Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nenek Moyang Buaya Ini Awalnya Berjalan dengan Empat Kaki, Lalu Beralih ke Dua Kaki

Kompas.com, 9 Maret 2026, 21:21 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Physorg

KOMPAS.com - Penemuan fosil baru mengungkap fakta menarik tentang salah satu kerabat purba buaya yang hidup lebih dari 200 juta tahun lalu. Reptil kuno ini ternyata memiliki cara berjalan yang tidak biasa: saat masih muda berjalan dengan empat kaki, tetapi ketika dewasa berubah menjadi berjalan dengan dua kaki.

Spesies tersebut diberi nama Sonselasuchus cedrus, dan termasuk dalam kelompok shuvosaurid, sekelompok reptil purba yang hidup pada periode Trias Akhir sekitar 225–201 juta tahun lalu.

Para ilmuwan menemukan bahwa hewan ini memiliki penampilan yang sangat mirip dengan dinosaurus ornithomimid, dinosaurus pelari yang sering dijuluki “dinosaurus mirip burung unta”. Menariknya, kemiripan ini bukan karena keduanya berkerabat dekat, melainkan karena evolusi yang menghasilkan bentuk tubuh serupa di lingkungan yang sama.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Journal of Vertebrate Paleontology oleh tim peneliti dari University of Washington Department of Biology dan Burke Museum.

Baca juga: Ditemukan Fosil Buaya Berkaki Panjang yang Hidup 200 Juta Tahun Lalu

Cara Berjalan yang Tidak Biasa

Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah perubahan cara berjalan Sonselasuchus selama masa hidupnya.

Analisis terhadap proporsi tulang kaki menunjukkan bahwa reptil ini kemungkinan mengalami perubahan bentuk tubuh seiring pertumbuhan.

Penulis utama penelitian, Elliott Armour Smith, menjelaskan bahwa perubahan tersebut terjadi karena pola pertumbuhan yang berbeda antara kaki depan dan kaki belakang.

“Dengan menganalisis proporsi kerangka kaki dari berbagai hewan, kami menemukan bahwa posisi berdiri dengan dua kaki kemungkinan merupakan hasil dari pola pertumbuhan yang berbeda,” jelas Smith.

Ia menambahkan bahwa ketika masih muda, ukuran kaki depan dan belakang hewan ini relatif seimbang.

“Kami menduga Sonselasuchus memiliki kaki depan dan kaki belakang yang lebih seimbang saat masih muda, tetapi kaki belakangnya tumbuh lebih panjang dan lebih kuat saat dewasa.”

Akibatnya, cara berjalan hewan ini juga berubah.

“Pada dasarnya, kami pikir makhluk ini memulai hidupnya dengan berjalan menggunakan empat kaki… lalu beralih berjalan dengan dua kaki ketika mereka tumbuh dewasa.”

Perubahan ini sangat jarang ditemukan dalam catatan fosil reptil purba.

Baca juga: Nenek Moyang Buaya Hidup 240 Juta Tahun Lalu, Bukan Dinosaurus

Situs Fosil yang Luar Biasa

Fosil Sonselasuchus ditemukan di Petrified Forest National Park, Arizona, Amerika Serikat.

Pada tahun 2014, tim peneliti menemukan sekitar 950 fosil dari spesies ini di lokasi tersebut. Penemuan ini merupakan bagian dari proyek penggalian besar yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau