Penulis
KOMPAS.com - Malam hari adalah waktunya mengistirahatkan tubuh, baik fisik maupun psikis.
Namun sayang, saat kepala menyentuh bantal, bukan kantuk yang datang melainkan ingatan masa lalu yang terputar kembali dengan jelas.
Seperti misalnya, ingatan tentang kesalahan terbesar di tahun 2025, mimpi-mimpi yang harus kandas di depan mata, atau kegagalan-kegagalan yang membuat malu.
Banyak orang menjadi overthinking justru di malam hari. Mengapa bisa begitu?
Baca juga: Psikolog Beberkan Tanda Orang dengan EQ Tinggi, Ada pada Anda?
Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal mengungkap ada alasan sains dan psikologis mengapa malam hari menjadi "panggung utama" bagi pikiran yang berisik.
"Secara psikologis, ada transisi drastis yang terjadi saat kita berbaring di tempat tidur," ujar Danti kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026).
Transisi yang memicu overthinking tersebut adalah:
Di siang hari, otak kita sibuk memproses jutaan informasi (pekerjaan, HP, interaksi sosial). Saat malam, suara bising itu hilang.
"Dalam keheningan, otak yang terbiasa "bekerja" tidak punya objek untuk diproses, sehingga ia mulai menggali ke dalam (introspeksi) secara berlebihan," papar Danti.
Saat lelah, energi untuk melakukan self-regulation (mengatur emosi) menurun.
"Kita menjadi lebih rentan terhadap distorsi kognitif. Pikiran yang biasanya bisa kita abaikan di jam 2 siang, mendadak terasa sangat nyata dan mengancam di jam 2 pagi," jelas Danti.
Penelitian menunjukkan bahwa emosi negatif cenderung meningkat di titik terendah ritme sirkadian kita, yaitu di tengah malam hingga dini hari.
Ini adalah sisa mekanisme evolusi di mana kewaspadaan meningkat saat gelap untuk perlindungan diri.
Baca juga: Psikolog Ungkap Ciri Silent Burnout, Kelelahan Sunyi yang Menggerogoti Mental Gen Z
Danti menjelaskan beberapa konsep psikologi yang menjelaskan mengapa pikiran kita "berputar di tempat" saat malam hari.
Otak manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mengingat tugas yang belum selesai atau masalah yang belum terpecahkan daripada yang sudah selesai.