Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menyapu atau Menyedot Debu Dulu? Ini Urutan yang Benar agar Rumah Lebih Bersih

Kompas.com, 18 Juni 2025, 22:33 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Membersihkan rumah tampak seperti tugas yang sederhana, tetapi nyatanya ada banyak perdebatan soal urutan yang tepat. 

Salah satu pertanyaan paling umum adalah, sebaiknya menyapu atau menyedot debu lebih dulu?

Jawabannya ternyata bukan sekadar soal urutan, tetapi lebih kepada alat mana yang paling efektif untuk pekerjaan tersebut. 

Melansir Southern Living, berikut penjelasan lengkapnya agar kamu bisa membersihkan rumah dengan lebih efisien.

Baca juga: Cara Mencuci Sapu dengan Benar agar Tak Menyebarkan Debu dan Kotoran

Tidak harus selalu menyapu dan menyedot debu bersamaan 

Banyak orang merasa harus melakukan keduanya agar lantai benar-benar bersih. Padahal, penyedot debu yang bagus ditambah alat pel bisa menggantikan sapu dalam banyak situasi. 

Namun, ada beberapa sudut sempit atau sela-sela furnitur yang lebih mudah dijangkau oleh sapu. Dalam kasus ini, sapu masih bermanfaat, terutama untuk pembersihan cepat atau area yang sulit dijangkau penyedot debu.

Jika penyedot debumu dilengkapi aksesori yang bisa menjangkau celah dan sudut, menyapu bisa jadi tidak diperlukan. Namun, jika tidak, menyapu terlebih dulu bisa sangat membantu.

Untuk permukaan seperti karpet, menyapu bukan solusi ideal. Sapu tidak mampu membersihkan debu dan kotoran yang menempel di serat karpet. Untuk itu, penyedot debu tetap jadi pilihan utama di permukaan berlapis kain.

Baca juga: 5 Cara Membersihkan Karpet Tanpa Vacuum Cleaner

Pentingnya menyapu terlebih dahulu 

Jika kamu berencana menggunakan sapu dan penyedot debu, menyapu lebih dulu adalah langkah yang tepat. 

Dengan menyapu, kamu membantu melepaskan debu dan kotoran yang menempel di permukaan seperti dinding, bawah furnitur, atau sudut lantai. Setelah itu, penyedot debu bisa bekerja lebih maksimal tanpa ada partikel halus yang terlewat.

Selain itu, menyapu lebih dulu mencegah penyedot debu langsung mengisap debu yang beterbangan, yang bisa berakhir tersebar kembali di udara.

Baca juga: 4 Langkah Mudah Menyapu Lantai agar Efisien dan Bersih

Kapan harus mengepel?

Mengepel sebaiknya dilakukan setelah penyedotan debu atau menyapu. Jika dilakukan sebelumnya, debu dan kotoran justru akan tersebar saat lantai basah, menciptakan noda yang sulit dihilangkan.

Untuk hasil paling bersih, kamu bahkan bisa menggunakan metode "sandwich", yakni menyedot debu, lalu mengepel, kemudian menyedot debu lagi setelah lantai kering. 

Meskipun penyedotan kedua bersifat opsional, langkah pertama wajib dilakukan agar lantai bersih sebelum terkena alat pel.

Baca juga: 5 Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Membeli Vacuum Cleaner

Dengan demikian, simpulannya, gunakan sapu jika banyak debu menumpuk di sudut, bawah perabot, atau area sulit dijangkau.

Gunakan penyedot debu sebagai alat utama untuk karpet atau permukaan yang halus. Kemudian, mengepel harus dilakukan terakhir, setelah debu dan kotoran dibersihkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau