Penulis
KOMPAS.com - Suatu hari, Igor Saykoji duduk santai tanpa melakukan aktivitas apa pun. Tiba-tiba smartwatch di pergelangan tangannya bergetar.
Notifikasi itu berbunyi: “Your heart rate is 115, but you don’t seem to be moving. Are you okay?”
Igor terdiam.
Dalam kondisi duduk diam, denyut jantungnya menyentuh 115 bpm. Ia mencoba mengukur ulang. Angkanya tetap naik—113, 114, 115, bahkan 117. Padahal ia tidak sedang berlari atau menaiki tangga.
“Heart rate itu jadi patokan bahwa ada sesuatu yang salah,” ujarnya dalam acara Evo SL: The Art Of Fast: When run meets art yang diadakan Adidas Indonesia di MBloc, Sabtu (14//2026)
Saat itu berat badannya pernah menyentuh 150 kilogram. Ia sadar ada masalah, tetapi seperti banyak orang lain, ia memilih menyangkal. Hingga teknologi—sebuah smartwatch—menyodorkan realita dalam bentuk angka yang tak bisa dibantah.
Namun, bukan hanya angka yang mengubahnya. Ada pikiran lain yang ikut menghantam kesadarannya: keluarga.
Anaknya tiga. Ia mulai membayangkan masa depan—wisuda, pernikahan anak, kelahiran cucu. “Kalau di momen penting hidup mereka kondisi saya begini, apakah mereka harus mengurus acara mereka sambil mengurus saya? Atau lebih parah lagi, saya sudah enggak ada?”
Kombinasi data kesehatan dan refleksi sebagai ayah menjadi titik balik. Sejak itu, Igor menjalani proses panjang—bukan instan—menuju hidup lebih aktif dan sehat.
Kisah Igor bukan sekadar soal transformasi fisik. Ini tentang kesadaran akan bahaya gaya hidup malas gerak atau sedentary lifestyle—sebuah kebiasaan yang diam-diam menggerogoti tubuh dan pikiran.
Baca juga: Ketahui Denyut Jantung Saat Istirahat yang Tergolong Sehat
Gaya hidup sedentari sering disebut sebagai silent killer. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kurangnya aktivitas fisik berkontribusi pada lebih dari 3 juta kematian setiap tahun secara global.
Masalahnya, banyak orang merasa “baik-baik saja”.
Menurut dokter Ria Lestari, B.Med.Sc, P.G.Dip.SEM, Sp.KO, spesialis Kedokteran Olahraga yang menjadi pembicara dalam acara yang sama, ini adalah kekeliruan terbesar.
“Sehat itu belum tentu bugar,” jelasnya.
Sehat berarti tidak didiagnosis penyakit. Tetapi bugar adalah kondisi ketika tubuh mampu menjalani aktivitas harian tanpa kelelahan berlebihan.
"Coba ukur dari hal sederhana: Apakah Anda terengah-engah saat naik tangga? Apakah lutut terasa nyeri saat berdiri dari duduk? Apakah punggung bawah sering pegal setelah duduk lama? Itu bisa menjadi sinyal awal tubuh kekurangan gerak,"ujar dr. Ria.
Baca juga: Tahukah Anda, Denyut Jantung Cepat Berisiko Tinggi Picu Stroke
Secara ilmiah, duduk terlalu lama dan jarang bergerak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan.
Beberapa dampaknya antara lain:
1. Risiko Penyakit Jantung Naik hingga 30%
Metabolisme melambat, aliran darah tidak optimal, tekanan darah meningkat. Kondisi ini memicu hipertensi, serangan jantung, hingga gagal jantung.
2. Gangguan Kolesterol
Kurang gerak meningkatkan kadar LDL (kolesterol jahat) dan menurunkan HDL (kolesterol baik), mempercepat pembentukan plak di pembuluh darah (aterosklerosis).
3. Kerusakan Pembuluh Darah
Tekanan darah tinggi akibat kurang aktivitas membuat arteri menyempit dan rusak.