Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

5 Risiko Kesehatan pada Kucing yang Kegemukan

JAKARTA, KOMPAS.com-- Kucing gemuk mungkin tampak menggemaskan, tetapi, sayangnya, ada beberapa masalah kesehatan yang cukup serius terkait dengan kucing yang kelebihan berat badan.

Obesitas pada kucing telah dikaitkan dengan berbagai kondisi medis yang dapat memengaruhi kualitas hidup kucing.

Dr. Renee Rucinsky, seorang praktisi kucing bersertifikat dan DABVP, Feline Specialty, memperingatkan bahwa “Kucing yang kelebihan berat badan diketahui memiliki rentang hidup yang lebih pendek, dan masalah kesehatan terkait dapat mematikan bagi kucing.”

Tidak hanya itu, mengobati komplikasi kesehatan terkait berat badan bisa sangat mahal dan memakan waktu.

Dr. Rucinsky menyarankan jauh lebih baik untuk melakukan apa pun untuk mencegah kucing menjadi kelebihan berat badan.

Berikut adalah lima masalah kesehatan yang mungkin terjadi pada kucing yang kegemukan seperti dilansir dari Catster, Rabu (30/6/2021).

1. Diabetes

Diabetes adalah kondisi serius yang menantang dan membutuhkan banyak tenaga untuk diobati. Dr. Heather Loenser, petugas veteriner senior di American Animal Hospital Association (AAHA) menjelaskan, “Kucing yang kelebihan berat badan, bahkan hanya beberapa kilogram, memiliki peningkatan risiko diabetes," ujarnya.

Manajemen diabetes membutuhkan suntikan insulin sering setiap 12 jam selama sisa hidup kucing.

"Izinkan saya mengatakannya lagi, suntikan dua kali sehari sampai kucing itu mati. Itu adalah komitmen besar dan jika dapat dicegah, itu akan meningkatkan kualitas hidup dan hubungan antara pengasuh kucing dan kucing," imbuhnya.

2. Tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi, seperti yang kadang-kadang disebut, dapat


menyebabkan dampak kesehatan yang besar bagi kucing seperti stroke dan kebutaan karena retina kucing terlepas.

Kucing yang kelebihan berat badan atau obesitas berisiko lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi.

Kelebihan berat badan dapat merusak tulang dan sendi kucing, dan sayangnya nyeri sendi tidak mudah untuk dilawan.

"Nneri radang sendi bisa sulit diobati karena kucing tidak memetabolisme obat penghilang rasa sakit umum dengan cara yang memungkinkan mereka meminumnya setiap hari, tanpa batas waktu, seperti kebanyakan orang dan anjing," ujar Dr. Loenser.

4. Lipidosis hati


 

Lipidosis hati lebih dikenal sebagai penyakit hati berlemak. Ini secara khusus terkait dengan

penurunan mendadak asupan kalori karena sakit, kucing dijauhkan dari makanan atau ditawari makanan yang tidak akan dimakan kucing.

Dr. Rucinsky memperingatkan bahwa ketika berbicara tentang kucing yang kelebihan berat badan, menghentikan makanan dengan alasan diet dan mengambil sikap bahwa kucing akan makan ketika dia lapar terlalu berisiko.

Bahkan jika kamu dan dokter hewan mencoba mengubah kucing ke diet manajemen berat badan, lipidosis hati dapat terjadi hanya dalam beberapa hari, dan perawatan memerlukan memasukkan selang makanan. Gejalanya meliputi tidak mau makan, kulit kuning dan penurunan berat badan.

5. Masalah kulit

Kucing yang kelebihan berat badan tidak hanya tidak sehat di dalam, kulit dan bulunya juga bisa mulai bermasalah.

Kulit yang gatal, dan bulu yang terkelupas dan berminyak semuanya bisa menjadi efek samping kucing yang kelebihan berat badan.

Dr. Loenser menjelaskan bahwa ini karena kucing yang kelebihan berat badan tidak dapat mencapai bagian tertentu dari tubuh mereka untuk dirawat dengan baik.

Pangkal ekor dan punggung adalah dua area kucing yang kelebihan berat badan sering mengalami kesulitan untuk dijangkau oleh kucing saat harus melakukan perawatan tubuh.

https://www.kompas.com/homey/read/2021/06/30/235336876/5-risiko-kesehatan-pada-kucing-yang-kegemukan

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com