PADANG, KOMPAS.com — Museum Adityawarman menjadi magnet bagi Generasi Z (Gen Z) dan wisatawan mancanegara (WNA) di tengah beragam pilihan destinasi wisata alam di Kota Padang, Sumatera Barat, pada masa libur Lebaran 2026.
Museum yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat Minangkabau ini mencatatkan tren kunjungan positif sejak dibuka kembali pada Minggu (22/3/2026).
Baca juga: Jadi Fokus Revitalisasi, Fadli Zon: Keraton Solo Paku Bumi Kebudayaan Jawa
Pemandu Museum Adityawarman, Mega Liberni, mengungkapkan, volume kunjungan tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Menariknya, profil pengunjung tidak hanya didominasi warga lokal, tetapi juga pelancong dari berbagai belahan dunia.
“Sejak hari pertama buka, ada pengunjung dari luar negeri seperti Malaysia, Republik Ceko, hingga Austria. Selain itu, banyak juga wisatawan dari luar Sumbar, seperti Jambi, Bengkulu, dan Jakarta,” ujar Mega saat ditemui di lokasi, Kamis (26/3/2026).
Mega memprediksi jumlah kunjungan akan terus melonjak hingga ribuan orang mengingat masa libur sekolah dan Lebaran 2026 yang masih cukup panjang.
Dengan harga tiket masuk yang terjangkau, yakni Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak, wisatawan dapat menikmati kekayaan budaya Minangkabau mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB.
Museum yang berdiri sejak 1977 ini menyimpan sebanyak 6.318 koleksi dengan 10 jenis koleksi utama yang terpajang artistik di dalam bangunan Rumah Gadang.
Pengunjung dapat mengeksplorasi berbagai pameran tematik, mulai dari perhiasan tradisional, koleksi keramik, pameran sejarah rendang, hingga manuskrip kuno yang terjaga dengan baik.
Bagi pengunjung muda seperti Rahel Chrisnawati Hutagaol (21), berkunjung ke Museum Adityawarman merupakan bentuk wisata edukasi yang menyegarkan.
Ia mengaku terkesan dengan pembaruan tata letak dan jenis pameran yang dilakukan pihak pengelola dalam beberapa tahun terakhir.
“Dulu empat tahun lalu ke sini, sekarang sudah banyak perubahan, terutama tata letak dan jenis pamerannya. Sekarang ada pameran perhiasan dan rendang, makanya saya inisiatif ajak keluarga ke sini lagi,” tutur Rahel.
Senada dengan Rahel, Rahmat Fauzan (21) yang juga berasal dari generasi yang sama, mengaku datang kembali ke museum untuk mengenal lebih dalam identitas kampung halamannya.
Jika sebelumnya ia hanya sekadar melihat-lihat, kini ia datang untuk benar-benar menambah wawasan sejarah Minangkabau.
“Sebelumnya hanya sekadar lihat-lihat, sekarang datang lagi untuk benar-benar menambah wawasan,” katanya.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana museum yang cukup hidup selama libur panjang ini.
Selain mengamati koleksi sejarah di dalam gedung, banyak keluarga yang memanfaatkan area rindang di pekarangan museum untuk bersantai, sementara anak-anak bermain di berbagai wahana yang telah tersedia di area terbuka hijau museum tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang