Editor
BANYUWANGI, KOMPAS.com - Puncak arus balik Lebaran 2026 telah dinyatakan usai pada Minggu (29/3/2026). Namun, bagi ribuan pengemudi yang hendak menyeberang ke Pulau Bali, "perjuangan" justru baru dimulai.
Sejak Sabtu (28/3/2026) hingga Selasa (31/3/2026), jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, disergap kemacetan parah. Puncaknya terjadi pada Selasa pagi, di mana antrean kendaraan mengular hingga 15 kilometer dari pintu masuk pelabuhan.
Kondisi ini jauh lebih buruk dibandingkan Minggu (29/3/2026) yang mencatat kemacetan sepanjang 5 kilometer.
Baca juga: Ketapang-Gilimanuk Dikepung Kemacetan, Gapasdap Minta Penambahan Dermaga
Anang Teguh, salah satu pengendara mobil pribadi asal Surabaya, merasakan langsung getirnya terjebak di jalur horor tersebut. Perjalanannya dari Surabaya yang semula lancar, mendadak terkunci saat memasuki kawasan Watudodol, Banyuwangi, pada Sabtu malam sekitar pukul 23.30 WIB.
"Macetnya parah. Sekitar sejam, kendaraan saya hanya bergerak beberapa ratus meter saja," keluh Anang kepada wartawan, Senin (30/3/2026).
Saking parahnya kondisi di lapangan, Anang terpaksa mengevakuasi ibu mertuanya menggunakan sepeda motor agar tidak terus terjebak di dalam mobil yang diam tak bergerak.
Mengapa kemacetan justru menggila setelah puncak arus balik? Pihak PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menunjuk berakhirnya kebijakan pembatasan kendaraan logistik sebagai pemicu utama.
Sebelumnya, berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB), kendaraan sumbu tiga ke atas dilarang melintas di jalur Ketapang-Gilimanuk pada 13–29 Maret 2026. Begitu keran pembatasan dibuka pada Senin (30/3/2026), ribuan truk logistik serentak menyerbu pelabuhan.
“Pasca berakhirnya pembatasan kendaraan logistik, terjadi peningkatan signifikan truk yang masuk ke Pelabuhan Ketapang. Kondisi ini berdampak pada antrean kendaraan,” ujar Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano.
Baca juga: Puncak Arus Balik Ketapang-Gilimanuk Lewat, Antrean Kendaraan Masih Tersisa 12 Km
Data Posko Ketapang (H+8) mencatat:
Untuk mengurai benang kusut ini, ASDP mengoperasikan 36 kapal, termasuk 6 kapal tambahan berkapasitas besar seperti Portlink VII dan Dharma Rucitra. Skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) juga diterapkan di Dermaga 4 guna mempercepat port time.
Selain itu, buffer zone di kawasan Bulusan dioptimalkan sebagai kantong parkir sekaligus area verifikasi tiket digital. Hingga Selasa pagi, tercatat 380 truk besar masih tertahan di zona penyangga tersebut.
Namun, langkah-langkah ini dianggap belum menyentuh akar masalah oleh Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan (Gapasdap). Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo, memperingatkan adanya risiko "bom waktu".
Baca juga: Arus Balik Lebaran 2026: ASDP Percepat Layanan Ketapang-Gilimanuk
"Akar persoalan kemacetan bukan pada jumlah kapal, melainkan pada keterbatasan dermaga. Jika pembangunan dermaga tidak segera dilakukan, maka hanya tinggal menunggu bom waktu kemacetan setiap musim liburan," tegas Khoiri.
Menurutnya, dari 56 kapal yang tersedia, hanya 28 unit yang bisa beroperasi harian karena keterbatasan dermaga. Memaksakan lebih banyak kapal justru akan membuat waktu tunggu sandar semakin lama.
Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), Slamet Barokah, turut menyuarakan kerugian yang dialami para sopir. Selain BBM yang terbuang percuma karena mesin harus terus menyala, risiko kerusakan barang logistik pun meningkat.
"Warga yang tidak terjebak macet juga tetap menanggung kerugian karena kemacetan berdampak pada harga kebutuhan yang bisa naik akibat logistik terhambat," kata Slamet.
Kini, harapan tertumpu pada pemerintah untuk segera merealisasikan penambahan dermaga di lintas penyeberangan Jawa-Bali, terutama sebelum Tol Probowangi (Probolinggo-Banyuwangi) tersambung sepenuhnya yang diprediksi akan semakin meningkatkan volume kendaraan secara drastis.
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul Ketapang-Gilimanuk Dikepung Kemacetan, Gapasdap Minta Penambahan Dermaga dan Tribunjatim-timur.com dengan judul Sopir Logistik Soroti Kemacetan Ketapang–Gilimanuk, Warga Dinilai Paling Dirugikan
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang