Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ciri Ikan Cupang Kesepian, Stres dan Cara Mengatasinya

Kompas.com, 18 Februari 2022, 18:35 WIB
Lolita Valda Claudia

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com- Ikan cupang dikenal sebagai ikan yang mudah berkelahi dan menyerang ikan lainnya. Pada habitat aslinya, ikan cupang merupakan jenis ikan teritorial yang suka bertarung untuk mempertahankan areanya.

Karena sifatnya inilah ikan cupang dipelihara di dalam akuarium tersendiri tanpa ikan lainnya. Apabila ikan lain stres jika harus hidup sendirian, bagaimana dengan ikan cupang? Hal apa yang bisa menyebabkan ikan cupang stres, apakah karena hidup sendiri?

Melansir dari Pet Helpful, Jumat (18/2/2022), sebelum memelihara cupang sebaiknya ketahui sifat ikan cupang sehingga kamu bisa memberikan area tinggal yang sesuai dengan karakternya.

Baca juga: 4 Tips Merawat Ikan Cupang yang Sudah Tua

Apakah ikan cupang merasa kesepian?

Kebanyakan varietas ikan cupang betina memiliki sirip ekor yang lebih pendek daripada jantan.PEXELS/TIM MOSSHOLDER Kebanyakan varietas ikan cupang betina memiliki sirip ekor yang lebih pendek daripada jantan.

Meskipun terlihat menyedihkan, ikan cupang menikmati hidup sendiri dan tidak merasa kesepian.

Bahkan jika diberi pilihan, ikan cupang lebih memilih hidup sendiri karena sifat agresif dan teritorialnya.

Cupang jantan cenderung melindungi area kekuasaannya dan suka menyerang ikan lain yang masuk di area mereka.

Baca juga: Seperti Apa Buang Air Besar pada Ikan Cupang yang Normal?

Karena inilah sebaiknya hindari memelihara ikan cupang jantan di dalam akuarium yang sama. Meskipun ikan cupang yang ada dipasaran saat ini bukan merupakan cupang liar, karakter teritorial dan agresif masih mereka miliki.

Sebaiknya gunakan akuarium tersendiri karena ikan cupang Anda adalah jenis makhluk yang berbeda. Ikan ini memiliki kebutuhan dan perhatian yang berbeda, yang dapat hidup bahagia sendirian.

Baca juga: Tanaman yang Aman dan Harus Dihindari untuk Akuarium Ikan Cupang

Ciri ikan cupang bosan dan stres

Kebanyakan varietas ikan cupang betina memiliki sirip ekor yang lebih pendek daripada jantan.PEXELS/TIM MOSSHOLDER Kebanyakan varietas ikan cupang betina memiliki sirip ekor yang lebih pendek daripada jantan.

Tidak seperti yang kamu pikirkan, ikan cupang tidak merasa bosan meskipun hidup sendirian. Dengan kebutuhan makanan, air dan akuarium yang layak ia sudah menjadi ikan kecil yang bahagia.

Sayangnya banyak perilaku cupang yang ditafsirkan oleh pemelihara ikan sebagai kebosanan. Ia mungkin akan merasa bosan saat benar-benar stress dan hal ini dapat kamu lihat dari perilakunya berikut ini:

Baca juga: Kapan dan Bagaimana Cara Ikan Cupang Tidur?

  • Berenang tanpa henti dengan gerakan naik dan turun
  • Ikan terlalu banyak bersembunyi dibalik dekorasi akuarium bisa menjadi tanda ikan sedang sakit
  • Ikan cupang seringkali duduk atau tidur diatas daun tanaman dan enggan berenang

Penyebab stres pada ikan cupang seringkali disebabkan oleh kondisi air yang buruk, arus air yang berlebihan dan terlalu banyak sinar matahari langsung. Stress adalah penyebab ikan cupang mati dan tidak berumur panjang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau