Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rusia Ingin Legalkan Mobil Hasil Curian dari Uni Eropa

Kompas.com, 31 Maret 2026, 19:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

Penulis: Nikita Oshuev/DW Indonesia

MOSKWA, KOMPAS.com - Rusia berencana membuka jalan bagi legalisasi mobil hasil curian dari Uni Eropa (UE) yang dibawa masuk ke negaranya. Warga nantinya bisa mendaftarkan kendaraan tersebut secara resmi.

Para anggota parlemen di sana telah membahas perubahan undang-undang terkait hal ini, yang diusulkan oleh Kementerian Dalam Negeri Rusia sejak awal Februari 2026.

Rencana ini memicu kekhawatiran di Jerman karena berpotensi bisa mendorong peningkatan pencurian mobil lintas negara.

Baca juga: Atasi Krisis Energi, Kilang Minyak Filipina Borong 2,5 Juta Barrel Minyak Rusia

Perubahan undang-undang atas arahan Putin

Harian Kommersant yang berbasis di Moskwa melaporkan bahwa Kementerian Dalam Negeri Rusia menyiapkan rancangan undang-undang atas arahan Presiden Vladimir Putin.

Pemerintah Rusia menyebut aturan ini ditujukan untuk melindungi pemilik kendaraan yang masuk daftar pencarian karena laporan dari negara-negara yang dianggap tidak bersahabat.

Selain 27 negara anggota Uni Eropa, Rusia juga memasukkan Swiss, Norwegia, Amerika Serikat (AS), Kanada, Jepang, Korea Selatan, dan Australia ke dalam kategori tersebut.

Rancangan undang-undang ini juga akan melegalkan kendaraan yang dinyatakan hilang oleh Ukraina. Kemungkinan besar, ini merujuk pada mobil-mobil yang diambil dari wilayah Ukraina yang saat ini berada di bawah pendudukan Rusia.

Baca juga: Biaya Naik, Putin Minta Crazy Rich Rusia Sumbang Dana Perang Lawan Ukraina

Rusia: Tidak ada respons dari Jerman atas permintaan informasi

Saat ini, pendaftaran kendaraan yang masuk dalam daftar pencarian internasional dilarang di Rusia.

Namun, menurut laporan Kommersant, Kementerian Dalam Negeri menyebut bahwa otoritas Rusia kerap kesulitan mengetahui alasan sebuah kendaraan masuk dalam daftar buronan internasional tersebut.

Sejak dimulainya perang Rusia melawan Ukraina, negara-negara yang dikategorikan tidak bersahabat disebut tidak lagi merespons permintaan informasi dari Rusia terkait kendaraan-kendaraan itu.

Jerman disebut secara khusus sebagai contoh. Kementerian Dalam Negeri di Moskwa mengeklaim bahwa Berlin mengabaikan permintaan dari Rusia karena alasan politik.

Menurut kementerian tersebut, pada Januari 2026 terdapat total 123 kendaraan yang dilaporkan Berlin sebagai buronan internasional dan ditemukan di Rusia.

Namun, menurut pihak Rusia, tidak ada penjelasan dari Jerman mengenai alasan kendaraan-kendaraan tersebut masuk daftar pencarian.

Baca juga: Eropa Sebut Rusia Sangat Diuntungkan Jika Perang Iran Terus Memanas

BKA: Tidak ada pertukaran data dengan Rusia

Kantor Polisi Kriminal Federal Jerman (BKA), yang bertanggung jawab menyelidiki pencurian kendaraan, mengonfirmasi kepada DW bahwa saat ini tidak ada pertukaran informasi dengan Rusia dalam kasus seperti ini.

"BKA mengetahui adanya permintaan dari otoritas Rusia terkait kendaraan yang didaftarkan oleh Jerman. Namun, karena hal ini terutama menyangkut aspek hukum perdata, seperti kepemilikan dan kepentingan pemilik untuk memulangkan kendaraan, maka BKA tidak memiliki kewenangan," demikian pernyataan lembaga tersebut.

Dengan kata lain, persoalan ini dianggap lebih sebagai sengketa kepemilikan, bukan ranah pidana yang bisa ditangani langsung oleh BKA.

BKA menolak berkomentar apakah undang-undang baru Rusia dapat memicu peningkatan pencurian mobil di Jerman.

Sebanyak 123 mobil asal Jerman yang tercatat oleh Rusia dalam daftar pencarian internasional pada Januari 2026 hanya sebagian kecil dari jumlah kendaraan yang benar-benar dicuri di Jerman.

Menurut BKA, sebanyak 30.373 kendaraan dicuri di Jerman sepanjang 2024. Dari jumlah itu, hanya 8.858 kasus atau kurang dari 30 persen yang berhasil diungkap.

Baca juga: Kapal Tanker Rusia Bermuatan 1 Juta Barel Minyak Dihantam Drone

Serikat polisi: Rusia mendorong kejahatan

Benjamin Jendro, juru bicara serikat polisi GdP yang berbasis di Berlin, mengatakan kepada DW bahwa saat ini tidak ada pertukaran resmi yang intensif" dengan Rusia di banyak level.

Ia menambahkan, sebelumnya memang ada kasus di mana otoritas Rusia menemukan kendaraan yang sedang dicari.

"Namun, dalam kondisi saat ini, hampir tidak mungkin ada pejabat dari Jerman yang pergi ke Rusia untuk mengambil kendaraan curian, apalagi dalam banyak kasus, klaim asuransi sudah diselesaikan ketika kendaraan tersebut ditemukan," kata Jendro.

Ia menyebut rancangan undang-undang baru itu sebagai sinyal yang sangat buruk karena mendorong kejahatan.

"Selama bertahun-tahun, angka pencurian kendaraan relatif stabil, meski berada di level tinggi. Aturan seperti ini akan semakin melemahkan upaya aparat dalam memerangi jaringan pencurian mobil lintas negara," ujar juru bicara GdP tersebut.

"Selama ini, kami melihat mobil dicuri, dibawa ke Eropa Timur, lalu segera dibongkar karena produsen kendaraan telah meningkatkan sistem anti-pencurian, termasuk pemasangan pelacak GPS," lanjutnya.

"Namun, ada juga kendaraan yang memang dicuri sesuai pesanan tertentu dan langsung dikirim ke negara tujuan yang sulit dijangkau penegak hukum," sambungnya.

Baca juga: Iran Serap Taktik Drone Rusia, AS Terancam Kewalahan di Selat Hormuz

Pakar Rusia: Potensi penipuan asuransi skala besar?

Sejumlah pakar Rusia menyoroti aspek lain dari kebijakan ini. Alexander Kholodov dari Kamar Publik Federasi Rusia (OPRF) mengatakan dalam wawancara dengan portal berita Rusia Autonews bahwa perubahan undang-undang ini bisa membuka celah penipuan.

"Praktik seperti ini pernah terjadi pada 1990-an dan awal 2000-an. Skemanya adalah pencurian yang direkayasa, mobil dijual di Jerman, kemudian berakhir di Rusia, dan sebulan kemudian pemilik melaporkan kendaraan hilang. Ia lalu mendapatkan ganti rugi dari perusahaan asuransi di Jerman," ujar Kholodov.

Anggota Kamar Publik ditunjuk oleh presiden Rusia dan bertugas menggelar dengar pendapat publik terkait rancangan undang-undang yang berdampak luas.

Pengacara Rusia Sergei Smirnov juga menyampaikan pandangan serupa. "Undang-undang baru ini bisa mendorong pihak-pihak di luar Rusia untuk meningkatkan praktik penipuan asuransi di luar negeri. Mobil dicuri di Eropa, korban menerima klaim asuransi, lalu kendaraan dibawa secara ilegal ke Rusia dan dilegalkan melalui pendaftaran," kata Smirnov kepada Autonews.

Namun, Asosiasi Asuransi Jerman (GDV) menyatakan kepada DW bahwa skema tersebut tidak umum terjadi.

"Kami tidak mengetahui praktik seperti yang digambarkan, dan kami meyakini sebagian besar pencurian kendaraan memang merupakan tindak kriminal nyata, bukan rekayasa," bunyi pernyataan GDV.

Asosiasi ini juga menilai perubahan hukum di Rusia tidak serta-merta akan memicu lonjakan besar pencurian kendaraan di Jerman.

Artikel ini pernah tayang di DW Indonesia dengan judul: Rusia Ingin Melegalkan Mobil Hasil Curian dari Uni Eropa.

Baca juga: Cadangan Minyak Sisa 45 Hari, Filipina Buru-buru Impor dari Rusia

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Terkini Lainnya
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Rusia Ingin Legalkan Mobil Hasil Curian dari Uni Eropa
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat