Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebiasaan Makan Junk Food Sejak Kecil Bisa “Membekas” di Otak 

Kompas.com, 17 Maret 2026, 18:00 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Earth.com

KOMPAS.com - Selama ini, banyak dari kita tumbuh dengan pesan sederhana: makan junk food bikin gemuk. Maka, nasihat klasik pun terus diulang—makan sayur, hindari makanan manis, dan jangan berlebihan.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ceritanya tidak sesederhana itu.

Para ilmuwan menemukan bahwa pola makan tinggi lemak dan gula sejak usia dini ternyata dapat meninggalkan jejak jangka panjang pada otak. Bahkan, perubahan ini bisa bertahan meski seseorang sudah beralih ke pola makan sehat dan berat badannya kembali normal.

Artinya, dampak junk food bukan hanya soal angka di timbangan—tetapi juga soal bagaimana otak “belajar” merespons makanan.

Baca juga: Konsumsi Junk Food Berlebihan Bisa Membuat Anak Tak Suka Makanan Sehat

Otak “Mengingat” Junk Food

Dalam eksperimen pada tikus, para peneliti menelusuri bagaimana paparan diet tinggi lemak dan gula di usia dini memengaruhi otak dalam jangka panjang.

Hasilnya cukup mengejutkan.

Mereka menemukan bahwa hipotalamus—bagian otak yang berfungsi sebagai “termostat rasa lapar”—tetap mengalami gangguan, bahkan setelah tikus kembali ke pola makan sehat.

Sinyal yang seharusnya mengatur rasa lapar dan kenyang tidak bekerja dengan normal. Seolah-olah, otak telah “beradaptasi” dengan pola makan buruk tersebut dan sulit kembali ke kondisi semula.

Dengan kata lain, dampak jangka panjang bukan tersimpan di lemak tubuh, melainkan tertanam dalam sistem kerja otak.

Baca juga: 14 Tanda Tersembunyi Terlalu Banyak Makan Junk Food

Berat Badan Bukan Satu-satunya Ukuran

Selama ini, pembahasan soal pola makan anak sering berfokus pada obesitas. Apakah berat badan naik? Apakah angkanya mengkhawatirkan?

Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut bisa menyesatkan.

“Apa yang kita makan di awal kehidupan benar-benar penting,” ujar Dr. Cristina Cuesta-Martí, penulis utama studi dari University College Cork.

“Paparan pola makan sejak dini dapat meninggalkan efek tersembunyi jangka panjang pada perilaku makan yang tidak selalu terlihat dari berat badan saja.”

Artinya, seorang anak bisa terlihat sehat secara fisik, tetapi tetap membawa perubahan pada otak yang meningkatkan risiko obesitas di masa depan.

Baca juga: Terlalu Banyak Makan Junk Food Sebabkan Gangguan Otak Jangka Panjang

Peran Mikroba Usus dalam Mengatur Nafsu Makan

Menariknya, penelitian ini tidak hanya menemukan masalah—tetapi juga menawarkan petunjuk solusi.

Fokusnya ada pada usus.

Para peneliti menguji dua jenis intervensi:

  • Probiotik: strain khusus Bifidobacterium longum APC1472
  • Prebiotik: serat seperti fructo-oligosaccharides dan galacto-oligosaccharides, yang terdapat dalam bawang, bawang putih, pisang, asparagus, dan suplemen

Hasilnya menjanjikan.

Keduanya mampu membantu mencegah atau bahkan membalikkan perubahan pada otak akibat pola makan buruk sejak dini. Probiotik terbukti memperbaiki perilaku makan dengan gangguan minimal pada mikrobioma usus, sementara prebiotik memicu perubahan yang lebih luas dalam komposisi bakteri usus.

Baca juga: Apakah Terlalu Banyak Makan Junk Food Bisa Bikin Pusing?

Koneksi Usus dan Otak

Temuan ini sejalan dengan konsep yang semakin dikenal dalam dunia sains: gut-brain axis, yaitu jaringan komunikasi antara sistem pencernaan dan otak.

Apa yang terjadi di usus ternyata tidak berhenti di sana. Ia memengaruhi suasana hati, perilaku, hingga cara otak merespons makanan.

“Menargetkan mikrobiota usus dapat mengurangi efek jangka panjang dari pola makan tidak sehat di awal kehidupan terhadap perilaku makan di kemudian hari,” kata Dr. Harriet Schellekens, peneliti utama studi.

“Mendukung kesehatan mikrobiota usus sejak lahir membantu menjaga perilaku makan yang lebih sehat di masa depan.”

Baca juga: Riset: Junk Food Sama Adiktifnya dengan Rokok dan Alkohol

Penelitian ini membuka perspektif baru dalam memahami kesehatan anak.

Bukan hanya soal “berapa berat badan anak”, tetapi juga “bagaimana otaknya merespons makanan”.

Dengan memahami bahwa pola makan sejak dini membentuk jalur saraf yang mengatur rasa lapar, para ilmuwan berharap bisa mengembangkan pendekatan baru—termasuk terapi berbasis mikrobiota—untuk membantu membangun kebiasaan makan yang lebih sehat.

Ilmu ini memang masih terus berkembang. Namun, satu pertanyaan penting mulai mengemuka:

Jika selama ini kita hanya menilai kesehatan anak dari berat badan, apa yang sebenarnya telah kita lewatkan?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau