Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ramai Narasi Jarang Terpapar Sinar Matahari Setara Bahayanya dengan Merokok, Ini Penjelasan Dokter

Kompas.com, 19 November 2025, 10:00 WIB
Fatimah Az Zahra,
Resa Eka Ayu Sartika

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah unggahan di media sosial Instagram mengungkapkan dampak buruk dari seseorang yang jarang terpapar sinar matahari.

Unggahan tersebut mengatakan bahwa efek buruk dari seseorang yang jarang terpapar sinar matahari bahkan hampir sama dengan para perokok. Berikut kutipannya.

"Jarang kena matahari? risikonya setara dengan merokok," tulis akun @exp********* pada Senin (10/11/2025).

Selama ini merokok identik dengan penyakit kronis pada bagian dalam tubuh seperti penyakit paru-paru, pernafasan, dan lainnya.

Namun, benarkah jarang terpapar sinar matahari juga berdampak sama seperti dampak dari seorang perokok?

Baca juga: Dokter Jelaskan Dampak Mikroplastik pada Kesehatan Kulit, Apa Saja?

Tidak sama dengan bahaya merokok

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (SPKK) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Agnes Rosarina Prita Sari mengatakan bahwa secara empiris, dampak dari tidak terpapar sinar matahari tidak sama dengan bahaya merokok. 

"Jarang terpapar sinar matahari dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius terutama terkait kekurangan vitamin D, gangguan mood, serta penurunan imunitas," kata Agnes ketika dihubungi Kompas.com pada Senin (17/11/2025).

Meski begitu, Agnes mengatakan secara empiris efeknya tidak dianggap sama seperti bahaya merokok. 

"Efeknya secara empiris tidak dianggap setara dengan bahaya merokok dari segi mortalitas dan risiko penyakit kronik. Namun, keduanya tetap harus dihindari untuk menjaga kesehatan optimal," kata Agnes.

Baca juga: Tips Pilih Sunscreen yang Tepat bagi Jemaah Umrah Menurut Dokter Kulit

Manfaat dan dampak

Lebih lanjut, Agnes mengungkapkan manfaat yang didapat dari tubuh yang terpapar sinar matahari. Manfaat tersebut antara lain menjaga kesehatan tulang, sistem kekebalan tubuh, dan lainnya.

"Sinar matahari merupakan sumber vitamin D bagi tubuh manusia. Saat kulit terpapar sinar UVB (pagi dan sore hari), tubuh memproduksi vitamin D yang penting untuk kesehatan tulang, sistem kekebalan, dan banyak proses lainnya," jelas Agnes.

Maka dari itu, bagi seseorang yang jarang terkena sinar matahari dapat berpotensi kekurangan vitamin D yang penting bagi penyerapan kalsium dan kesehatan tulang.

Baca juga: Stres Bikin Kulit Kusam dan Cepat Tua, Dokter IPB: Skincare Saja Tak Cukup

"Selain itu juga berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh menjadi lebih mudah terserang infeksi atau sakit berkepanjangan," jelasnya.

Bahkan, kurangnya paparan sinar matahari bisa berisiko terkena penyakit kronis.

"Penyakit jantung dan beberapa jenis kanker juga dapat meningkat pada individu dengan kadar vitamin D rendah yang salah satunya dipicu kurangnya paparan sinar matahari," ungkap Agnes.

Halaman:


Terkini Lainnya
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, Teheran Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, Teheran Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
Tren
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau