KOMPAS.com - Hujan di malam Bulan Januari 2023 seolah berusaha menutupi rasa sedih Kevin Lijaya Lukman.
Ia masih ingat momen dirinya sendirian di saat Purwakarta hujan deras. Malam itu, ia gagal mendapat skor IELTS minimum. Ini yang ketiga kalinya gagal.
“Kayaknya itu kesedihan saya terdengar ke langit, jadi hujan juga itu” tuturnya mengingat, dilansir dari laman LPDP, Senin (23/3/2026).
Kevin sempat mengingat usahanya untuk belajar IELTS. Setiap sepulang bekerja, Kevin selalu menyempatkan diri untuk belajar hingga larut.
Menyisihkan waktu di tengah kesibukannya di proyek pengembangan pabrik pengolahan nikel juga bukan pekerjaan mudah.
“Saya mulai belajar Juli 2022, tes pertama September gagal, Desember gagal lagi, Januari 2023 masih gagal. Baru Februari, tepat tiga hari sebelum deadline LPDP, saya lolos skor IELTS. Gagal tiga kali, setiap kali cuma kurang 0,5. Rasanya pahit banget,” kenang Kevin.
Tapi apakah ia menyerah? Tentu saja tidak. Ia sudah punya mimpi kala itu. Harus tembus kampus top dunia dengan beasiswa LPDP.
Baca juga: Ada Perubahan, Cek Jadwal Lengkap Seleksi Beasiswa LPDP 2026 Tahap 1 Berbagai Jalur
Memang tidak ada yang sia-sia. Kevin sendiri pada akhirnya bisa kuliah di luar negeri.
Kevin adalah alumnus beasiswa LPDP di Imperial College London Jurusan Metals and Energy Finance MSc yang lulus pada 2024 kemarin.
Dari gagal IELTS tiga kali, lulus dengan predikat distinction, tawaran kerja di luar negeri, hingga terbaru mendapat Curry MSc Prize.
Orang lain yang tak tahu jalan panjang Kevin, melihatnya seolah jalannya mulus. Padahal, ia berusaha keras mencapai segalanya.
Kevin tumbuh dengan minim kemewahan. Ia adalah anak kedua dari dua bersaudara yang lahir dan besar di Bandung di keluarga dengan ekonomi menengah yang menjunjung tinggi pendidikan meski kedua orangtuanya hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Orang tuanya selalu menanamkan nilai bahwa bersekolah harus setinggi-tingginya. Mereka tidak memaksakan pilihan karier, melainkan mendukung minat dan passion anak-anaknya.
Sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Santo Aloysius Bandung, Kevin telah menunjukkan kecerdasan dan prestasinya dengan selalu mendapatkan beasiswa dari sekolah.
Juara nasional olimpiade kimia dan karya ilmiah didapat termasuk memenangkan kompetisi tingkat nasional yang diadakan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dengan torehan prestasi tersebut wajar bila merasa yakin diterima lewat jalur undangan ke ITB. Takdir berkata lain.
Ia tersisih dan harus bertarung di jalur tes tulis dengan persiapan hanya dua minggu. Kevin percaya bahwa doa tanpa usaha adalah sia-sia. Meskipun soal tes sangat sulit, dan banyak yang pesimis karena kursi yang terbatas dan persaingan ribuan pendaftar
Di situlah Kevin menunjukkan kelasnya. Ia membayar tuntas tantangan tersebut dengan lolos seleksi masuk jurusan Metalurgi di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB tahun 2016, sebuah jurusan bergengsi dengan persaingan ketat.
Beban biaya kuliah yang mencapai Rp 10 juta per semester, yang berarti Rp 80 juta untuk delapan semester terasa berat bagi Kevin dan keluarga.