Penulis
KOMPAS.com - Ada berbagai macam corak dan pola bulu hewan. Ada totol macan, belang harimau, belang zebra, dan lainnya.
Perbedaan pola dan corak pada hewan ini telah lama membingungkan ilmuwan.
Kini, sekelompok peneliti mungkin semakin dekat untuk menjawab pertanyaan mendasar: bagaimana hewan mendapatkan totol, belang, dan semua pola itu?
Baca juga: Mengapa Hewan yang Saling Merawat Lebih Jarang Mengalami Kanker
Dikutip dari Popsci, teka-teki pola ini bahkan sempat membingungkan pemecah kode terkenal, Alan Turing.
Pada tahun 1952, matematikawan Inggris itu berhipotesis bahwa saat jaringan berkembang, ia menghasilkan agen kimia yang bergerak, mirip dengan bagaimana susu putih menyebar ketika dituangkan ke dalam kopi hitam.
Dalam teori Turing, beberapa bahan kimia ini mengaktifkan sel penghasil pigmen, menciptakan totol.
Bahan kimia lain menghentikan sel-sel ini, menciptakan ruang kosong di antaranya.
Namun, simulasi komputer berdasarkan ide Turing menghasilkan totol yang lebih kabur daripada yang ditemukan di alam.
Pada tahun 2023, insinyur kimia Ankur Gupta dari University of Colorado at Boulder dan kolaboratornya menyempurnakan teori Turing dengan menambahkan mekanisme lain yang disebut diffusiopherosis—proses di mana partikel yang berdifusi menarik partikel lain bersamanya.
Meskipun diffusiopherosis dapat menghasilkan pola dengan garis luar yang lebih tajam (diuji pada pola heksagon pada ornate boxfish), hasilnya tetap terlalu sempurna.
Padahal, di alam, tidak ada pola yang sempurna. Belang hitam zebra bervariasi ketebalannya, dan heksagon pada boxfish tidak pernah seragam.
Ilustrasi zebraGupta dan timnya kemudian berusaha menyempurnakan teori diffusiopherosis mereka.
“Kami mengusulkan ide sederhana yang dapat menjelaskan bagaimana sel-sel berkumpul untuk menciptakan variasi ini,” kata Gupta.
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Matter, Gupta dan timnya merinci bagaimana mereka meniru pola dan tekstur yang tidak sempurna tersebut.
Setelah memberikan ukuran yang ditentukan pada sel-sel individu dan kemudian memodelkan bagaimana setiap sel bergerak melalui jaringan, simulasi mulai menghasilkan pola yang kurang seragam.