Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Serbuan Kecoak dan Tikus Meningkat di Musim Hujan, Dosen UGM Ungkap Cara Mengatasinya

Kompas.com, 14 November 2025, 14:00 WIB
Rheandita Vella Aresta,
Inten Esti Pratiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sama seperti manusia yang mencari tempat aman saat cuaca basah, berbagai hama rumah seperti tikus dan kecoak juga melakukan hal yang sama.

“Mereka masuk ke dalam rumah karena alasan yang sama seperti kita,” ujar David Brittain dari perusahaan pengendalian hama Kiwicare, dikutip dari Stuff (6/4/2017).

Menurut Brittain, kondisi lembap membuat banyak serangga justru semakin aktif.

“Kebanyakan serangga lebih menyukai kondisi hangat dan nyaman, bukan basah dan dingin,” kata dia.

Ia menambahkan, kecoak dan semut termasuk jenis serangga yang paling sering masuk ke dalam rumah ketika hujan turun. Begitu pula dengan hama tikus.

Saat lingkungan alaminya digenangi air, hewan ini akan mencari tempat yang lebih stabil dan hangat, menjadikan rumah manusia sebagai target utama.

Lantas, bagaimana cara membasmi serbuan tikus dan kecoak saat musim hujan?

Baca juga: [POPULER TREN] Rangka Atap Kayu Vs Baja Ringan, Mana Lebih Kuat? | Cara Usir Tikus ala Dosen UGM

Mengapa tikus masuk rumah dan cara mencegahnya

Dosen Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha, menjelaskan bahwa peningkatan kemunculan tikus saat musim hujan berkaitan langsung dengan kondisi habitatnya.

Ia menuturkan bahwa curah hujan tinggi membuat rumah tikus kerap terendam.

“Saat hujan deras, habitat alami tikus mengalami kebanjiran, sehingga tikus menjadi tidak nyaman di habitat alaminya. Hal tersebut mendorong mereka untuk mencari perlindungan di tempat yang lebih nyaman, salah satunya adalah di dalam rumah manusia,” jelas Donan saat dihubungi Kompas.com, Kamis (13/11/2025).

Menurut Donan, tikus akan memilih tempat bersarang seperti loteng, ruang bawah tanah, belakang mesin cuci, dispenser, oven, hingga area sempit dan gelap yang jarang disentuh penghuni rumah.

Kondisi rumah yang hangat dan adanya sisa makanan menarik tikus untuk membuat sarang di sana.

Dia pun memberikan beberapa tips mencegah serbuan tikus dari rumah.

Baca juga: Pengendali Hama Ungkap Cara Efektif Usir Tikus dan Kutu Busuk dengan Aman

Langkah yang pertama adalah dengan menutup celah-celah di seluruh rumah.

“Tutup semua retakan, lubang, atau celah sebagai jalan masuk tikus. Area saluran pembuangan, celah pintu dan jendela, serta atap adalah titik masuk yang paling umum,” ujar Donan.

Kemudian, ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan rumah agar tikus tidak menemukan sumber makanan.

“Simpan makanan dalam wadah tertutup rapat, segera bersihkan remah atau tumpahan, dan gunakan tempat sampah dengan penutup,” jelas dia .

"Ketiga, kurangi tempat yang berantakan dan gelap. Nyalakan lampu di area seperti ruang bawah tanah atau loteng pada malam hari agar tidak menarik tikus," lanjutnya.

Terakhir, ia mengatakan, bahwa penggunaan pengusir dan perangkap tikus alami dapat membantu.

“Gunakan minyak peppermint, cabai rawit, atau cuka di titik-titik rawan. Bahan dengan bau menyengat tersebut aman tetapi tidak disukai tikus,” tutur dia.

Baca juga: Satu-satunya Gajah di Delhi India Mati, Ternyata akibat Virus Langka dari Tikus

Cara aman mengusir kecoak di musim hujan

Ilustrasi kecoakSHUTTERSTOCK/LUIS2499 Ilustrasi kecoak
Kecoak juga banyak bermunculan saat cuaca lembap. Banyak orang mengandalkan semprotan kimia, tetapi metode ini tidak selalu ramah bagi anak-anak dan hewan peliharaan.

Sejumlah bahan alami bisa menjadi alternatif yang lebih aman sekaligus efektif, dikutip dari Kompas.com (8/12/2021).

Salah satu cara yang paling populer adalah menggunakan campuran soda kue dan gula. Gula berfungsi menarik kecoak.

Sementara itu, soda kue memicu reaksi mematikan ketika terbawa masuk ke tubuh kecoak. Campuran ini dapat diletakkan di sudut gelap dan lembap.

Selain itu, daun catnip juga dikenal ampuh mengusir kecoak berkat kandungan nepetalactone. Daunnya direbus sekitar 10 menit, lalu airnya disemprotkan pada titik-titik rawan.

Tidak hanya itu, daun salam pun dapat dimanfaatkan. Ketika dihancurkan dan disebarkan di sudut-sudut rumah, aromanya membuat kecoak enggan mendekat.

Bahan lain yang dapat membasmi kawanan kecoak adalah silica gel yang biasanya ditemukan dalam paket kertas kecil yang berfungsi mengontrol kelembapan barang agar tidak berjamur.

Saat dicampur dengan gula, silica gel dapat mengeringkan tubuh kecoak hingga mati. Walaupun begitu, bahan satu ini harus dijauhkan dari anak-anak dan hewan peliharaan.

Terakhir, boraks juga dapat digunakan untuk mengusir kawanan kecoak yang masuk rumah saat musim hujan.

Ketika bercampur gula dan disemprotkan ke area sarang kecoak, boraks merusak lapisan usus kecoak sehingga efektif membasmi.  Agar lebih kuat, campuran ini bisa diberi beberapa tetes minyak peppermint.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau