Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jan Prince Permata
Karyawan Swasta

Wakil Sekjen Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI), Pegiat di Yayasan Kekal Berdikari

Geopolitik, Energi, dan Rentannya Sistem Pangan Kita

Kompas.com, 30 Maret 2026, 16:25 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

KITA sering membayangkan pangan sebagai urusan sawah, terkait hujan dan pengairan, benih unggul, pupuk, serta luas panen. Namun hari ini, harga beras di meja makan kita bisa lebih cepat dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah daripada kondisi irigasi di desa.

Dunia telah berubah dan semakin kompleks. Kondisi ini berimplikasi terhadap pangan yang tidak lagi sekadar soal produksi, melainkan soal kekuatan geopolitik.

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara geopolitik dan pangan menjadi semakin nyata. Ketegangan di Timur Tengah, ancaman terhadap jalur energi global seperti Selat Hormuz, serta gangguan pelayaran di Laut Merah telah mengirimkan satu pesan yang jelas bahwa stabilitas pangan tidak lagi berdiri sendiri. Pendeknya, pangan kini berada di bawah bayang-bayang konflik global.

Masalahnya bukan semata pada perang atau konflik itu sendiri, melainkan pada efek berantainya. Ketika geopolitik memanas, harga energi akan bergerak. Ketika energi naik, biaya produksi meningkat. Dan ketika biaya produksi terdorong, pangan ikut menjadi mahal. Rantai sebab-akibat ini tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata.

Dalam sistem pertanian modern, energi adalah urat nadi. Ia menggerakkan pompa irigasi, mesin pengering, alat penggilingan, hingga transportasi distribusi. Tanpa energi yang stabil dan terjangkau, produksi pangan akan kehilangan efisiensinya. Karena itu, setiap gejolak di pasar energi global pada dasarnya adalah tekanan langsung terhadap sistem pangan.

Baca juga: Rupiah Melemah, Dosen UGM Soroti Kemungkinan Ada Kenaikan Harga Pangan

Keterkaitan ini menjadi lebih tajam ketika kita melihat sektor pupuk. Produksi pupuk nitrogen sangat bergantung pada gas alam. Ketika harga gas naik, harga pupuk ikut terdorong. Dalam situasi global yang tidak stabil, pasokan pupuk pun menjadi rentan. Beberapa negara produsen bahkan menerapkan pembatasan ekspor untuk melindungi kepentingan domestik mereka.

Bagi petani, ini bukan sekadar dinamika global yang jauh dan abstrak. Ini adalah realitas sehari-hari yang harus dihadapi. Harga pupuk yang meningkat memaksa petani untuk mengurangi penggunaan input, menekan biaya, atau bahkan mengurangi luas tanam.

Dalam jangka pendek, ini mungkin terlihat sebagai strategi bertahan. Namun dalam jangka menengah, ia berpotensi menurunkan produktivitas dan mengganggu pasokan pangan.

Di sisi lain, tekanan juga datang dari jalur logistik global. Gangguan pelayaran di Laut Merah telah memaksa kapal-kapal untuk mengambil rute yang lebih panjang. Biaya angkut meningkat, waktu pengiriman bertambah, dan ketidakpastian pasokan menjadi semakin tinggi.

Dalam sistem perdagangan global yang saling terhubung, perubahan ini langsung tercermin dalam harga barang, termasuk pangan.

Baca juga: Waspada, Krisis Energi Disertai Krisis Pangan

Bagi Indonesia, dampaknya menjadi berlapis. Sebagai negara kepulauan, stabilitas pangan tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh distribusi. Ketika biaya logistik meningkat, harga pangan di berbagai daerah ikut terdorong, bahkan ketika produksi nasional tidak mengalami gangguan berarti.

Di sinilah paradoks itu muncul: di satu sisi produksi bisa stabil, di sisi lain harga tetap bergejolak. Memang benar, produksi padi nasional menunjukkan tren yang membaik. Setelah berada pada kisaran 53 juta ton gabah kering giling pada 2024, produksi diperkirakan meningkat lebih 60 juta ton gabah pada 2025.

Namun angka produksi tidak boleh menipu kita. Ketahanan pangan bukan hanya soal berapa banyak yang dihasilkan, tetapi seberapa tahan sistem itu terhadap guncangan. Dan di sinilah persoalan mendasarnya. Sistem pangan kita masih menyimpan banyak kerentanan.

Penyusutan lahan pertanian, produktivitas yang belum optimal, ketergantungan pada input tertentu, hingga kelemahan pada distribusi dan pascapanen menjadi titik lemah yang selama ini belum sepenuhnya diselesaikan.

Dalam kondisi global yang stabil, kelemahan ini mungkin tidak terlalu terasa. Namun ketika dunia berada dalam ketidakpastian, setiap titik lemah akan diperbesar. Sistem yang rapuh tidak membutuhkan guncangan besar untuk terganggu. Cukup dengan kenaikan harga energi atau gangguan logistik, stabilitas bisa langsung goyah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Berlakukan Transformasi Budaya Kerja Nasional, Ini Poin-poinnya
Pemerintah Berlakukan Transformasi Budaya Kerja Nasional, Ini Poin-poinnya
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, Teheran Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, Teheran Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
Tren
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau