Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Anak Kucing Bisa Terlihat Sangat Berbeda Walau Satu Induk? 

Kompas.com, 24 November 2025, 18:49 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Jika manusia umumnya memiliki kemiripan fisik dengan saudara kandungnya, lain halnya dengan kucing. Satu induk kucing bisa melahirkan anak-anak dengan penampilan yang sangat beragam: ada yang hitam, putih, tortoiseshell, tabby, bahkan ada yang berbulu panjang sementara lainnya berbulu pendek. Mengapa saudara kandung kucing bisa terlihat seolah tidak ada hubungan keluarga?

Ternyata, jawabannya melibatkan dua faktor penting: genetika warna bulu kucing yang sangat kompleks dan kemampuan unik sistem reproduksi kucing betina.

Baca juga: 4 Mitos Tentang Kucing yang Sering Disalahpahami dan Fakta Ilmiahnya

Genetika Warna Bulu Kucing yang Rumit

Asosiasi Cat Fanciers' Association mengakui puluhan variasi warna dan pola bulu kucing. Mulai dari warna solid hingga pola khas seperti rosetted tabby pada Bengal atau bulu tebal pada Abyssinian. Semua itu berasal dari kombinasi gen yang saling berinteraksi.

Jonathan Losos, profesor biologi dari Washington University di St. Louis dan penulis buku The Cat's Meow: How Cats Evolved from the Savanna to Your Sofa (2023), menjelaskan: "Ada banyak gen berbeda yang terlibat dalam warna dan pola kucing, dan ini menjadi rumit karena beberapa gen bisa menimpa gen lainnya."

Menurutnya, ada beberapa poin penting dari sistem genetika kucing:

  • Ada gen yang mengatur warna solid, ada gen untuk pola, ada pula gen yang menentukan panjang bulu.
  • Gen bekerja dalam “hirarki”. Misalnya, mutasi gen untuk bulu putih dominan dapat menutupi semua warna lain.

Pola seperti tabby terbentuk dari kombinasi gen pola dan gen warna.

Beberapa warna bulu juga terkait dengan kromosom X, sehingga jantan dan betina memiliki peluang pola yang berbeda. Inilah alasan mengapa kucing calico atau tortoiseshell hampir selalu betina.

Dari kombinasi gen yang banyak dan saling menimpa inilah, anak kucing dalam satu indukan bisa tampil dengan warna dan pola yang sangat berbeda meski berasal dari induk yang sama. Namun, genetika hanyalah sebagian cerita.

Baca juga: Benarkah Kucing Oranye Lebih Konyol? Ilmu Genetika Menjawabnya

ilustrasi anak kucingiStockPhoto/skynesher ilustrasi anak kucing

Fenomena Banyak Ayah: Heteropaternal Superfecundation

Faktor kedua yang membuat anak-anak kucing berbeda adalah sifat induced ovulation pada kucing betina. Berbeda dari manusia, kucing betina baru melepaskan sel telur setelah kawin. Ini berarti:

Saat kawin dengan satu jantan, sel telur mulai dilepaskan. Selama beberapa hari setelahnya, jika kucing betina kawin dengan jantan lain, sel telur lainnya juga bisa dibuahi.

Dengan kata lain, satu generasi anak kucing bisa memiliki lebih dari satu ayah. Fenomena ini disebut heteropaternal superfecundation.

Akibatnya, sebagian anak kucing dalam satu litter (generasi) mungkin hanya berbagi 25% kesamaan genetik, bukan 50% seperti saudara kandung pada manusia. Ini membuat penampilan mereka dapat berbeda jauh.

Fenomena ini juga terjadi pada hewan lain seperti anjing, domba, dan sapi. Bahkan, dalam kasus yang sangat jarang, hal ini pernah terjadi pada manusia.

Baca juga: Rahasia Di Balik Warna Oranye Pada Bulu Kucing 

Mengapa Kucing Sering Memiliki Banyak Ayah dalam Satu Litter?

Para ilmuwan belum menemukan jawaban pasti, tetapi beberapa teori telah diajukan.

Bruce Kornreich, direktur Cornell Feline Health Center, menjelaskan bahwa induced ovulation adalah mekanisme efisiensi evolusioner:

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau