Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sebaiknya Mencuci Piring dengan Air Panas atau Dingin?

Kompas.com, 4 Agustus 2023, 08:07 WIB
Esra Dopita Maret

Penulis

JAKARTA, KOMPAs.com - Mencuci piring menjadi salah satu tugas rumah tangga yang terbilang mudah dilakukan dan tidak menghabiskan banyak waktu. 

Namun, dalam kondisi tertentu, mencuci piring bisa menjadi sulit, seperti noda lemak membandel, sisa makanan yang sudah mengering, serta menghilangkan bakteri.  

Baca juga: Manfaat Menggunakan Loofah untuk Mencuci Piring dan Cara Pakainya

Dalam kondisi ini, biasanya orang menggunakan air panas untuk memudahkan pembersihan piring. Namun, efektifkah mencuci piring dengan air panas

Ketika berbicara tentang bakteri yang ditularkan melalui makanan, suhu air (setidaknya pada suhu yang dapat diterima tubuh Anda) tampaknya tidak membuat perbedaan:

Sebuah studi pada 2017 di Journal of Food Protection menemukan mencuci piring dengan air dingin dan suam-suam kuku sama efisiennya dengan air panas 37 derajat Celsius dalam menghilangkan bakteri.

Sabun pencuci piringlah yang menjadi kunci saat mencuci piring dengan tangan dan  membutuhkan air yang lebih hangat untuk bekerja. 

Baca juga: Catat, 6 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Mencuci Piring

Ilustrasi mencuci piring.Shutterstock/New Africa Ilustrasi mencuci piring.
Karena sebagian besar sabun pencuci piring berbahan dasar surfaktan, detergen ini tidak diformulasikan untuk air dingin serta membutuhkan energi panas dari air panas untuk membuat pembersihan minyak dan kotoran yang cepat. 

Kay Gebhardt, ahli kimia terlatih dan ilmuwan senior untuk keberlanjutan dan keaslian di Seventh Generation, mengatakan mencuci piring dengan tangan merupakan hal kenyamanan, sedangkan mencuci piring dengan air dingin sangat menyebalkan. 

Maka itu, Gebharft menyarankan beralihlah ke mesin pencuci piring otomatis dan aturan pencucian dingin yang sama berlaku seperti pada mesin cuci, asalkan memakai sabun cuci piring yang tepat. 

Baca juga: 5 Kesalahan Saat Mencuci Piring yang Harus Dihindari

"Kenyataannya adalah sebagian besar pembersihan di mesin pencuci piring terjadi karena agitasi atau pengadukan, bukan sabun cuci piring," kata Gebhardt dikutip dari Apartement Therapy, Jumat (4/8/2023).

Soal kuman, menurut standar National Sanitation Foundation, jika menjalankan siklus sanitasi khusus setiap saat (yang akan sangat menguras energi), mesin pencuci piring tidak mencapai suhu yang diperlukan untuk membersihkan piring, yakni 65 derajat Celsius.  

Intinya, meski air panas dalam beberapa kasus mempercepat proses pembersihan, untuk sebagian besar pekerjaan modern, air dingin juga bisa digunakan dan memiliki manfaat  sangat besar bagi lingkungan. 

Baca juga: Ketahui, Ini Bahaya Mencuci Piring dengan Spons Kotor 

Seperti yang ditunjukkan Gebhardt, 92 persen dari dampak lingkungan dalam audit energi Seventh Generation, termasuk transportasi dan manufaktur, datang dari konsumen yang menggunakan panas saat menggunakan produk mereka.

Tentu saja, ini jumlah yang sangat besar dan haru segera dikurangi, salah satunya mencuci piring dengan air dingin. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau