KOMPAS.com - Tradisi Nyepi Sawah kembali digelar di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Ritual ini berlangsung selama dua hari, mulai dari hari Minggu hingga Senin.
Dilansir dari Kompas.com, Selasa (31/3/2026), selama prosesi berlangsung, wisatawan tetap diperbolehkan berkunjung ke kawasan tersebut.
Namun, terdapat pembatasan khusus yang harus dipatuhi.
Baca juga: Sawah di Bali Berkurang Setiap Tahun Karena Alih Fungsi Lahan, Ini Kata Koster
Manajer Operasional Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih, I Ketut Purna, mengatakan bahwa wisatawan tidak diperkenankan memasuki area pematang sawah selama ritual berlangsung.
“Meskipun kunjungan ke Jatiluwih cukup tinggi, wisatawan masih boleh berjalan di jalur trekking.
Namun untuk masuk ke pematang sawah tidak diperbolehkan,” ujar Purna saat diwawancarai Kompas.com, Senin (30/3/2026).
Pembatasan ini dilakukan untuk menjaga kekhusyukan ritual sekaligus menghormati kearifan lokal yang telah dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Purna juga menjelaskan, bahwa Nyepi Sawah ini memiliki konsep serupa dengan Hari Raya Nyepi di Bali, tetapi pelaksanaannya difokuskan pada area persawahan.
Selama dua hari penuh, seluruh aktivitas pertanian dihentikan, mulai dari pagi hingga sore hari.
Para petani tidak melakukan kegiatan di sawah, kecuali memberi makan ternak, dan itu pun tanpa aktivitas lainnya.
Baca juga: Bali dan Yogyakarta Jadi Destinasi Wisata Paling Dicari Saat Libur Lebaran 2026
Penghentian aktivitas di sawah ini bertujuan untuk menciptakan ketenangan di area persawahan.
Menurut Purna, tradisi Nyepi Sawah di Jatiluwih sudah berlangsung sejak lama, bahkan diperkirakan sudah ada sejak 1933.
Ritual ini mencakup seluruh area persawahan seluas sekitar 227,41 hektare.
Baca juga: Salip Bali, Singapura Jadi Destinasi Budaya Terbaik Dunia Versi Tripadvisor
Secara filosofi, tradisi ini dimaknai sebagai bentuk memberi waktu istirahat bagi tanaman padi sekaligus penghormatan terhadap alam.
Masyarakat setempat meyakini bahwa dengan menghentikan aktivitas, hal-hal negatif yang dapat merusak tanaman akan hilang.
Tradisi ini sudah menjadi bagian penting dari sistem subak yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.
Selain memiliki nilai budaya dan spiritual, Nyepi Sawah juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Jatiluwih.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang