Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Misteri Tengkorak Panjang Mirip Alien yang Ditemukan di Seluruh Dunia

Kompas.com, 7 Maret 2026, 18:27 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Ketika penjelajah Spanyol pertama kali tiba di wilayah Andes di Amerika Selatan pada abad ke-16, mereka menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan. Banyak penduduk lokal memiliki kepala yang panjang dan runcing, bentuk yang bagi orang Eropa saat itu terasa sangat tidak biasa.

Penjelajah kemudian menemukan bahwa kelompok Collagua di Peru memiliki tradisi membentuk kepala bayi sejak usia sangat dini, bahkan sejak tulang tengkorak masih lunak dan belum menyatu sempurna. Proses ini dilakukan jauh sebelum anak tumbuh besar.

Namun, penjelasan yang diberikan para penjelajah Spanyol saat itu cenderung dramatis dan penuh prasangka. Mereka menggambarkan praktik tersebut sebagai sesuatu yang mengerikan.

“Mereka mengatakan itu adalah sesuatu yang mengerikan dan otak sampai keluar dari telinga,” kata Christina Torres, bioarkeolog dari University of California, Riverside. “Namun tampaknya itu tidak benar.”

Penelitian modern menunjukkan bahwa cerita-cerita tersebut kemungkinan besar sangat dilebih-lebihkan.

Baca juga: Misteri Tengkorak 1.400 Tahun Berbentuk Kubus, Mengapa Kepalanya Datar?

Tradisi Kuno yang Ternyata Ada di Banyak Benua

Praktik membentuk kepala bayi sebenarnya tidak hanya terjadi di Amerika Selatan. Para arkeolog telah menemukan bukti modifikasi tengkorak di hampir seluruh dunia—mulai dari Eropa, Timur Tengah, Afrika, Asia hingga Oseania. Hanya Antarktika yang tidak memiliki bukti praktik ini.

Dalam dunia arkeologi, praktik tersebut dikenal sebagai modifikasi kubah tengkorak (cranial vault modification), yaitu perubahan bentuk kepala secara sengaja sehingga menjadi lebih datar atau lebih memanjang dibanding bentuk alaminya.

Karena bayi tentu tidak dapat membentuk kepalanya sendiri, para peneliti yakin praktik ini dilakukan oleh orang tua, bidan, atau pengasuh.

Menurut Matthew Velasco, bioarkeolog dari University of North Carolina yang meneliti praktik ini di Andes Peru, pembentukan kepala mungkin bukan sesuatu yang aneh pada masa lalu.

“Sesuatu yang tampak mengejutkan seperti modifikasi tengkorak mungkin sebenarnya merupakan praktik yang hampir rutin bagi sebagian anak pada periode tertentu,” katanya.

Velasco juga menambahkan bahwa makna praktik tersebut kemungkinan berbeda-beda tergantung waktu dan budaya. “Kita harus mulai dari asumsi bahwa maknanya berbeda di setiap tempat dan zaman.”

Baca juga: Misteri Tengkorak Berbentuk Kerucut dari Iran, Siapa Pemiliknya?

Catatan awal yang bias menyebutkan bahwa pembentukan kepala dapat menyebabkan mata menonjol. Namun, bayi dengan tengkorak yang dibentuk ini kemungkinan memiliki mata menonjol karena anemia, menurut seorang ahli. Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), bagian dari Museum Nasional Budaya Dunia, CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons Catatan awal yang bias menyebutkan bahwa pembentukan kepala dapat menyebabkan mata menonjol. Namun, bayi dengan tengkorak yang dibentuk ini kemungkinan memiliki mata menonjol karena anemia, menurut seorang ahli.

Bagaimana Kepala Bayi Bisa Dibentuk?

Kunci dari praktik ini adalah fakta bahwa tengkorak bayi masih sangat lunak dan mudah berubah bentuk. Tulang tengkorak belum menyatu sepenuhnya, sehingga pertumbuhannya dapat diarahkan secara perlahan.

Caranya sebenarnya relatif sederhana. Kepala bayi dibungkus dengan kain, tali, atau bantalan tertentu yang secara bertahap mengarahkan pertumbuhan tengkorak ke bentuk yang diinginkan. Proses ini berlangsung perlahan selama berbulan-bulan.

Christina Torres menjelaskan bahwa teknik tersebut mirip dengan membentuk pohon bonsai.

“Ini adalah proses lambat dan bertahap yang dilakukan dengan kain dan bantalan,” ujarnya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau