Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Monyet Howler Makan Daun 13 Juta Tahun Lalu, Ubah Arah Evolusi Primata

Kompas.com, 16 Maret 2026, 23:34 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Earth.com

KOMPAS.com - Penelitian terbaru menemukan bahwa nenek moyang monyet howler (Alouatta) sudah mulai memakan daun sejak sekitar 13 juta tahun lalu. Temuan ini menjadi bukti fosil paling awal tentang konsumsi daun pada primata di Amerika Selatan.

Perubahan pola makan tersebut ternyata bukan sekadar variasi menu. Para ilmuwan menilai langkah ini menjadi titik penting dalam evolusi primata, karena membuka peluang bagi monyet untuk tumbuh lebih besar dan menemukan ceruk ekologinya sendiri di hutan purba yang penuh persaingan.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PaleoAnthropology.

Baca juga: Apa Perbedaan Monyet dengan Kera?

Fosil Rahang dari Kolombia Mengungkap Pola Makan Purba

Petunjuk penting datang dari fosil rahang bawah yang ditemukan di kawasan La Venta, Kolombia, sebuah situs fosil terkenal dari periode Miosen.

Melalui analisis anatomi gigi, peneliti dari Johns Hopkins University, Dr. Siobhan B. Cooke, menemukan bahwa gigi tersebut memiliki struktur yang sangat cocok untuk mengunyah daun yang keras.

Gigi molar pada fosil tersebut memiliki punggungan tinggi yang bekerja seperti pisau saat rahang menutup. Struktur ini memungkinkan primata purba tersebut memotong dan menggiling jaringan daun yang keras, sesuatu yang jauh lebih sulit dicerna dibandingkan buah lunak.

Dr. Cooke menjelaskan: “Sebelum penemuan Stirtonia, kami tidak memiliki bukti konsumsi daun pada primata Amerika Selatan.”

Kesamaan pola gigi ini dengan monyet howler modern membuat para ilmuwan yakin bahwa pola makan tersebut bukan kebetulan, melainkan adaptasi evolusioner yang nyata.

Baca juga: Fenomena Aneh di Panama: Monyet Capuchin Menculik Bayi Monyet Howler

Pola Makan Daun Membuat Tubuh Monyet Lebih Besar

Fosil yang diteliti berasal dari spesies Stirtonia victoriae, kerabat purba monyet howler modern.

Perkiraan ukuran tubuhnya mencapai sekitar 7–9 kilogram. Ukuran ini jauh lebih besar dibandingkan sebagian besar primata Amerika Selatan yang ditemukan dalam catatan fosil sebelumnya.

Menurut Dr. Cooke: “Sebelum ini, monyet Amerika Selatan yang tercatat dalam fosil berukuran jauh lebih kecil.”

Daun yang tersedia melimpah di hutan memungkinkan hewan ini memiliki sumber makanan stabil, bahkan saat buah matang sedang langka. Hal ini memberi keuntungan bagi primata yang bertubuh lebih besar untuk bertahan hidup.

Karena itu, Stirtonia victoriae kini dianggap sebagai monyet bertubuh besar paling awal yang diketahui dalam catatan fosil Amerika Selatan.

Baca juga: Berapa Banyak Spesies Monyet yang Ada di Dunia?

Komunitas Primata Purba yang Sangat Beragam

Situs La Venta juga memberikan gambaran menarik tentang kehidupan primata pada masa itu.

Di wilayah tersebut, para peneliti menemukan 12 spesies primata berbeda yang hidup berdampingan. Ini menjadikannya salah satu komunitas primata paling awal yang menyerupai ekosistem Amazon modern.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau