BAKAUHENI, KOMPAS.com — Momen arus mudik dan balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, tidak sepenuhnya membawa berkah bagi pedagang asongan.
Meski ribuan pemudik memadati area pelabuhan, para penjaja kopi keliling justru mengeluhkan penurunan pendapatan dibanding tahun sebelumnya.
“Aneh sebenarnya. Pemudik ramai, tapi penghasilan justru sepi. Jauh dibanding tahun lalu yang bisa dapat Rp 500.000 sehari. Sekarang cari Rp 100.000 saja susah,” ujar Erna (53), pedagang di dermaga 2, saat ditemui di area tunggu motor, Sabtu (28/3/2026).
Baca juga: Jelang Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Pemudik Padati Pelabuhan Bakauheni
Erna mengaku, selama masa angkutan Lebaran tahun ini, ia hanya mampu meraup pendapatan sekitar Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per hari.
Padahal, ia yang sudah 15 tahun berjualan di Bakauheni biasanya bisa menghabiskan lebih dari 10 termos air panas dalam sehari. Kini, satu termos pun sulit terjual habis.
Menurut Erna, penurunan omzet diduga akibat perubahan pola istirahat pemudik, khususnya pengendara motor.
“Mungkin pemudik sudah pada ngopi dan istirahat di pinggir jalan. Kan banyak warung dadakan yang buka di jalan lintas sekarang,” ujarnya.
Warung kopi dadakan tersebut juga kerap menyediakan layanan pembelian tiket kapal secara daring (Ferizy), sehingga pemudik tidak perlu menunggu lama di pelabuhan.
Baca juga: H+6 Lebaran, Pelabuhan Bakauheni Lengang dan Tak Ada Antrean Kendaraan
Keluhan serupa disampaikan Ana (24), pedagang kopi lainnya di area pelabuhan. Ia menilai momen Lebaran kali ini justru lebih sepi dibanding hari biasa.
“Kebanyakan yang beli itu sopir truk. Kalau sekarang pemudik motor jarang ada yang beli saat lagi mengantre masuk ke kapal,” kata Ana.
Ia menyebut, pembatasan operasional angkutan barang selama arus mudik dan balik turut memengaruhi jumlah pembeli.
Di tengah kondisi tersebut, para pedagang tetap bertahan berjualan. Erna bahkan masih harus membayar iuran bulanan sebesar Rp 85.000 kepada pengelola pelabuhan.
Meski dihadapkan pada kebisingan kendaraan dan terik matahari, para pedagang terus menawarkan dagangan mereka di antara antrean pemudik.
Mereka berharap tetap ada pembeli yang mampir untuk sekadar menikmati segelas kopi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang