Penulis
KOMPAS.com - Pernahkah Anda masuk ke sebuah ruangan yang secara teknis sempurna, furniturnya mahal, warnanya serasi, tapi rasanya ada yang janggal? Seperti ada sesuatu yang kurang, atau justru terlalu dipaksakan.
Ternyata, dalam dunia desain interior, garis antara hunian yang nyaman dan katalog toko furnitur yang dingin, itu sangat tipis.
Banyak dari kita terjebak dalam tren atau aturan lama yang sebenarnya justru membuat rumah terasa kurang hidup.
Baca juga: Arti Warna Pintu Depan Rumah Menurut Desainer Interior, Jangan Asal Pilih
Mari kita bedah beberapa kesalahan umum yang sering kita lakukan tanpa sadar, dan bagaimana cara memberikan sentuhan manusiawi kembali ke dalam ruangan Anda.
1. Jebakan Furnitur yang Membosankan
Kesalahan paling umum adalah membeli satu set lengkap furnitur untuk ruang tamu atau kamar tidur dari satu toko.
Memang praktis, tapi hasilnya? Ruangan Anda jadi kehilangan karakter. Desain interior yang baik seharusnya bercerita tentang perjalanan hidup Anda, bukan tentang seberapa besar limit kartu kredit Anda di toko furnitur tertentu.
Solusinya, jangan takut untuk mencampur. Padukan sofa modern dengan meja kopi antik warisan nenek, atau kursi rotan yang Anda temukan di pasar loak.
Perbedaan tekstur dan era inilah yang membuat ruangan terasa hangat dan autentik.
2. Pencahayaan yang Terlalu Galak
Banyak orang hanya mengandalkan satu lampu utama di tengah plafon. Cahaya putih yang terlalu terang, seperti di kantor atau rumah sakit, bisa membunuh suasana rumah dalam sekejap. Cahaya bukan sekadar alat agar kita tidak menabrak meja, tapi pembentuk mood.
Baca juga: Mengenal Japandi, Konsep Interior yang Cocok untuk Rumah Modern Minimalis
Gunakan sistem pencahayaan berlapis. Tambahkan lampu meja dengan cahaya hangat, floor lamp di sudut baca, atau lilin aromaterapi. Cahaya yang temaram dan tersebar menciptakan kedalaman ruang yang menenangkan.
3. Takut pada Warna dan Karakter
Ada tren besar di mana semua orang ingin rumahnya serba putih atau abu-abu agar terlihat estetik di Instagram.
Masalahnya, tanpa aksen, rumah jadi terasa steril dan tidak punya jiwa. Kita seringkali terlalu takut salah sehingga memilih jalan paling aman: polos.