Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Denyut Jantung 115 Saat Duduk Diam: Momen yang Mengubah Hidup Igor Saykoji

Kompas.com, 18 Februari 2026, 14:44 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Suatu hari, Igor Saykoji duduk santai tanpa melakukan aktivitas apa pun. Tiba-tiba smartwatch di pergelangan tangannya bergetar.

Notifikasi itu berbunyi: “Your heart rate is 115, but you don’t seem to be moving. Are you okay?”

Igor terdiam.

Dalam kondisi duduk diam, denyut jantungnya menyentuh 115 bpm. Ia mencoba mengukur ulang. Angkanya tetap naik—113, 114, 115, bahkan 117. Padahal ia tidak sedang berlari atau menaiki tangga.

“Heart rate itu jadi patokan bahwa ada sesuatu yang salah,” ujarnya dalam acara Evo SL: The Art Of Fast: When run meets art yang diadakan Adidas Indonesia di MBloc, Sabtu (14//2026)

Saat itu berat badannya pernah menyentuh 150 kilogram. Ia sadar ada masalah, tetapi seperti banyak orang lain, ia memilih menyangkal. Hingga teknologi—sebuah smartwatch—menyodorkan realita dalam bentuk angka yang tak bisa dibantah.

Namun, bukan hanya angka yang mengubahnya. Ada pikiran lain yang ikut menghantam kesadarannya: keluarga.

Anaknya tiga. Ia mulai membayangkan masa depan—wisuda, pernikahan anak, kelahiran cucu. “Kalau di momen penting hidup mereka kondisi saya begini, apakah mereka harus mengurus acara mereka sambil mengurus saya? Atau lebih parah lagi, saya sudah enggak ada?”

Kombinasi data kesehatan dan refleksi sebagai ayah menjadi titik balik. Sejak itu, Igor menjalani proses panjang—bukan instan—menuju hidup lebih aktif dan sehat.

Kisah Igor bukan sekadar soal transformasi fisik. Ini tentang kesadaran akan bahaya gaya hidup malas gerak atau sedentary lifestyle—sebuah kebiasaan yang diam-diam menggerogoti tubuh dan pikiran.

Baca juga: Ketahui Denyut Jantung Saat Istirahat yang Tergolong Sehat

Sedentary Lifestyle: “Pembunuh Diam-Diam” yang Diremehkan

Gaya hidup sedentari sering disebut sebagai silent killer. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kurangnya aktivitas fisik berkontribusi pada lebih dari 3 juta kematian setiap tahun secara global.

Masalahnya, banyak orang merasa “baik-baik saja”.

Menurut dokter Ria Lestari, B.Med.Sc, P.G.Dip.SEM, Sp.KO, spesialis Kedokteran Olahraga yang menjadi pembicara dalam acara yang sama, ini adalah kekeliruan terbesar.

“Sehat itu belum tentu bugar,” jelasnya.

Sehat berarti tidak didiagnosis penyakit. Tetapi bugar adalah kondisi ketika tubuh mampu menjalani aktivitas harian tanpa kelelahan berlebihan.

"Coba ukur dari hal sederhana: Apakah Anda terengah-engah saat naik tangga? Apakah lutut terasa nyeri saat berdiri dari duduk? Apakah punggung bawah sering pegal setelah duduk lama? Itu bisa menjadi sinyal awal tubuh kekurangan gerak,"ujar dr. Ria.

Baca juga: Tahukah Anda, Denyut Jantung Cepat Berisiko Tinggi Picu Stroke

Dampak Kurang Gerak terhadap Kesehatan Jantung

Secara ilmiah, duduk terlalu lama dan jarang bergerak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan.

Beberapa dampaknya antara lain:

1. Risiko Penyakit Jantung Naik hingga 30%

Metabolisme melambat, aliran darah tidak optimal, tekanan darah meningkat. Kondisi ini memicu hipertensi, serangan jantung, hingga gagal jantung.

2. Gangguan Kolesterol

Kurang gerak meningkatkan kadar LDL (kolesterol jahat) dan menurunkan HDL (kolesterol baik), mempercepat pembentukan plak di pembuluh darah (aterosklerosis).

3. Kerusakan Pembuluh Darah

Tekanan darah tinggi akibat kurang aktivitas membuat arteri menyempit dan rusak.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau