Penulis
KOMPAS.com - Cephalopoda (kelompok yang mencakup gurita dan cumi-cumi) adalah hewan yang ahli dalam penyamaran.
Cephalopoda memiliki mekanisme yang sangat baik untuk beradaptasi dan mengubah pigmen mereka, bergantung pada kebutuhan mereka saat itu.
Camille Martin dari Universitas Northeastern dan profesor Leila Deravi berinisiatif untuk dapat memanfaatkan ini. Mereka tengah mengerjakan sesuatu yang bermanfaat dari pigmen cephalopoda, yakni tabir surya.
Tabir surya merupakan salah satu pertahanan utama kita terhadap sinar matahari yang berbahaya. Tabir surya yang berkualitas baik memberikan perlindungan bagi penggunanya, meski zat ini juga dapat bersifat racun.
Deravi menjelaskan, ada banyak racun yang terkandung dalam filter UV (tradisional) pada tabir surya. Beberapa filter UV kimia khususnya diketahui menciptakan oksigen reaktif yang tidak hanya buruk bagi lingkungan, tetapi juga dapat meresap ke dalam kulit dan menyebabkan racun sistemik.
Misalnya, jika kita menggunakan banyak tabir surya di pantai, dan pengguna biasanya juga berenang di pantai, maka dibutuhkan tabir surya yang tidak berbahaya bagi makhluk laut.
Jadi, Deravi dan Martin pun mulai mencari dan menemukan sesuatu yang mungkin dapat menjadi solusnya.
Baca juga: Beginilah Cara Tabir Surya Melindungi Kulit Anda
Bahan rahasianya adalah Xanthochrome. Xanthochrome pada dasarnya adalah nama dagang dari xanthommatin, sebuah molekul yang ditemukan pada kulit sotong, gurita, cumi-cumi, serta serangga.
Molekul pluripoten adalah bahan yang dibutuhkan tabir surya. Molekul ini memiliki sifat antioksidan yang baik untuk kulit manusia dan juga biokompatibel. Ini berarti, molekul tersebut tidak akan mencemari lingkungan dan membahayakan satwa laut.
Menurut Deravi, penelitian Martin adalah yang pertama kali menunjukkan bahwa molekul-molekul kecil di dalam kulit cephalopoda yang berperan dalam kamuflase pada hewan tersebut juga memiliki sifat antioksidan yang sangat menarik.
Antioksidan tersebut adalah penangkal radikal bebas, yang sangat penting bagi kesehatan kulit dan fungsi penghalang kulit.
Dan antioksidan itu juga memiliki sifat optik yang cukup penting untuk melindungi dari paparan sinar matahari, yang merupakan fungsi utama dari beberapa filter UV dan tabir surya.
Baca juga: 5 Kesalahan Pemakaian Tabir Surya yang Paling Sering Terjadi
Xanthochrome disintesis sebagai bubuk bertekstur berwarna cokelat. Bubuk ini dicampur dengan zinc oxide, yang dianggap sebagai bahan yang aman dan efektif dalam tabir surya.
Jika dikombinasikan dengan zinc oxide , perlindungan ultraviolet Xanthochrome meningkat sebesar 28 persen dan kemampuannya menghalangi cahaya tampak meningkat sebesar 45 persen.
Kedua peneliti tersebut telah menerbitkan sebuah studi baru yang merinci temuan terbaru mereka dan kini tengah mencari mitra untuk memasukkan Xanthochrome ke dalam produk.
Mereka melihat molekul tersebut sebagai produk kosmetik generasi berikutnya, mirip dengan tinoid dan asam hialuronat.
Menurut Martin, studinya ini menciptakan sesuatu yang tidak hanya aman bagi semua orang, tetapi juga lingkungan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang