Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Persahabatan Manusia dan Anjing Sudah Terjalin Sejak 14.000 Tahun Lalu

KOMPAS.com - Hubungan manusia dan anjing ternyata jauh lebih tua dari yang selama ini diperkirakan. Dua studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 25 Maret mengungkap bahwa anjing sudah menjadi spesies yang berbeda dari serigala—dan hidup berdampingan dengan manusia—lebih dari 14.000 tahun lalu.

Temuan ini memperkuat gagasan bahwa anjing adalah hewan pertama yang didomestikasi manusia, bahkan sebelum manusia mengenal pertanian. Artinya, hubungan emosional dan fungsional antara manusia dan anjing sudah terbentuk jauh sebelum peradaban modern berkembang.

“Begitu manusia memiliki anjing, hewan ini akan terus melekat pada populasi manusia sepanjang waktu,” ujar Lachie Scarsbrook, ahli paleogenetika dari Ludwig Maximilian University, Jerman.

Ia menambahkan, “Kami menyebutnya seperti ‘Swiss Army Dog’—anjing yang bisa beradaptasi dengan berbagai peran budaya yang kita kenal saat ini.”

Mengungkap Misteri dari Tulang-Tulang Kuno

Para arkeolog sebenarnya telah lama menemukan sisa-sisa hewan mirip anjing yang dikubur bersama manusia sejak 34.000 tahun lalu. Namun, tidak semua temuan itu benar-benar anjing.

Menurut Scarsbrook, praktik mengubur hewan bersama manusia bukanlah bukti pasti domestikasi.

“Kita tahu manusia telah melakukan itu selama ribuan tahun, bahkan dengan hewan liar,” jelasnya.

Masalah lain adalah kemiripan bentuk fisik antara anjing dan serigala. Bahkan dari potongan kecil seperti gigi atau tengkorak, keduanya sulit dibedakan.

“Banyak dugaan anjing purba, setelah diuji DNA-nya, ternyata adalah serigala,” kata William Marsh dari Natural History Museum London.

Sebelumnya, anjing tertua yang benar-benar terkonfirmasi berasal dari sekitar 10.900 tahun lalu. Namun, dengan temuan terbaru, para ilmuwan kini yakin proses domestikasi sudah berlangsung jauh lebih awal—kemungkinan sejak era Paleolitikum Atas (12.000–50.000 tahun lalu).

Bukti Genetik: Anjing Sudah Ada 14.200 Tahun Lalu

Tim peneliti yang dipimpin Anders Bergström menganalisis DNA dari 216 sisa-sisa anjing dan serigala yang ditemukan di berbagai situs kuno di Eropa.

Hasilnya, sampel tertua yang benar-benar teridentifikasi sebagai anjing berasal dari 14.200 tahun lalu di wilayah Swiss.

Sementara itu, tim lain yang dipimpin Scarsbrook dan Marsh meneliti delapan sampel dari wilayah Turki, Iran, Serbia, dan Inggris. Mereka menemukan bahwa enam di antaranya adalah anjing dengan kemiripan genetik yang tinggi.

Ini menunjukkan bahwa sekitar 14.300 tahun lalu, sudah ada garis keturunan anjing yang relatif konsisten di seluruh Eropa.

Seperti Apa Anjing Purba?

Meski penelitian ini belum bisa menggambarkan secara pasti rupa anjing zaman itu, para ilmuwan menduga bentuknya masih sangat mirip serigala—hanya lebih kecil.

“Kami menduga mereka terlihat seperti serigala kecil,” kata Scarsbrook.

Menariknya, gen dari anjing-anjing purba ini masih bertahan hingga kini. Mereka menjadi nenek moyang dari berbagai ras modern seperti German Shepherd dan St. Bernard.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa berbagai budaya manusia purba memiliki hubungan dengan anjing yang mirip, meskipun hidup di wilayah berbeda.

Di Anatolia (Turki modern), manusia tidak hanya mengubur orang mati, tetapi juga anak anjing mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa anjing sudah dianggap memiliki “status sosial” layaknya manusia.

“Ini menunjukkan mereka memiliki semacam ‘personhood’ yang sama,” ujar Scarsbrook.

Di sisi lain, budaya Magdalenian di Eropa Barat memiliki praktik yang lebih kompleks, termasuk ritual kanibalisme dan pengolahan tulang manusia. Menariknya, tulang anjing juga menunjukkan perlakuan simbolis serupa.

“Mereka memperlakukan anjing dengan cara yang sangat simbolis, mirip seperti kita memperlakukan anjing saat ini,” kata Marsh.

Pertanian Mengubah Manusia, Tapi Tidak Anjing

Ketika pertanian mulai berkembang sekitar 12.000 tahun lalu di Timur Tengah, manusia bermigrasi besar-besaran ke Eropa. Migrasi ini bahkan menggantikan hingga 80–90 persen garis keturunan manusia di Eropa.

Namun, hal yang menarik: anjing tidak ikut tergantikan.

“Para petani tidak menggantikan anjing lama, tetapi justru mengintegrasikan mereka ke dalam populasi anjing mereka sendiri,” jelas Bergström.

Ini menunjukkan bahwa anjing sudah begitu penting bagi manusia sehingga tetap dipertahankan, meski terjadi perubahan besar pada populasi manusia.

Domestikasi: Proses Panjang yang Belum Sepenuhnya Terungkap

Meski anjing sudah ada di Eropa 14.000 tahun lalu, bukan berarti domestikasi terjadi pada waktu itu. Para ilmuwan percaya proses ini dimulai jauh lebih awal, kemungkinan di luar Eropa.

Krishna Veeramah, ahli genetika populasi, menjelaskan: “Domestikasi adalah proses panjang lintas generasi. Itu tidak bisa terjadi secara tiba-tiba.”

Dengan kata lain, anjing yang kita kenal hari ini adalah hasil dari ribuan tahun evolusi bersama manusia.

Temuan ini bukan hanya soal sejarah anjing, tetapi juga tentang manusia itu sendiri.

“Bayangkan, kita dulu bersaing dengan spesies ini. Sekarang, justru bekerja sama dengan mereka. Itu sangat menarik,” kata Scarsbrook.

Dari penjaga, pemburu, hingga sahabat setia—anjing telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan manusia.

Dan tampaknya, persahabatan itu sudah dimulai jauh lebih lama dari yang pernah kita bayangkan.

https://www.kompas.com/sains/read/2026/03/26/160540023/persahabatan-manusia-dan-anjing-sudah-terjalin-sejak-14000-tahun-lalu

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com