Penulis
KOMPAS.com - Grup Djarum merupakan konglomerasi yang bisnisnya sangat beragam. Bermula dari produk rokok kretek, kelompok bisnis ini kemudian merambah ke berbagai sektor, dari mulai perbankan, media, makanan dan minuman, hingga properti.
Awal mula Grup Djarum berawal dari sosok Oei Wie Gwan, pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Ia memulai usaha dengan memproduksi mercon atau petasan yang dipasarkan ke berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Namun, bisnis tersebut tidak bertahan lama setelah pabriknya mengalami ledakan pada 1939 dan kembali terjadi pada 1942. Peristiwa itu mendorong Oei untuk beralih usaha ke industri rokok.
Ia kemudian mengakuisisi perusahaan kecil bernama Djarum Gramophon dan menggantinya menjadi Pabrik Rokok Djarum (PR Djarum) pada 21 April 1951 di Kudus, Jawa Tengah.
Usaha Djarum kemudian diwariskan kepada generasi kedua, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono.
Baca juga: Deretan Bisnis Properti Milik Grup Djarum: Mal hingga Kawasan Industri
Melanjutkan perjuangan sang ayah, keduanya berupaya membangun kembali bisnis keluarga yang sempat terpuruk. Secara bertahap, perusahaan ini berkembang pesat hingga menjelma menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia.
Bisnis Grup Djarum semakin membesar setelah mengakuisi Bank BCA dari Grup Salim. Grup ini juga merambah bisnis properti, PT Cipta Karya Bumi Indah, yang kemudian mengelola beberapa blok di kawasan elit Bundaran HI.
Keterlibatan Grup Djarum dalam pengelolaan kawasan Hotel Indonesia berawal setelah PT Cipta Karya Bumi Indah memenangkan hak pengelolaan kawasan Grand Indonesia pada 2004.
Merujuk arsip KOMPAS.com, Grand Indonesia resmi dibuka untuk publik pada April 2007. Pusat perbelanjaan tersebut berdiri di atas bekas lokasi Hotel Indonesia Intercontinental yang sebelumnya menjadi salah satu ikon Jakarta.
Hotel tersebut memiliki nilai historis tinggi karena diresmikan pada 5 Agustus 1962 oleh Soekarno dalam rangka menyambut perhelatan Asian Games IV.
Pengembangan Grand Indonesia sendiri merupakan bagian dari proyek revitalisasi kawasan Hotel Indonesia yang kemudian dikonsep sebagai Grand Indonesia Superblock.
Baca juga: Siapa Pemilik JGC Cakung, Pengembang yang Didemo Gara-gara Bau Sampah?
Kawasan terpadu ini mencakup tiga elemen utama, yakni Grand Indonesia Shopping Town (mal), Hotel Indonesia Kempinski, serta Menara BCA sebagai gedung perkantoran.
Pengelolaan kawasan HI ini bermula pada era pemerintahan Megawati Soekarnoputri bersama Menteri BUMN Laksamana Sukardi. Saat itu, BUMN PT Hotel Indonesia Natour menjajaki kerja sama dengan PT Cipta Karya Bumi Indah.
Dalam prosesnya, perusahaan tersebut keluar sebagai pemenang lelang pengelolaan Hotel Indonesia dan kemudian menandatangani perjanjian kerja sama dengan PT Hotel Indonesia Natour (Persero).
Kerja sama ini menggunakan skema Built, Operate, and Transfer (BOT), yakni bentuk kemitraan antara pemerintah dan swasta dalam pembangunan infrastruktur.