Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Kian Rentan terhadap Siklon Tropis, Apa Penyebabnya?

Kompas.com, 6 Maret 2026, 14:57 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber BRIN

KOMPAS.com - Selama ini Indonesia dikenal sebagai wilayah yang relatif aman dari siklon tropis. Letaknya yang dekat dengan garis khatulistiwa membuat pembentukan badai besar seperti yang sering terjadi di Samudra Pasifik atau Atlantik jarang terjadi di wilayah ini.

Namun kondisi tersebut kini mulai berubah.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa Indonesia semakin rentan terhadap ancaman siklon tropis. Perubahan iklim global dan suhu permukaan laut yang semakin hangat menjadi faktor utama yang memicu perubahan ini.

Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto, menjelaskan bahwa pemanasan laut telah mengubah dinamika pembentukan siklon di kawasan sekitar Indonesia.

“Indonesia bukan lagi wilayah yang aman dari siklon. Suhu laut yang semakin hangat membuat peluang terbentuknya siklon semakin besar, bahkan lebih dekat ke wilayah kita,” kata Yosef, Kamis (5/3).

Baca juga: Fenomena Badai Dahsyat Taliah, Bagaimana Siklon Tropis Terbentuk?

Pergeseran Wilayah Pembentukan Siklon

Temuan tersebut didasarkan pada analisis data iklim dan atmosfer selama lebih dari tiga dekade, yakni periode 1990 hingga 2023.

Dalam rentang waktu itu, para peneliti mencatat terdapat ratusan siklon tropis yang terbentuk di wilayah selatan Indonesia. Yang lebih mengkhawatirkan, puluhan di antaranya bahkan terbentuk di dalam wilayah Indonesia sendiri.

Hal ini menunjukkan adanya perubahan pola pembentukan siklon yang sebelumnya jarang terjadi di kawasan ini.

Pergeseran tersebut membuat wilayah Indonesia tidak lagi sepenuhnya terlindungi oleh posisi geografisnya di sekitar khatulistiwa.

Dampak Nyata: Belajar dari Siklon Seroja

Ancaman siklon tropis bukan sekadar teori ilmiah. Dampaknya sudah pernah dirasakan secara langsung oleh masyarakat Indonesia.

Salah satu contoh paling nyata adalah Siklon Seroja yang terjadi pada April 2021. Badai tersebut memicu hujan ekstrem yang berujung pada banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah, terutama di Nusa Tenggara Timur.

Peristiwa itu menimbulkan kerusakan besar pada infrastruktur serta menelan korban jiwa.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana siklon tropis dapat memicu rangkaian bencana hidrometeorologi yang kompleks dan berbahaya.

Baca juga: Mengenal Siklon Tropis: Badai Dahsyat dari Lautan Hangat

Cuaca Ekstrem Semakin Mudah Terjadi

Riset BRIN juga menemukan bahwa cuaca ekstrem semakin mudah terbentuk karena kombinasi berbagai faktor global.

Selain suhu laut yang meningkat, dinamika atmosfer global turut berperan dalam memperkuat intensitas badai.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau