Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com – Hukum dasar ekonomi kembali mendominasi lanskap properti Tanah Air pada awal tahun ini.
Ketika ketersediaan aset di pasar menyusut, tekanan terhadap harga menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.
Berdasarkan Flash Report Februari 2026 Rumah123, pasar properti sekunder Indonesia sedang mengalami pengetatan pasokan yang signifikan, di mana indeks suplai nasional merosot tajam 9,2 persen secara tahunan (YoY).
Baca juga: Tak Lagi Spekulatif, Harga Tanah Rerata Jadebotabek Rp 12,7 Juta Per Meter Persegi
Kelangkaan ini menjadi katalisator utama yang mendorong harga rumah terus naik. Meski secara nasional kenaikan harga berada di angka konservatif 0,7 persen (YoY), sejumlah wilayah strategis justru mencatatkan lonjakan harga agresif akibat ketimpangan antara permintaan yang tetap tinggi dengan stok yang kian terbatas.
Anomali paling ekstrem terjadi di jantung ibu kota. Di saat suplai melandai, harga hunian tipe compact dengan luas kurang dari 60 meter persegi di Jakarta Pusat melesat fantastis hingga 36,4 persen (YoY).
Fenomena ini mengindikasikan bahwa keterbatasan lahan dan stok unit siap huni di lokasi ring-1 telah menciptakan kompetisi ketat di antara pembeli.
Baca juga: Meski Disetop Ara, Fahri Galang Lagi Pinjaman Asing buat 3 Juta Rumah
Head of Research Rumah123, Marusa Jaya, menyoroti, berkurangnya pasokan ini merupakan sinyal kuat dari tingginya holding power pemilik aset.
Indonesia sedang melihat mekanisme pasar di mana pasokan sengaja ditahan. Penurunan suplai sebesar 9,2 persen menunjukkan pemilik properti lebih memilih menyimpan aset mereka sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi daripada menjualnya.
"Akibatnya, terjadi kelangkaan stok di pasar sekunder yang secara otomatis mendorong harga naik, terutama pada unit-unit yang paling banyak diburu seperti tipe hunian kecil di pusat kota,” jelas Marisa, dikutip Kompas.com, Senin (9/2/2026).
Efek dari menipisnya pasokan juga merambat ke wilayah penyangga Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Data menunjukkan bahwa meski suplai menyusut secara bulanan sebesar 1,7 persen (MoM), harga di mayoritas kota besar justru terus merangkak naik.
Baca juga: Dukung Pengentasan Backlog Rumah, KPR Sejahtera BCA Tak Pakai APBN
Surakarta mencatatkan kenaikan harga bulanan tertinggi sebesar 3,0 persen, Medan mengalami apresiasi harga 2,8 persen secara bulanan, dan Bogor memimpin kenaikan di Jabodetabek dengan pertumbuhan 1,7 persen (MoM).
Di Yogyakarta dan Medan, harga rumah bahkan tumbuh masing-masing 5,2 persen dan 3,8 persen secara efektif melampaui laju inflasi dan memberikan real capital gain bagi pemiliknya.
Kenaikan harga ini mencerminkan resiliensi sektor properti. Di tengah inflasi IHK yang menyentuh 3,55 persen, properti tetap menjadi magnet bagi modal yang mencari keamanan.
1. Luas ≤60 meter persegi (Compact)