Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Tren Berkebun yang Mulai Ditinggalkan, Taman Jadi Lebih Ramah Lingkungan

Kompas.com, 3 Februari 2026, 20:50 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Memasuki tahun 2026, tren berkebun mulai bergeser ke arah yang lebih berkelanjutan dan mudah dirawat.

Para penghobi tanaman kini semakin sadar bahwa taman tidak hanya berfungsi sebagai penghias rumah, tapi juga sebagai ruang hidup bagi berbagai makhluk dan bagian dari ekosistem.

Sejumlah kebiasaan lama yang dianggap boros air, bergantung pada bahan kimia, dan kurang ramah lingkungan pun mulai ditinggalkan.

Tren berkebun yang mulai ditinggalkan 

Ilustrasi berkebunPEXELS/Karolina Grabowska Ilustrasi berkebun

Dilansir dari Better Homes and Gardens, berikut ini 5 tren berkebun yang mulai ditinggalkan pada 2026 beserta alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Baca juga: 3 Tips Menanam Sayur di Lahan Sempit Menurut Ahli Berkebun

Menanam tanaman non-lokal yang sulit dirawat

Tanaman non-lokal memang dikenal mampu mempercantik taman dengan warna-warna cerah.

Namun, banyak jenis tanaman ini membutuhkan perawatan ekstra, mulai dari penyiraman intensif, pupuk khusus, atau kondisi tanah tertentu agar dapat tumbuh optimal.

Selain itu, di wilayah beriklim tropis, sejumlah tanaman non-lokal umumnya hanya bertahan sebagai tanaman semusim sehingga harus dibeli kembali setiap tahun.

Kondisi ini membuat perawatannya menjadi tidak efisien, baik dari segi biaya maupun sumber daya.

Sebagai gantinya, semakin banyak pekebun yang memilih menanam tanaman asli daerah setempat.

Baca juga: Sayuran Apa yang Paling Cocok Ditanam di Lahan Sempit? Ini Kata Ahli Berkebun

Tanaman lokal telah beradaptasi secara alami dengan iklim dan kondisi tanah di wilayahnya, sehingga lebih tahan terhadap cuaca ekstrem, kekeringan, serta serangan hama.

Dari segi tampilan, tanaman lokal juga tidak kalah menarik dan tetap mampu menghadirkan warna pada taman.

Menanam tanaman lokal juga berperan penting dalam mendukung populasi serangga penyerbuk dan menjadikan taman lebih ramah bagi satwa liar.

Halaman rumput luas yang selalu dipangkas rapi

Konsep halaman rumput luas sebenarnya baru populer sejak abad ke-18 dan awalnya menjadi simbol status sosial, terutama di kawasan Eropa seperti Istana Versailles.

Baca juga: 5 Trik Berkebun yang Terbukti Ampuh Tingkatkan Hasil Panen

Akan tetapi, banyak jenis rumput yang digunakan saat ini merupakan tanaman non-lokal yang membutuhkan air dalam jumlah besar serta perawatan rutin agar tetap hijau.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau