mengatakan bahwa setelah napas berhenti, tubuh hanyalah pinjaman yang harus dikembalikan ke bumi tanpa perlu banyak hiasan.
Sosok yang gagasannya telah membangun ribuan sekolah, universitas, rumah sakit, dan panti asuhan di seluruh penjuru negeri ini, justru memilih tempat istirahat yang sangat tidak mencolok tanda tidak ingin dikultuskan.
Saya teringat bagaimana gambaran beliau berjuang melawan stagnasi berpikir, dan bagaimana beliau berani melakukan ijtihad meski harus dihujat serta dianggap aneh pada masanya.
Baca juga: 2 Restoran Indonesia Masuk Daftar 50 Terbaik di Asia, Menpar Beri Apresiasi
Saya duduk berjongkok di dekat sana, membiarkan angin sepoi-sepoi memainkan ujung rambut saya. Saya merenung, tentang konsep "pencerahan" yang beliau bawa. Bahwa pencerahan bukan berarti membuat segalanya menjadi gemerlap seperti lampu-lampu di Malioboro, melainkan memberikan cahaya bagi mereka yang tersesat dalam kegelapan ketidaktahuan.
Di tengah kesunyian makam itu, saya menyadari bahwa Jogja yang sejati bukanlah yang tampak di permukaan jalanan protokol, melainkan yang terkubur dalam-dalam dalam nilai-nilai kerakyatan dan keikhlasan yang diwariskan oleh tokoh-tokoh seperti beliau.
Perjalanan saya berakhir di Karangkajen, namun pemikiran saya justru baru saja dimulai. Dari hiruk-pikuk Malioboro yang mengajarkan tentang kerasnya hidup, menuju Jogokariyan yang mengajarkan tentang indahnya berbagi, hingga berakhir di makam Sang Pencerah yang mengajarkan tentang arti sebuah pemikiran yang berdaya.
Ketiganya bukanlah bagian yang terpisah, melainkan sebuah siklus perjalanan manusia yang harus selalu bergerak dari urusan diri sendiri, menuju kepedulian pada sesama, dan akhirnya berpasrah pada Sang Pencipta dalam ketiadaan yang paripurna.
Yogyakarta bukan hanya sebuah destinasi wisata, namun juga sebuah madrasah bagi siapa saja yang mau membuka mata hatinya sedikit lebih lebar.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Wajah-wajah Jogja: Keramaian Malioboro, Filantropi Masjid, dan Makam Sederhana Sang Pencerah"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang