Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masyarakat Jangan Dibebani Kenaikan Tarif Angkutan Umum

Kompas.com, 31 Maret 2026, 19:12 WIB
Dio Dananjaya,
Stanly Ravel

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali memantik kekhawatiran publik, terutama terkait potensi naiknya tarif angkutan umum.

Namun, bagi pengamat transportasi Djoko Setijowarno, isu ini justru harus menjadi titik balik untuk membenahi sistem transportasi massal di Indonesia.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai, menaikkan tarif angkutan umum bukanlah solusi yang berpihak pada masyarakat.

Baca juga: Ini Cara Menilai Spesifikasi Motor Listrik yang Tahan Lama

Ilustrasi antrean di SPBU PertaminaKOMPAS.com/DIO DANANJAYA Ilustrasi antrean di SPBU Pertamina

Bahkan, ia secara tegas menyebut opsi tersebut berisiko memicu reaksi keras.

“Kalau (tarif angkutan umum) naik, ngamuk orang. Harusnya digratiskan bila perlu,” kata Djoko, kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026).

Menurutnya, persoalan transportasi di Indonesia jauh lebih kompleks daripada sekadar penyesuaian tarif. Di banyak kota, keberadaan angkutan umum konvensional seperti angkot justru semakin tergerus, bahkan hilang.

Baca juga: Bos Baru Honda Prospect Motor, Emban Tugas Berat

Ilustrasi angkutan DAMRI Perintis di kawasan 3 TPDok. Djoko Setijowarno Ilustrasi angkutan DAMRI Perintis di kawasan 3 TP

Kondisi ini diperparah dengan menjamurnya ojek online yang, menurut Djoko, tidak semestinya dijadikan tulang punggung angkutan publik.

“Banyak kota-kota enggak punya angkutan umum. Ya salah satunya juga karena ojol. Ojol kok dijadikan angkutan,” ujarnya.

Dalam konteks ini, Djoko melihat kenaikan harga BBM seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk berbenah secara menyeluruh, bukan sekadar membebankan biaya tambahan kepada masyarakat melalui kenaikan tarif.

Baca juga: Apakah BBM Bisa Kedaluwarsa? Ini Penjelasan Ahli

Ilustrasi Jaklingko.KOMPAS.com/Febryan Kevin Ilustrasi Jaklingko.

Ia juga menyoroti kebijakan pemangkasan anggaran di berbagai kementerian, termasuk pada sektor keselamatan transportasi di Kementerian Perhubungan.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan kebijakan yang keliru dan berpotensi menimbulkan dampak serius di lapangan.

Djoko mengingatkan, pemotongan anggaran keselamatan bukan sekadar efisiensi administratif, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan publik. Ia bahkan menyebutnya sebagai “bom waktu” yang bisa berujung fatal di jalan raya.

“Sering kali, di balik deretan angka anggaran yang dipangkas demi efisiensi, terdapat nyawa manusia yang sedang dipertaruhkan,” ujarnya.

Baca juga: Bos Ducati Akui Aprilia Makin Kencang di MotoGP

Ilustrasi porter di terminal Kampung RambutanDok. Beritajakarta Ilustrasi porter di terminal Kampung Rambutan

Baginya, keselamatan transportasi tidak boleh dipandang sebagai beban biaya, melainkan investasi jangka panjang bagi negara. Jika aspek ini diabaikan, maka setiap perjalanan masyarakat akan selalu dibayangi risiko yang tidak terukur.

Karena itu, Djoko menegaskan, anggaran keselamatan transportasi harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Memangkasnya sama saja dengan mempertaruhkan nyawa masyarakat setiap hari.

Dalam pandangannya, rencana kenaikan harga BBM seharusnya tidak berhenti pada penyesuaian harga energi semata.

Melainkan menjadi titik awal reformasi besar-besaran pada sistem transportasi massal, agar lebih aman, terjangkau, dan benar-benar melayani kebutuhan publik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau