Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pasca-Lebaran 2026, Mengapa Pelabuhan Ketapang Masih Macet hingga 15 Kilometer?

Kompas.com, 1 April 2026, 06:00 WIB
Rachmawati

Editor

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Puncak arus balik Lebaran 2026 telah dinyatakan usai pada Minggu (29/3/2026). Namun, bagi ribuan pengemudi yang hendak menyeberang ke Pulau Bali, "perjuangan" justru baru dimulai.

Sejak Sabtu (28/3/2026) hingga Selasa (31/3/2026), jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, disergap kemacetan parah. Puncaknya terjadi pada Selasa pagi, di mana antrean kendaraan mengular hingga 15 kilometer dari pintu masuk pelabuhan.

Kondisi ini jauh lebih buruk dibandingkan Minggu (29/3/2026) yang mencatat kemacetan sepanjang 5 kilometer.

Baca juga: Ketapang-Gilimanuk Dikepung Kemacetan, Gapasdap Minta Penambahan Dermaga

"Macetnya Parah, Sejam Hanya Bergerak Ratusan Meter"

Anang Teguh, salah satu pengendara mobil pribadi asal Surabaya, merasakan langsung getirnya terjebak di jalur horor tersebut. Perjalanannya dari Surabaya yang semula lancar, mendadak terkunci saat memasuki kawasan Watudodol, Banyuwangi, pada Sabtu malam sekitar pukul 23.30 WIB.

"Macetnya parah. Sekitar sejam, kendaraan saya hanya bergerak beberapa ratus meter saja," keluh Anang kepada wartawan, Senin (30/3/2026).

Saking parahnya kondisi di lapangan, Anang terpaksa mengevakuasi ibu mertuanya menggunakan sepeda motor agar tidak terus terjebak di dalam mobil yang diam tak bergerak.

Akar Masalah: "Serbuan" Truk Logistik

Mengapa kemacetan justru menggila setelah puncak arus balik? Pihak PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menunjuk berakhirnya kebijakan pembatasan kendaraan logistik sebagai pemicu utama.

Sebelumnya, berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB), kendaraan sumbu tiga ke atas dilarang melintas di jalur Ketapang-Gilimanuk pada 13–29 Maret 2026. Begitu keran pembatasan dibuka pada Senin (30/3/2026), ribuan truk logistik serentak menyerbu pelabuhan.

“Pasca berakhirnya pembatasan kendaraan logistik, terjadi peningkatan signifikan truk yang masuk ke Pelabuhan Ketapang. Kondisi ini berdampak pada antrean kendaraan,” ujar Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano.

Baca juga: Puncak Arus Balik Ketapang-Gilimanuk Lewat, Antrean Kendaraan Masih Tersisa 12 Km

Data Posko Ketapang (H+8) mencatat:

  • 56.197 penumpang menyeberang ke Bali (naik 5,2%).
  • 17.608 unit kendaraan (naik 2,1%).
  • 624.717 penumpang secara kumulatif (H-10 s/d H+8).
  • 171.921 kendaraan telah terlayani dari total 183.810 reservasi di aplikasi Ferizy.

Solusi Taktis vs "Bom Waktu" Dermaga

Untuk mengurai benang kusut ini, ASDP mengoperasikan 36 kapal, termasuk 6 kapal tambahan berkapasitas besar seperti Portlink VII dan Dharma Rucitra. Skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) juga diterapkan di Dermaga 4 guna mempercepat port time.

Selain itu, buffer zone di kawasan Bulusan dioptimalkan sebagai kantong parkir sekaligus area verifikasi tiket digital. Hingga Selasa pagi, tercatat 380 truk besar masih tertahan di zona penyangga tersebut.

Namun, langkah-langkah ini dianggap belum menyentuh akar masalah oleh Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan (Gapasdap). Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo, memperingatkan adanya risiko "bom waktu".

Baca juga: Arus Balik Lebaran 2026: ASDP Percepat Layanan Ketapang-Gilimanuk

"Akar persoalan kemacetan bukan pada jumlah kapal, melainkan pada keterbatasan dermaga. Jika pembangunan dermaga tidak segera dilakukan, maka hanya tinggal menunggu bom waktu kemacetan setiap musim liburan," tegas Khoiri.

Menurutnya, dari 56 kapal yang tersedia, hanya 28 unit yang bisa beroperasi harian karena keterbatasan dermaga. Memaksakan lebih banyak kapal justru akan membuat waktu tunggu sandar semakin lama.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), Slamet Barokah, turut menyuarakan kerugian yang dialami para sopir. Selain BBM yang terbuang percuma karena mesin harus terus menyala, risiko kerusakan barang logistik pun meningkat.

"Warga yang tidak terjebak macet juga tetap menanggung kerugian karena kemacetan berdampak pada harga kebutuhan yang bisa naik akibat logistik terhambat," kata Slamet.

Kini, harapan tertumpu pada pemerintah untuk segera merealisasikan penambahan dermaga di lintas penyeberangan Jawa-Bali, terutama sebelum Tol Probowangi (Probolinggo-Banyuwangi) tersambung sepenuhnya yang diprediksi akan semakin meningkatkan volume kendaraan secara drastis.

Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul Ketapang-Gilimanuk Dikepung Kemacetan, Gapasdap Minta Penambahan Dermaga dan Tribunjatim-timur.com dengan judul Sopir Logistik Soroti Kemacetan Ketapang–Gilimanuk, Warga Dinilai Paling Dirugikan

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
Surabaya
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
Surabaya
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Surabaya
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Surabaya
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Surabaya
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Surabaya
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
Surabaya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Surabaya
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Surabaya
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Surabaya
Teror Buaya di Sungai Tunjung Bangkalan dan Misteri Hilangnya Ibu Anak di Lokasi yang Sama
Teror Buaya di Sungai Tunjung Bangkalan dan Misteri Hilangnya Ibu Anak di Lokasi yang Sama
Surabaya
Beda Petis Madura dan Petis Surabaya, dari Bahan Baku, Tekstur, hingga Sejarahnya
Beda Petis Madura dan Petis Surabaya, dari Bahan Baku, Tekstur, hingga Sejarahnya
Surabaya
Tabrak Truk Parkir, Ibu dan Balita di Jombang Tewas
Tabrak Truk Parkir, Ibu dan Balita di Jombang Tewas
Surabaya
7 ASN Kota Pasuruan Bolos Hari Pertama Kerja, Ancaman Sanksi Menanti
7 ASN Kota Pasuruan Bolos Hari Pertama Kerja, Ancaman Sanksi Menanti
Surabaya
Hemat BBM, ASN Pamekasan Diminta Bersepeda, Model WFH Masih Dibahas
Hemat BBM, ASN Pamekasan Diminta Bersepeda, Model WFH Masih Dibahas
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau