Krisis RAM Global Mulai Ganggu Industri Game, Bisa Bikin Berubah Total

Kompas.com, Diperbarui 18/03/2026, 06:37 WIB
Bill Clinten,
Yudha Pratomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Kelangkaan memori komputer (RAM) yang terjadi secara global menjadi salah satu topik utama yang dibahas pengembang (developer) game dalam acara Game Developers Conference 2026 (GDC 2026).

Hal ini terungkap dari laporan media game Polygon, yang ikut serta dalam diskusi tersebut. Dikatakan bahwa topik kelangkaan RAM ini hampir selalu muncul dalam percakapan di antara pengembang game yang hadir di GDC tahun ini.

“Jika Anda tidak memulai pembicaraan tentang hal ini, orang lain yang akan melakukannya lebih dulu,” kata jurnalis Polygon, Giovanni Colantonio dalam laporannya.

Menurut laporan, sejumlah pengembang menilai krisis RAM ini berpotensi mengubah cara pengembangan game di industri game.

Hal ini terlihat dari banyaknya diskusi mengenai optimasi game dalam berbagai panel di GDC 2026. Optimasi tersebut bertujuan agar game buatan developer tetap dapat berjalan di PC dengan kapasitas RAM yang lebih terbatas.

Baca juga: Krisis Memori Akibat AI, HP Akui 35 Persen Biaya PC Kini Habis untuk RAM

Salah satu studio yang telah melakukan langkah ini adalah TT Games. Pada Februari lalu, mereka menurunkan rekomendasi kebutuhan RAM untuk memainkan game Lego Batman: Legacy of the Dark Knight dari sebelumnya 32 GB menjadi 16 GB.

Langkah ini dilakukan agar game bisa dimainkan oleh lebih banyak pengguna PC, terutama ketika banyak gamer diperkirakan tidak akan melakukan upgrade RAM dalam waktu dekat.

Game akan diselipi banyak loading screen

Selain optimasi, beberapa pengembang yang hadir di GDC 2026 juga memprediksi bahwa kelangkaan RAM dapat membuat game di masa depan memiliki lebih banyak layar tunggu (loading screen).

Mekanisme ini dapat membuat penggunaan RAM lebih efisien karena game tidak perlu memuat seluruh aset visual sekaligus ke dalam memori. Sebaliknya, data dimuat secara bertahap ketika pemain berpindah area permainan.

Masih ke soal visual game, sejumlah pengembang juga menilai krisis RAM ini bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi arah industri game yang selama ini terlalu fokus mengejar grafis kelas atas.

Berdasarkan beberapa panel diskusi di GDC 2026, sejumlah pengembang berpendapat bahwa upaya menghadirkan visual yang semakin realistis mungkin tidak selalu berkelanjutan jika kebutuhan perangkat keras terus meningkat.

Bisa berdampak pada konsol generasi berikutnya

Ilustrasi logo Project Helix.X.com/Asha_shar Ilustrasi logo Project Helix.

Di luar pengembangan game, krisis memori ini juga memunculkan spekulasi tentang masa depan konsol game generasi berikutnya.

Dalam sejumlah perbincangan di kalangan pengembang yang hadir di GDC, beredar perkiraan bahwa harga konsol generasi berikutnya berpotensi lebih mahal dibandingkan perangkat yang ada saat ini.

Baca juga: Harga RAM DDR5 Kini Sentuh Rp 270.000-an Per GB

Sebagian pengembang bahkan memperkirakan harga konsol baru bisa menembus sekitar 1.000 dollar AS (sekitar Rp 15 juta–Rp 17 juta), tergantung pada perkembangan krisis RAM dalam beberapa tahun ke depan.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau