Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Barang Elektronik yang Diam-diam Menyedot Listrik di Rumah

Kompas.com, 14 Oktober 2025, 17:40 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Beberapa perangkat elektronik ternyata terus menyedot listrik meskipun sedang tidak digunakan. Fenomena ini dikenal sebagai standby power atau “daya siaga”.

Meski terlihat sepele, daya yang dikonsumsi dalam mode siaga ini berasal dari komponen seperti lampu indikator, layar jam digital, hingga sistem sensor otomatis yang tetap aktif sepanjang waktu. Jadi, jika dibiarkan terus-menerus, tagihan listrik bisa meningkat tanpa disadari.

Barang elektronik yang diam-diam menyedot listrik 

Ilustrasi perangkat elektronik yang tetap menyedot listrik meski tidak digunakan.Shutterstock/New Africa Ilustrasi perangkat elektronik yang tetap menyedot listrik meski tidak digunakan.

Dilansir dari Better Homes and Gardens, berikut adalah tujuh barang elektronik yang diam-diam menghabiskan listrik di rumah, beserta tips untuk mengurangi penggunaannya.

Baca juga: 8 Barang Elektronik yang Tidak Boleh Dicolokkan ke Stopkontak Ekstensi

TV dan konsol game

TV dan konsol game merupakan salah satu perangkat elektronik penyedot listrik terbesar di rumah. Meski terlihat mati, perangkat ini biasanya berada dalam mode siaga agar bisa menerima sinyal dari remote, Wi-Fi, atau Bluetooth kapan saja. 

Setiap TV yang dibiarkan dalam mode siaga bisa menggunakan sekitar 2 hingga 5 watt listrik setiap jam. Dalam satu tahun, jumlah itu bisa setara dengan daya yang digunakan untuk menyalakan lampu kecil selama berbulan-bulan. 

Untuk menghemat energi, gunakan power strip dengan saklar agar kamu bisa mematikan beberapa perangkat sekaligus hanya dengan satu tombol.

Baca juga: 5 Barang Elektronik yang Harus Dicabut dari Stopkontak Saat Keluar Rumah

Peralatan dapur 

Peralatan dapur seperti microwave, mesin pembuat kopi, pemanggang roti, air fryer, atau teko listrik biasanya memiliki layar digital atau jam kecil yang tetap menyala meski tidak sedang digunakan. 

Fitur ini tampak sederhana, tetapi menggunakan daya listrik secara terus-menerus.

Jika di dapur ada lima hingga enam perangkat semacam ini, konsumsi listriknya bisa bertambah cukup signifikan setiap bulan. 

Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan memilih peralatan dapur tanpa tampilan digital atau jam. Teko kompor dan pemanggang manual, misalnya, bisa menjadi pilihan yang lebih hemat energi sekaligus tahan lama.

Baca juga: Barang Elektronik yang Harus Dicabut dari Stopkontak Saat Badai

Komputer, laptop, dan charger 

Komputer dan laptop juga berkontribusi besar dalam pemborosan listrik rumah tangga. Banyak orang membiarkan perangkat ini dalam mode sleep atau hibernate, padahal dalam kondisi tersebut, komponen seperti kartu jaringan dan sistem pendingin tetap menarik daya dari stopkontak.

Selain itu, charger laptop dan ponsel yang dibiarkan tercolok tetap menarik arus listrik, meskipun perangkat sudah penuh atau bahkan tidak terpasang. 

Energi yang tersedot mungkin kecil per unit, tetapi jika dihitung selama setahun, jumlahnya cukup besar. 

Baca juga: 5 Barang Elektronik yang Tidak Boleh Dinyalakan Bersamaan

Kulkas

Kulkas memang tidak bisa dimatikan begitu saja karena berfungsi menjaga makanan tetap segar. Namun, alat ini menggunakan energi dalam jumlah besar sepanjang waktu. 

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau