Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Itu Detonasi? Dampak Fatal jika Salah Pilih Oktan BBM

Kompas.com, 28 Maret 2026, 16:22 WIB
Muh. Ilham Nurul Karim,
Stanly Ravel

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Masih banyak pengguna kendaraan yang belum memahami pentingnya memilih bahan bakar sesuai angka oktan atau Research Octane Number (RON).

Penggunaan BBM dengan oktan yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan bisa memicu masalah serius pada mesin, salah satunya detonasi atau yang sering disebut ngelitik.

Menurut Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga pakar bahan bakar dan pelumas, detonasi merupakan kondisi ketika campuran udara dan bahan bakar terbakar dengan sendirinya, tanpa menunggu percikan bunga api dari busi.

"Detonasi adalah pembakaran yang terjadi tidak sesuai timing, campuran udara dan bahan bakar bisa terbakar sendiri sebelum dipicu busi," kata Tri kepada Kompas.com, belum lama ini.

Baca juga: Mesin Hybrid Toyota Bisa Dinyalakan Manual, Begini Caranya

Tri menjelaskan, fenomena ini biasanya terjadi ketika bahan bakar yang digunakan memiliki ketahanan terhadap tekanan dan suhu yang lebih rendah, atau dalam hal ini angka oktannya tidak sesuai dengan kebutuhan mesin.

Akibatnya, pembakaran terjadi tidak terkontrol dan menimbulkan tekanan tinggi secara tiba-tiba di dalam ruang bakar.

Dalam jangka pendek, gejala detonasi bisa dikenali dari munculnya suara ngelitik pada mesin, terutama saat berakselerasi atau ketika kendaraan dibebani. Namun, jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya bisa jauh lebih serius.

Warga di Teluk Alulu, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kembali mengeluhkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis Pertalite dan Pertamax. Kondisi ini membuat harga eceran kerap melambung tinggi, bahkan sempat mencapai Rp20.000 per liter.Dok. Patra niaga kalimantan Warga di Teluk Alulu, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kembali mengeluhkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis Pertalite dan Pertamax. Kondisi ini membuat harga eceran kerap melambung tinggi, bahkan sempat mencapai Rp20.000 per liter.

"Kalau terjadi berulang dalam jangka panjang, temperatur di dalam ruang bakar bisa sangat tinggi pada titik tertentu, dan ini berisiko merusak komponen mesin," ujar Tri.

Ia menambahkan, salah satu komponen yang paling rentan terdampak adalah piston. Sebab, piston umumnya terbuat dari material aluminium yang memiliki titik leleh lebih rendah dibandingkan komponen lain di dalam mesin.

Ketika detonasi terjadi terus-menerus, panas berlebih dapat menyebabkan permukaan piston mengalami kerusakan, bahkan berpotensi meleleh dalam kondisi ekstrem.

Hal ini tentu akan berujung pada penurunan performa hingga kerusakan mesin yang membutuhkan biaya perbaikan tidak sedikit.

Baca juga: Marc Marquez Akui Masih Lemah di Lap Awal dengan Ducati GP26

Pertamax Green, bensin dengan campuran etanol 5 persenDOKUMENTASI PERTAMINA Pertamax Green, bensin dengan campuran etanol 5 persen

Selain itu, detonasi juga berdampak pada efisiensi dan emisi kendaraan. Pembakaran yang tidak sempurna membuat tenaga mesin menurun, sehingga pengemudi cenderung menekan pedal gas lebih dalam untuk mendapatkan performa yang diinginkan.

Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan konsumsi bahan bakar dan memperbesar emisi gas buang. Artinya, penggunaan BBM yang tidak sesuai bukan hanya merugikan dari sisi mesin, tetapi juga berdampak pada lingkungan.

Tri pun mengingatkan agar pengguna kendaraan selalu mengikuti rekomendasi pabrikan terkait jenis bahan bakar yang digunakan. Sebab, setiap mesin sudah dirancang dengan spesifikasi tertentu, termasuk kebutuhan angka oktan agar pembakaran bisa berlangsung optimal.

Baca juga: Arus Balik Lebaran: Lalu Lintas Tol Cipali Padat Capai 2.800 Kendaraan per Jam

Ilustrasi pengisian BBM Pertamax Turbo di SPBU Pertamina. Harga Pertamax Turbo terbaru. Harga Pertamax September 2025. Harga Pertamax Turbo hari ini. Harga Pertamax Turbo 2025.Dok. Pertamina Ilustrasi pengisian BBM Pertamax Turbo di SPBU Pertamina. Harga Pertamax Turbo terbaru. Harga Pertamax September 2025. Harga Pertamax Turbo hari ini. Harga Pertamax Turbo 2025.

"Yang paling tahu kebutuhan mesin itu adalah pabrikan. Jadi sebaiknya gunakan bahan bakar sesuai rekomendasi agar performa, efisiensi, dan umur mesin tetap terjaga," kata Tri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau