"Lalu kami akan pergi," katanya.
Baca juga: Demo No Kings di AS, Bisakah Akhiri Konflik Timur Tengah dan Tumbangkan Trump?
Rencana Trump untuk menyelesaikan konflik dalam hitungan minggu diragukan oleh pakar kebijakan luar negeri Iran.
Tirta Parsi dari Quincy Institute dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera menilai rencana penarikan diri AS tersebut tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Kecil kemungkinan perang tersebut akan berakhir dengan cepat.
Ia menyebut Iran bakal terus mempertahankan pengaruhnya di Selat Hormuz. Kemudian terus melakukan tekanan di wilayah tersebut.
"Saya rasa tidak semudah itu bagi Trump untuk begitu saja keluar (dari konflik)," beber Parsi, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Selasa waktu setempat.
Baca juga: Trump Akhirnya Akui Incar Minyak Iran, Seperti Apa Skenario Operasinya?
Menurutnya, Trump berupaya membangun narasi bahwa operasinya berjalan sukses.
Hal tersebut terlihat dari pernyataan Trump yang menyebut pembukaan Selat Hormuz bukanlah bagian dari tujuan AS dalam perang melawan Iran.
Kendati demikian, Parsi menilai Trump tetap menunjukkan kekesalannya terhadap pihak Eropa yang enggan membantunya membuka kembali jalur tersebut.
“AS memiliki angkatan laut terbesar dan terkuat di dunia. Jika AS saja tidak bisa melakukannya, apa bedanya dengan keterlibatan Perancis dan negara Eropa lainnya?” tutur Parsi.
Parsi juga menyoroti kritik Trump kepada negara Eropa yang terkesan tidak mau terlibat dalam situasi tersebut.
“Melihat orang-orang Eropa tidak bersedia menjadi bagian dari kekacauan ini, ia mengecam mereka dengan mengatakan, ‘Dengar, AS tidak butuh Selat Hormuz, kalianlah yang dirugikan oleh hal ini, dan akibatnya, kalian harus menanganinya sendiri," lanjutnya.
Selain itu, Parsi juga melihat adanya "Israelisasi" dari tujuan Trump seiring berjalannya operasi tersebut.
"Fakta bahwa ia mengatakan ingin mengirim rakyat Iran kembali ke 'Zaman Batu' pada dasarnya adalah bentuk 'Israelisasi' dari tujuan perang Amerika," kata Parsi.
Baca juga: Trump Mau Ambil Minyak Iran lewat Pulau Kharg, Apa Risikonya?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang