Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Buat Tabir Surya dari Pigmen Cumi-cumi dan Gurita

Kompas.com, 26 Juli 2024, 16:00 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Cephalopoda (kelompok yang mencakup gurita dan cumi-cumi) adalah hewan yang ahli dalam penyamaran.

Cephalopoda memiliki mekanisme yang sangat baik untuk beradaptasi dan mengubah pigmen mereka, bergantung pada kebutuhan mereka saat itu.

Camille Martin dari Universitas Northeastern dan profesor Leila Deravi berinisiatif untuk dapat memanfaatkan ini. Mereka tengah mengerjakan sesuatu yang bermanfaat dari pigmen cephalopoda, yakni tabir surya.

Tabir surya merupakan salah satu pertahanan utama kita terhadap sinar matahari yang berbahaya. Tabir surya yang berkualitas baik memberikan perlindungan bagi penggunanya, meski zat ini juga dapat bersifat racun.

Deravi menjelaskan, ada banyak racun yang terkandung dalam filter UV (tradisional) pada tabir surya. Beberapa filter UV kimia khususnya diketahui menciptakan oksigen reaktif yang tidak hanya buruk bagi lingkungan, tetapi juga dapat meresap ke dalam kulit dan menyebabkan racun sistemik.

Misalnya, jika kita menggunakan banyak tabir surya di pantai, dan pengguna biasanya juga berenang di pantai, maka dibutuhkan tabir surya yang tidak berbahaya bagi makhluk laut.

Jadi, Deravi dan Martin pun mulai mencari dan menemukan sesuatu yang mungkin dapat menjadi solusnya.

Baca juga: Beginilah Cara Tabir Surya Melindungi Kulit Anda

Tabir surya dari cumi-cumi

Bahan rahasianya adalah Xanthochrome. Xanthochrome pada dasarnya adalah nama dagang dari xanthommatin, sebuah molekul yang ditemukan pada kulit sotong, gurita, cumi-cumi, serta serangga.

Molekul pluripoten adalah bahan yang dibutuhkan tabir surya. Molekul ini memiliki sifat antioksidan yang baik untuk kulit manusia dan juga biokompatibel. Ini berarti, molekul tersebut tidak akan mencemari lingkungan dan membahayakan satwa laut.

Menurut Deravi, penelitian Martin adalah yang pertama kali menunjukkan bahwa molekul-molekul kecil di dalam kulit cephalopoda yang berperan dalam kamuflase pada hewan tersebut juga memiliki sifat antioksidan yang sangat menarik.

Antioksidan tersebut adalah penangkal radikal bebas, yang sangat penting bagi kesehatan kulit dan fungsi penghalang kulit.

Dan antioksidan itu juga memiliki sifat optik yang cukup penting untuk melindungi dari paparan sinar matahari, yang merupakan fungsi utama dari beberapa filter UV dan tabir surya.

Baca juga: 5 Kesalahan Pemakaian Tabir Surya yang Paling Sering Terjadi

Segera hadir di pasaran

Xanthochrome disintesis sebagai bubuk bertekstur berwarna cokelat. Bubuk ini dicampur dengan zinc oxide, yang dianggap sebagai bahan yang aman dan efektif dalam tabir surya.

Jika dikombinasikan dengan zinc oxide , perlindungan ultraviolet Xanthochrome meningkat sebesar 28 persen dan kemampuannya menghalangi cahaya tampak meningkat sebesar 45 persen.

Kedua peneliti tersebut telah menerbitkan sebuah studi baru yang merinci temuan terbaru mereka dan kini tengah mencari mitra untuk memasukkan Xanthochrome ke dalam produk.

Mereka melihat molekul tersebut sebagai produk kosmetik generasi berikutnya, mirip dengan tinoid dan asam hialuronat.

Menurut Martin, studinya ini menciptakan sesuatu yang tidak hanya aman bagi semua orang, tetapi juga lingkungan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau