Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Amankah Ganti Merek BBM Beda SPBU? Ini Penjelasan Ahli

Kompas.com, 10 Maret 2026, 13:21 WIB
Muh. Ilham Nurul Karim,
Azwar Ferdian

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagian pengendara kerap mengisi bahan bakar kendaraan di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dengan merek berbeda.

Hal ini biasanya terjadi karena faktor lokasi, ketersediaan BBM, atau sekadar menyesuaikan harga.

Kondisi tersebut mungkin menimbulkan tanya apakah sering berganti merek bahan bakar dapat berdampak pada performa maupun kesehatan mesin dalam jangka panjang.

Baca juga: Sebelum Mudik Pastikan Tekanan Ban Mobil Sudah Ideal

Menurut Ahli Konservasi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri, secara umum penggunaan BBM dengan merek berbeda tidak menjadi masalah selama spesifikasi bahan bakarnya sama dan memenuhi standar yang berlaku di Indonesia.

"Selama bahan bakar tersebut memenuhi spesifikasi yang ditetapkan pemerintah, misalnya sesuai standar dari Dirjen Migas, maka secara prinsip aman digunakan meskipun mereknya berbeda-beda," kata Tri kepada Kompas.com, Sabtu (7/3/2026).

Tri menjelaskan, setiap jenis BBM yang dijual di Indonesia memiliki standar kualitas tertentu, seperti angka Research Octane Number (RON) yang harus dipenuhi.

Artinya, selama pengendara menggunakan BBM dengan RON yang sama sesuai rekomendasi pabrikan kendaraan, maka performa mesin pada dasarnya tidak akan mengalami masalah berarti.

SPBU Pertamina 34.17146 Juanda di Jalan Insinyur H. Juanda, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, masih belum beroperasi hingga Rabu (4/3/2026).KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA SPBU Pertamina 34.17146 Juanda di Jalan Insinyur H. Juanda, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, masih belum beroperasi hingga Rabu (4/3/2026).

Ia menambahkan, dalam beberapa kondisi bahkan sumber bahan bakar yang digunakan oleh SPBU berbeda merek bisa saja berasal dari suplai yang sama.

Perbedaannya biasanya terletak pada paket aditif yang ditambahkan oleh masing-masing perusahaan.

"Aditif ini umumnya berfungsi untuk menjaga kebersihan komponen mesin, seperti ruang bakar atau katup masuk. Namun, aditif tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap performa utama mesin," ujar Tri.

Baca juga: Konflik Timur Tengah: Industri Otomotif Beralih ke Kendaraan Listrik

Meski demikian, pengendara yang cukup sensitif terhadap performa kendaraan mungkin merasakan perbedaan kecil saat menggunakan BBM dari merek tertentu.

Perbedaan tersebut bisa berupa tarikan mesin yang terasa sedikit berbeda atau tingkat konsumsi bahan bakar yang berubah.

Namun secara umum, Tri menegaskan bahwa mengganti merek BBM tidak akan merusak mesin selama kualitas bahan bakar sesuai standar dan angka oktannya tetap mengikuti rekomendasi pabrikan kendaraan.

Karena itu, pemilik kendaraan disarankan tetap memprioritaskan penggunaan BBM dengan nilai RON yang sesuai dengan spesifikasi mesin.

Dengan begitu, kinerja mesin tetap optimal sekaligus menjaga efisiensi bahan bakar dan emisi kendaraan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau