Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pola Makan Sehat Usai Lebaran Ala Dokter Gizi, Coba Cara Ini

Kompas.com, Diperbarui 31/03/2026, 08:31 WIB
Krisda Tiofani,
Anggara Wikan Prasetya

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Usai berpuasa selama satu bulan, kebiasaan makan bisa jadi berubah bagi banyak Muslim, mulai dari pemilihan jenis makanan sampai waktu makan.

Menurut Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof Hardinsyah, puasa dapat dijadikan sebagai titik awal membangun pola makan ideal yang berkelanjutan, baik dari sisi kesehatan maupun spiritual.

“Puasa harus dijadikan momentum untuk melakukan detoksifikasi tubuh. Masyarakat dapat menjadikan puasa sebagai patokan pola makan ideal secara spiritual dan gizi,” kata Hardiansyah, dikutip dari situs resmi IPB University, Minggu (22/3/2026).

Baca juga: Jangan Kalap! Ahli Gizi Ungkap Cara Hindari Kolesterol Tinggi Makanan Lebaran

Untuk menjaga kesehatan tubuh, kata Hardiansyah, penting untuk menerapkan pola makan dengan pendekatan mirip intermittent fasting.

Intermittent fasting merupakan pola makan yang berselang-seling antara puasa dan makan, seperti dikutip Healthline.

Metode intermittent fasting tidak berfokus pada apa yang harus dimakan, melainkan waktu mengonsumsi makanannya.

Baca juga: Waspada Lonjakan Food Waste Saat Lebaran, Pakar IPB Ingatkan soal Perubahan Budaya Makan

Pola makan pascapuasa ini diharapkan mampu membantu menurunkan lemak tubuh serta menekan risiko penyakit metabolik seperti diabetes.

Konsistensi menjadi tantangan utama dalam mempertahankan pola makan sehat setelah Ramadhan.

“Untuk mempertahankan pola makan ideal ini membutuhkan mindset dan tekad yang kuat. Setelah bulan puasa, ujiannya akan lebih serius untuk mengubah mindset. Biasakan diri dengan intermittent fasting dan mempraktikannya tanpa mengharapkan pahala,” jelas dia.

Baca juga: Kisah Menu Kuliner Sederhana Lebaran Ala Bung Karno

Cara menerapkan intermittent fasting

Transisi pola makan sehat dapat dimulai dengan membiasakan sarapan pagi untuk menekan risiko kolesterol.

Kemudian, makan siang dapat dilewatkan atau dikurangi porsinya, disertai kebiasaan mencukupi kebutuhan air putih dan berolahraga pada sore hari.

Ilustrasi puasa. Niat puasa Senin KamisUnsplash Ilustrasi puasa. Niat puasa Senin Kamis

Hardiansyah juga mengingatkan agar konsumsi makanan berlemak, manis, dan instan dikendalikan.

“Nafsu untuk memakan makanan berlemak dan manis serta makanan instan juga dikurangi. Kebiasaan ini bisa dilatih saat puasa Syawal,” saran dia.

Baca juga: Bebeye, Kuliner Unik Lebaran yang Tak Sengaja Tercipta

Konsumsi buah-buahan segar juga dapat membantu menekan keinginan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula.

Buah dinilai mampu memenuhi kebutuhan energi sekaligus menyediakan serat dan vitamin.

Selain itu, pengaturan jenis dan porsi makanan juga perlu diperhatikan, dengan memperbanyak protein dibandingkan karbohidrat, menyesuaikan kebutuhan masing-masing individu, seperti anak-anak dan ibu hamil.

“Kalau berat badan menurun menjadi berat badan normal maka harus dipertahankan. Ketika setelah dua minggu kemudian terasa lingkar pinggang bertambah maka pola makan harus kembali disesuaikan,” pungkas Hardiansyah.

Baca juga: Supaya Tak Mubazir, Begini Cara Ubah Rendang Sisa Lebaran Menjadi 3 Hidangan Sederhana Ini

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau