KOMPAS.com - Pemburu hewan liar di California, Amerika Serikat, melaporkan penemuan daging, otot, atau lemak berwarna biru neon pada babi hutan. Peristiwa ini terjadi pada Maret 2025.
Berdasarkan hasil uji Laboratorium Kesehatan Satwa Liar (WHL) Departemen Perikanan dan Satwa Liar California (CDFW) dan Laboratorium Kesehatan Hewan dan Keamanan Pangan California, fenomena daging babi hutan berwarna biru elektrik (neon) tersebut bukan alami.
Melainkan terpapar umpan pestisida yang mengandung rodentisida antikoagulan diphacinone, seperti dilansir laman resmi California Department of Fish and Wildlife, Senin (18/8/2025).
Dilaporkan National Geographic pada Selasa (12/8/2025), keberadaan babi hutan dengan daging berwarna biru neon di California sebenarnya sudah terdengar sejak beberapa tahun lalu.
Namun, pada Februari 2025, Dan Burton, pemilik Urban Trapping Wildlife Control, menemukan lemak berwarna biru terang saat membedah bangkai babi hutan di Monterey County, California.
Baca juga: 7 Istilah Makanan di Jepang yang Mengandung Babi dan Alkohol, Traveller Muslim Wajib Tahu!
Beberapa bulan setelah Burton mengirimkan sampel daging ke CDFW untuk pengujian laboratorium, otoritas tersebut merilis peringatan bagi para pemburu hewan liar untuk mewaspadai potensi risikonya.
Peringatan ini dikeluarkan oleh CFDW pada Selasa (30/7/2025).
"Para pemburu harus menyadari bahwa daging hewan buruan, seperti babi hutan, rusa, beruang, dan angsa, mungkin terkontaminasi jika hewan buruan tersebut terpapar," kata Koordinator Investigasi Pestisida CDFW, Dr Ryan Bourbour.
"Paparan rodentisida dapat menjadi perhatian bagi satwa liar nontarget di area yang aplikasinya dilakukan di dekat habitat satwa liar," tambah dia.
Rodentisida adalah sebutan untuk zat yang merupakan racun bagi binatang pengerat, terutama tikus.
Baca juga: Istilah Makanan Mengandung Unsur Babi yang Perlu Diketahui, Cek Sebelum Beli
Sementara itu, difasinon merupakan bahan kimia yang digunakan untuk kondisi tertentu demi serangan hama. Penggunaan zat ini dibatasi di California.
Meski penggunaan rodentisida antikoagulan diatur ketat di California, tetapi tidak ada larangan total sehingga zat ini masih muncul di tubuh banyak hewan, termasuk beruang hitam, kucing hutan, dan babi hutan .
Dalam dosis tinggi, rodentisida antikoagulan diphacinone dapat menyebabkan pendarahan hebat pada manusia dan mamalia lain.
Saat ini, belum banyak penelitian ilmiah yang merinci seberapa banyak daging buruan dan pada tingkat kontaminasi apa daging tersebut boleh dikonsumsi seseorang.
Sebuah studi dari tahun 2011 menemukan bahwa memasak daging dari hewan liar yang terkontaminasi diphacinone tidak membuatnya aman dikonsumsi.
Baca juga: Apa Itu Minyak Babi? Awas Bikin Makanan Halal Jadi Nonhalal
Lebih lanjut, CDFW mengimbau pengguna pestisida mencegah rodentisida diphacinone agar tidak terpapar pada satwa liar saat menggunakan zat ini.
Sebelum mengaplikasikan rodentisida, penting untuk memastikan satwa liar nontarget tidak menggunakan area yang akan disemprot pestisida.
Penting juga untuk menggunakan metode aplikasi yang tepat agar tidak ada akses ke spesies nontarget.
Penggunaan pendekatan manajemen hama terpadu untuk pengendalian hewan pengerat dapat membantu mengurangi kemungkinan paparan rodentisida pada satwa liar non-target.
CDFW mengimbau para pemburu untuk melaporkan temuan-temuan yang tidak biasa pada satwa liar yang diburu, termasuk jaringan biru.
Serta tidak mengonsumsi bagian tubuh hewan yang memiliki lemak, otot, atau kelainan lainnya yang berwarna biru.
Baca juga: Ada Temuan Marshmallow yang Mengandung Babi, Apa itu Marshmallow?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang