Penulis
Penulis: Julian Ryall/DW Indonesia
KOMPAS.com - Landasan udara yang dulu dibangun di pulau-pulau terpencil Pasifik untuk menyerang Jepang pada fase akhir Perang Dunia II kini mulai diperbaiki kembali.
Langkah ini dilakukan secara bertahap, seiring Amerika Serikat (AS) memperkuat pertahanannya menghadapi meningkatnya tekanan dari China di kawasan.
Kapal-kapal China kerap menguji klaim maritim Korea Selatan dan Jepang di Pasifik bagian utara.
Baca juga: 5 Keuntungan Sulap Jalan Tol Jadi Landasan Darurat Jet Tempur
Sementara di bagian selatan, Beijing rutin menggelar latihan militer berskala besar di sekitar Taiwan, yang dianggapnya sebagai wilayah yang suatu saat akan kembali ke bawah kendalinya.
Beijing juga mengklaim sebagian besar Laut China Selatan sebagai wilayahnya, meskipun klaim tersebut telah ditolak oleh tribunal internasional pada 2016.
"China jelas menjadi kekhawatiran utama di kawasan ini dan langkah ini tampaknya merupakan respons terhadap upaya China memperluas kapasitas militernya sendiri," kata Dan Pinkston, profesor hubungan internasional di kampus Seoul Troy University sekaligus mantan perwira Angkatan Udara AS, kepada DW.
"Mereka berupaya menembus keluar dari rantai pulau pertama dan kedua untuk mendapatkan akses bebas ke Pasifik, dan pengaktifan kembali landasan udara ini bisa dibaca sebagai persiapan jika ketegangan meningkat ke tahap berikutnya," lanjut Pinkston.
Baca juga: India Jadikan Jalan Tol Landasan Darurat Jet Tempur, Dilakukan Langsung PM Modi
Detail pekerjaan di pangkalan era perang di Tinian dan Peleliu masih minim dipublikasikan.
Namun, analis menilai proyek ini bertujuan memberi opsi tambahan bagi Angkatan Udara AS, sehingga tidak hanya bergantung pada pangkalan utama seperti Andersen di Guam atau Kadena di Okinawa, Jepang.
Sejak 2023, insinyur AS memperbarui empat landasan pacu sepanjang 2.400 meter di North Field, Pulau Tinian, yang pertama kali dibangun sekitar 80 tahun lalu.
Dari lokasi inilah pesawat pengebom B-29 Superfortress Enola Gay lepas landas untuk menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima pada 6 Agustus 1945.
Tiga hari kemudian, pesawat B-29 lainnya juga lepas landas dari landasan yang kini masuk wilayah Kepulauan Mariana Utara untuk menjatuhkan bom kedua di Nagasaki, yang memaksa Jepang menyerah.
Baca juga: Media Asing Ramai Ulas Jalan Tol RI Akan Jadi Landasan Jet Tempur
Pangkalan ini dulu dikenal sebagai yang tersibuk di dunia, namun ditinggalkan pada 1947 dan sebagian besar kembali tertutup hutan hingga 2003, ketika satu landasan dibersihkan untuk latihan. Pembersihan dalam skala lebih besar baru dimulai lagi pada 2023.
Insinyur juga bekerja di Peleliu, salah satu pulau paling selatan di kepulauan Palau dan lokasi pertempuran sengit pada masa perang.