Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ternyata Belum Punah! Ilmuwan Temukan Dua Marsupial dari Zaman Es di Hutan Papua

Kompas.com, 7 Maret 2026, 21:48 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Selama ribuan tahun, para ilmuwan meyakini dua spesies marsupial kuno telah punah sejak akhir Zaman Es. Namun temuan terbaru justru mengungkap kejutan besar: kedua hewan tersebut ternyata masih hidup dan bersembunyi di hutan terpencil Papua.

Penelitian yang dipublikasikan pada 6 Maret di jurnal Records of the Australian Museum mengonfirmasi keberadaan kusu kerdil jari panjang (Dactylonax kambuayai) dan kusu layang ekor cincin (Tous ayamaruensis) di hutan hujan Semenanjung Vogelkop atau Kepala Burung, Papua Barat Daya.

Kedua hewan ini sebelumnya hanya dikenal dari catatan fosil berusia sekitar 6.000 tahun dari akhir Zaman Es dan awal periode Holosen. Karena itu, penemuan kembali mereka menjadi salah satu kejutan besar dalam dunia zoologi modern.

“Penemuan satu spesies Lazarus saja sudah luar biasa, apalagi menemukan dua spesies yang diduga punah selama ribuan tahun. Ini benar-benar luar biasa,” kata Tim Flannery, peneliti yang memimpin studi tersebut dari Melbourne Sustainable Society Institute.

Baca juga: Spesies Burung Baru Ditemukan di Papua Nugini, Sekaligus Ancamannya

Fenomena “Spesies Lazarus”

Para ilmuwan menyebut kedua hewan ini sebagai Lazarus taxa, istilah untuk spesies yang menghilang dari catatan fosil selama waktu yang sangat lama sehingga dianggap punah, sebelum akhirnya ditemukan kembali hidup di alam.

Fenomena ini jarang terjadi, terutama pada mamalia.

Penemuan di Papua juga memberi petunjuk penting tentang sejarah evolusi kawasan tersebut. Menurut Flannery, wilayah Vogelkop memiliki hubungan geologis dengan benua Australia.

“Vogelkop merupakan bagian kuno dari benua Australia yang kemudian menjadi bagian dari Pulau. Hutan di wilayah ini mungkin masih menyimpan banyak relik tersembunyi dari masa lalu Australia,” jelasnya.

Baca juga: Peneliti UGM Temukan 7 Spesies Baru Lobster Air Tawar di Papua Barat

Dactylonax kambuayai aau possum jari panjang kerdil 
Flannery, Aplin, Bocos, Koungoulos et Helgen, 2026. Records of the Australian Museum. painting by Peter Schouten. Dactylonax kambuayai aau possum jari panjang kerdil

Kusu Kerdil dengan Jari Super Panjang

Salah satu spesies yang ditemukan kembali adalah kusu kerdil jari panjang (Dactylonax kambuayai).

Marsupial kecil ini memiliki tubuh sekitar 17,6 sentimeter dengan ekor sepanjang 18 sentimeter. Kepalanya bercorak garis hitam dan putih yang mencolok.

Keunikan paling mencolok ada pada tangannya. Jari keempat hewan ini dua kali lebih panjang daripada jari lainnya.

Struktur ini berfungsi sebagai alat khusus untuk mencari makan. Dengan jari tersebut, kusu ini mampu mengorek larva kumbang dari batang kayu yang membusuk.

Metode berburu ini mirip dengan cara primata aye-aye di Madagaskar yang menggunakan jari panjangnya untuk mengambil serangga dari dalam kayu.

Penelitian juga menunjukkan telinga kusu ini kemungkinan mampu mendeteksi suara frekuensi rendah, termasuk bunyi larva serangga di dalam batang pohon.

Baca juga: Udang Pemanjat Pohon? Temuan Aneh dari Pegunungan Cyclops Papua

Kusu Layang Ekor Cincin, Marsupial Misterius dari Genus Baru

Spesies kedua bahkan lebih mengejutkan.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau