KOMPAS.com – Kelangkaan memori komputer (RAM) yang terjadi secara global menjadi salah satu topik utama yang dibahas pengembang (developer) game dalam acara Game Developers Conference 2026 (GDC 2026).
Hal ini terungkap dari laporan media game Polygon, yang ikut serta dalam diskusi tersebut. Dikatakan bahwa topik kelangkaan RAM ini hampir selalu muncul dalam percakapan di antara pengembang game yang hadir di GDC tahun ini.
“Jika Anda tidak memulai pembicaraan tentang hal ini, orang lain yang akan melakukannya lebih dulu,” kata jurnalis Polygon, Giovanni Colantonio dalam laporannya.
Menurut laporan, sejumlah pengembang menilai krisis RAM ini berpotensi mengubah cara pengembangan game di industri game.
Hal ini terlihat dari banyaknya diskusi mengenai optimasi game dalam berbagai panel di GDC 2026. Optimasi tersebut bertujuan agar game buatan developer tetap dapat berjalan di PC dengan kapasitas RAM yang lebih terbatas.
Baca juga: Krisis Memori Akibat AI, HP Akui 35 Persen Biaya PC Kini Habis untuk RAM
Salah satu studio yang telah melakukan langkah ini adalah TT Games. Pada Februari lalu, mereka menurunkan rekomendasi kebutuhan RAM untuk memainkan game Lego Batman: Legacy of the Dark Knight dari sebelumnya 32 GB menjadi 16 GB.
Langkah ini dilakukan agar game bisa dimainkan oleh lebih banyak pengguna PC, terutama ketika banyak gamer diperkirakan tidak akan melakukan upgrade RAM dalam waktu dekat.
Selain optimasi, beberapa pengembang yang hadir di GDC 2026 juga memprediksi bahwa kelangkaan RAM dapat membuat game di masa depan memiliki lebih banyak layar tunggu (loading screen).
Mekanisme ini dapat membuat penggunaan RAM lebih efisien karena game tidak perlu memuat seluruh aset visual sekaligus ke dalam memori. Sebaliknya, data dimuat secara bertahap ketika pemain berpindah area permainan.
Masih ke soal visual game, sejumlah pengembang juga menilai krisis RAM ini bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi arah industri game yang selama ini terlalu fokus mengejar grafis kelas atas.
Berdasarkan beberapa panel diskusi di GDC 2026, sejumlah pengembang berpendapat bahwa upaya menghadirkan visual yang semakin realistis mungkin tidak selalu berkelanjutan jika kebutuhan perangkat keras terus meningkat.
Ilustrasi logo Project Helix.Di luar pengembangan game, krisis memori ini juga memunculkan spekulasi tentang masa depan konsol game generasi berikutnya.
Dalam sejumlah perbincangan di kalangan pengembang yang hadir di GDC, beredar perkiraan bahwa harga konsol generasi berikutnya berpotensi lebih mahal dibandingkan perangkat yang ada saat ini.
Baca juga: Harga RAM DDR5 Kini Sentuh Rp 270.000-an Per GB
Sebagian pengembang bahkan memperkirakan harga konsol baru bisa menembus sekitar 1.000 dollar AS (sekitar Rp 15 juta–Rp 17 juta), tergantung pada perkembangan krisis RAM dalam beberapa tahun ke depan.