Penulis
KOMPAS.com - Di wilayah pegunungan California, musim kawin katak dimulai ketika es dan salju mulai mencair. Begitu air di danau dan kolam terbuka kembali, katak jantan segera keluar dari hibernasi dan memulai “konser” panggilan kawin untuk menarik perhatian betina.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa suara katak itu tidak hanya berfungsi sebagai sinyal romantis. Bagi katak betina, suara tersebut juga bisa menjadi semacam laporan cuaca alami yang membantu mereka menentukan kapan dan di mana waktu terbaik untuk bertelur.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Ecology and the Environment.
Di lingkungan pegunungan tinggi, kesempatan bagi katak untuk berkembang biak sangat terbatas. Air di danau dan kolam hanya bebas dari es selama beberapa bulan saja sebelum kembali membeku.
“Ada jendela waktu yang sangat singkat bagi hewan untuk menyelesaikan banyak hal penting, termasuk berkembang biak,” kata Julianne Pekny, ahli ekologi perubahan iklim dan Direktur Ilmu Konservasi di Amphibian and Reptile Conservancy.
Dalam periode singkat tersebut, katak harus menemukan pasangan, kawin, dan meletakkan telur sebelum musim dingin kembali datang.
Baca juga: Kisah Katak Chernobyl yang Jadi Hitam demi Bertahan dari Radiasi
Pekny dan timnya menemukan bahwa irama suara katak berubah mengikuti suhu lingkungan, khususnya suhu air tempat mereka berkembang biak.
Sebagai contoh, katak pohon Sierran (Sierran tree frog) yang baru tiba di kolam pada awal musim menghasilkan suara yang lebih lambat dan jarang. Namun ketika suhu meningkat, suara mereka menjadi lebih cepat dan lebih sering.
Menurut para peneliti, katak betina kemungkinan mendengarkan perubahan ritme tersebut untuk mengetahui apakah kondisi air sudah cukup hangat untuk bertelur.
Dengan kata lain, suara katak jantan dapat menjadi indikator kondisi lingkungan bagi katak betina.
Baca juga: Katak dan Kodok: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Cara Mudah Membedakannya
Selama ini, para ilmuwan menganggap paduan suara katak hanya berfungsi sebagai sinyal persaingan antarjantan atau penarik pasangan.
Biasanya, suara yang lebih dalam dan kuat berasal dari katak yang lebih besar dan dianggap lebih menarik oleh betina.
Namun penelitian ini menawarkan sudut pandang baru.
Ahli herpetologi Adam Leaché dari University of Washington mengatakan temuan ini membuka cara berpikir berbeda tentang komunikasi katak.
“Menarik untuk memikirkan bahwa panggilan kawin bisa menjadi sinyal seksual sekaligus sinyal ekologis pada saat yang sama,” katanya.