Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemudik Ramai, Pedagang Kopi di Bakauheni Keluhkan Omzet Turun

Kompas.com, 28 Maret 2026, 10:36 WIB
Rasyid Ridho,
Reni Susanti

Tim Redaksi

BAKAUHENI, KOMPAS.com — Momen arus mudik dan balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, tidak sepenuhnya membawa berkah bagi pedagang asongan.

Meski ribuan pemudik memadati area pelabuhan, para penjaja kopi keliling justru mengeluhkan penurunan pendapatan dibanding tahun sebelumnya.

“Aneh sebenarnya. Pemudik ramai, tapi penghasilan justru sepi. Jauh dibanding tahun lalu yang bisa dapat Rp 500.000 sehari. Sekarang cari Rp 100.000 saja susah,” ujar Erna (53), pedagang di dermaga 2, saat ditemui di area tunggu motor, Sabtu (28/3/2026).

Baca juga: Jelang Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Pemudik Padati Pelabuhan Bakauheni

Erna mengaku, selama masa angkutan Lebaran tahun ini, ia hanya mampu meraup pendapatan sekitar Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per hari.

Padahal, ia yang sudah 15 tahun berjualan di Bakauheni biasanya bisa menghabiskan lebih dari 10 termos air panas dalam sehari. Kini, satu termos pun sulit terjual habis.

Perubahan Pola Pemudik

Menurut Erna, penurunan omzet diduga akibat perubahan pola istirahat pemudik, khususnya pengendara motor.

“Mungkin pemudik sudah pada ngopi dan istirahat di pinggir jalan. Kan banyak warung dadakan yang buka di jalan lintas sekarang,” ujarnya.

Warung kopi dadakan tersebut juga kerap menyediakan layanan pembelian tiket kapal secara daring (Ferizy), sehingga pemudik tidak perlu menunggu lama di pelabuhan.

Baca juga: H+6 Lebaran, Pelabuhan Bakauheni Lengang dan Tak Ada Antrean Kendaraan

Pelanggan Berkurang

Keluhan serupa disampaikan Ana (24), pedagang kopi lainnya di area pelabuhan. Ia menilai momen Lebaran kali ini justru lebih sepi dibanding hari biasa.

“Kebanyakan yang beli itu sopir truk. Kalau sekarang pemudik motor jarang ada yang beli saat lagi mengantre masuk ke kapal,” kata Ana.

Ia menyebut, pembatasan operasional angkutan barang selama arus mudik dan balik turut memengaruhi jumlah pembeli.

Di tengah kondisi tersebut, para pedagang tetap bertahan berjualan. Erna bahkan masih harus membayar iuran bulanan sebesar Rp 85.000 kepada pengelola pelabuhan.

Meski dihadapkan pada kebisingan kendaraan dan terik matahari, para pedagang terus menawarkan dagangan mereka di antara antrean pemudik.

Mereka berharap tetap ada pembeli yang mampir untuk sekadar menikmati segelas kopi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Dubes Iran untuk Indonesia Boroujerdi Puji Sosok Jokowi: Mantan Presiden yang Sukses Jalankan Pemerintahan
Dubes Iran untuk Indonesia Boroujerdi Puji Sosok Jokowi: Mantan Presiden yang Sukses Jalankan Pemerintahan
Regional
Dubes Iran Temui Jokowi di Solo, Ini Topik yang Dibahas
Dubes Iran Temui Jokowi di Solo, Ini Topik yang Dibahas
Regional
Aktivis Perempuan: Mediasi Kasus Kekerasan Seksual Unissula Langgar UU TPKS
Aktivis Perempuan: Mediasi Kasus Kekerasan Seksual Unissula Langgar UU TPKS
Regional
BKPSDM Nunukan Belum Putuskan Nasib Oknum PPPK Pemerkosa Balita dan ASN Satpol PP Pecandu Narkoba
BKPSDM Nunukan Belum Putuskan Nasib Oknum PPPK Pemerkosa Balita dan ASN Satpol PP Pecandu Narkoba
Regional
PT KAI Laporkan Warga Bandar Lampung yang Blokir Rel Kereta ke Polisi
PT KAI Laporkan Warga Bandar Lampung yang Blokir Rel Kereta ke Polisi
Regional
Grebeg Gethuk di Magelang Digelar April, Ini Rangkaian Acaranya
Grebeg Gethuk di Magelang Digelar April, Ini Rangkaian Acaranya
Regional
Mapolres Dogiyai Diserang Sekelompok Warga, Toko Bangunan Terimbas dan Terbakar
Mapolres Dogiyai Diserang Sekelompok Warga, Toko Bangunan Terimbas dan Terbakar
Regional
Selama Ramadhan, Dompet Dhuafa Salurkan 600 Paket Fidyah untuk Penyintas di Sumatera
Selama Ramadhan, Dompet Dhuafa Salurkan 600 Paket Fidyah untuk Penyintas di Sumatera
Regional
Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai
Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai
Regional
9 Jabatan Kepala Dinas Kosong di Lhokseumawe, Diisi Pelaksana Tugas
9 Jabatan Kepala Dinas Kosong di Lhokseumawe, Diisi Pelaksana Tugas
Regional
84.457 Kendaraan Lintasi Tol IKN Selama Libur Lebaran 2026
84.457 Kendaraan Lintasi Tol IKN Selama Libur Lebaran 2026
Regional
Tak Pilih Mobil Listrik, Pemkot Malang Andalkan WFH dan Sepeda Demi Hemat BBM
Tak Pilih Mobil Listrik, Pemkot Malang Andalkan WFH dan Sepeda Demi Hemat BBM
Regional
ASN WFH Setiap Jumat, Gubernur Sumsel: Saya Pelajari Dulu
ASN WFH Setiap Jumat, Gubernur Sumsel: Saya Pelajari Dulu
Regional
Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia di Solo, Jokowi: Saya Menyampaikan Banyak Hal
Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia di Solo, Jokowi: Saya Menyampaikan Banyak Hal
Regional
Sertu Ichwan asal Magelang Gugur di Lebanon, Megawati hingga Menteri Kirim Karangan Bunga
Sertu Ichwan asal Magelang Gugur di Lebanon, Megawati hingga Menteri Kirim Karangan Bunga
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Pemudik Ramai, Pedagang Kopi di Bakauheni Keluhkan Omzet Turun
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat